Saat “Batu-batu Purba” Dipamerkan di Kebumen, Simpan Jejak Bumi Jutaan Tahun

Kebumen, Saat “Batu-batu Purba” Dipamerkan di Kebumen, Simpan Jejak Bumi Jutaan Tahun

Deretan batu alam berukuran kecil hingga sedang tersusun rapi di dalam ruang pamer GOR SMK Taman Karya Madya (TKM) Pertambangan, Kebumen.

Sekilas tampak seperti batu biasa. Namun, bagi para pecinta suiseki, setiap lekuk, warna, dan pola pada batu-batu itu menyimpan cerita panjang tentang perjalanan bumi selama jutaan tahun.

Suasana itulah yang terasa dalam Pameran dan Kontes Nasional Suiseki bertajuk “Geo Suiseki Samudra Purba – Piala Bupati Kebumen 2026” yang digelar di Kabupaten Kebumen, Jumat-Minggu (8-10/5/2026).

Event berskala nasional tersebut menjadi ajang perdana yang mempertemukan ratusan kolektor dan pegiat seni batu alam dari berbagai daerah di Indonesia.

Sebanyak 351 koleksi batu suiseki dipamerkan dalam kegiatan ini. Batu-batu tersebut datang dari berbagai provinsi dengan beragam karakter unik, mulai dari kategori Panorama, Simbolik, Pattern, Unik, hingga kelas Mini berukuran 18 sentimeter.

Di balik kemegahan pameran itu, tersimpan semangat para kolektor yang memandang batu bukan sekadar benda mati, melainkan karya seni alami yang terbentuk oleh proses geologi selama ribuan hingga jutaan tahun.

Ketua panitia, Triyogo Hadi, mengatakan antusiasme peserta di luar perkiraan. Banyak komunitas suiseki dari berbagai daerah hadir untuk mengikuti kontes sekaligus menikmati kekayaan geologi Kebumen.

“Ini event nasional pertama yang kami gelar di Kebumen. Pesertanya datang dari banyak daerah di Indonesia. Selain mengikuti pameran, mereka juga kami ajak geology tour ke sejumlah situs geologi penting,” kata Triyogo dalam keterangan resminya pada Senin (11/5/2026).

Tak hanya menikmati pameran di dalam gedung, peserta juga diajak menyusuri jejak sejarah bumi di kawasan Geopark Kebumen. Mereka mengunjungi BRIN Karangsambung, menyusuri Sungai Luk Ulo, hingga melihat situs Lava Bantal Watukelir yang selama ini dikenal sebagai bagian penting dari warisan geologi Kebumen.

Bupati Kebumen Lilis Nuryani menyebut suiseki memiliki makna lebih dalam daripada sekadar koleksi batu alam. Menurut dia, batu-batu itu menjadi pengingat tentang panjangnya proses alam yang membentuk bumi.

“Geo suiseki menghadirkan keindahan alam dalam bentuk sederhana, tetapi sarat cerita tentang proses bumi selama jutaan tahun,” ujar Lilis.

Ia menilai kegiatan seperti ini sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam memperkuat identitas daerah sebagai kawasan UNESCO Global Geopark sekaligus mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis geologi dan budaya lokal.

Nuansa khas Kebumen juga tampak dari hadiah yang disiapkan panitia. Para pemenang mendapatkan trofi eksklusif berbahan Batu Giok Kebumen untuk kategori Best 10, Best in Class, hingga Best in Show. Trofi tersebut menjadi simbol kekayaan alam lokal yang diangkat dalam ajang nasional.

Ketua Bidang Suiseki Indonesia, Rocky Suryahadi, mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Kebumen terhadap komunitas seni batu alam. Menurut dia, suiseki bukan hanya tentang mengoleksi batu indah, tetapi juga tentang membangun persaudaraan antarkomunitas.

“Suiseki mengajarkan kita menghargai proses alam. Dari batu-batu itu, lahir rasa kagum sekaligus persaudaraan antarpenggemar dari seluruh Indonesia,” ujarnya.

Selama pameran ini dibuka untuk umum masyarakat dapat melihat langsung berbagai batu suiseki dengan bentuk unik dan nilai filosofi tinggi sebelum seluruh koleksi dibawa pulang pemiliknya.

Bagi sebagian orang, batu mungkin hanya benda keras yang tergeletak di alam. Namun, di tangan para pecinta suiseki, batu-batu itu berubah menjadi kisah tentang waktu, kesabaran, dan keajaiban bumi yang tak pernah berhenti memikat manusia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang