Iran Siapkan Daftar Target Baru, Bisnis Elon Musk di Timur Tengah dalam Bahaya
Perusahaan milik Elon Musk yakni SpaceX dan Starlink dilaporkan telah masuk dalam daftar militer Iran di kawasan Timur Tengah. Menurut kantor berita Fars yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, Teheran meyakini bahwa teknologi Starlink dan berbagai proyek lain yang terkait dengan Musk telah digunakan untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut.
"Seluruh kepentingan yang terkait dengan aset ekonomi yang dikelola Elon Musk di Asia Barat, termasuk di negara-negara Arab dan Israel, sedang ditinjau untuk dimasukkan ke dalam daftar target baru Iran," tulis kantor berita tersebut dikutip dari laman NDTV, Jumat 12 Juni 2026,
Aset yang disebut-sebut sedang dipertimbangkan sebagai target meliputi stasiun bumi Starlink yang berada di Israel, Qatar, Yordania, Uni Emirat Arab, dan Oman. Selain itu, investor SpaceX serta infrastruktur yang terhubung dengan perusahaan berbasis Abu Dhabi, yaitu Alpha Dhabi dan Mubadala, juga dikabarkan masuk dalam daftar pertimbangan.
Media pemerintah Iran, mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, menuduh militer AS dengan dukungan perusahaan-perusahaan yang terkait dengan Musk telah melakukan kejahatan perang, termasuk serangan terhadap infrastruktur air di wilayah selatan Iran.
"Republik Islam Iran berhak menyerang seluruh fasilitas yang terhubung dengan perusahaan induk yang dikelola Musk di kawasan ini maupun di Israel," ujar sumber tersebut.
Iran juga menyoroti laporan-laporan sebelumnya yang menyebut bahwa Musk memberikan dukungan kepada militer AS melalui proyek seperti Starshield dan peluncuran satelit militer.
Berbeda dengan Starlink yang menyediakan layanan internet bagi masyarakat umum, Starshield dirancang khusus untuk kebutuhan militer, seperti komunikasi aman, pengawasan, dan pengiriman data sensitif. Menurut Forbes, layanan ini membantu pasukan militer tetap terhubung dan bertukar informasi selama menjalankan operasi.
Dalam konflik Rusia-Ukraina, Starlink membantu pasukan Ukraina tetap terhubung ke internet meskipun jaringan komunikasi mengalami kerusakan. Teknologi serupa juga dapat digunakan untuk mendukung pengoperasian drone dan berbagai misi militer.
Pemerintah Amerika Serikat baru-baru ini memberikan kontrak senilai 2,29 miliar dolar AS kepada perusahaan tersebut. Proyek itu bertujuan membangun jaringan satelit yang memungkinkan pasukan berkomunikasi secara aman dari mana saja di dunia.
Iran menyatakan bahwa hal ini menjadi salah satu alasan mengapa perusahaan-perusahaan yang terkait dengan Musk dianggap memiliki hubungan dengan aktivitas militer AS.
Sebelumnya, Garda Revolusi Iran juga mengancam sejumlah perusahaan teknologi besar asal Amerika Serikat, seperti Nvidia, Apple, Microsoft, dan Google. Mereka menuduh perusahaan-perusahaan tersebut membantu kepentingan AS melalui teknologi dan layanan yang mereka sediakan.
Laporan terbaru ini muncul setelah Presiden Donald Trump pada Kamis memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan melanjutkan serangannya terhadap Iran untuk malam ketiga berturut-turut.
"Amerika Serikat akan melancarkan serangan yang sangat besar terhadap Iran malam ini. Angkatan Laut, Angkatan Udara, sistem radar, pertahanan udara, dan hampir seluruh kemampuan pertahanan mereka, termasuk sebagian besar kemampuan ofensifnya, telah dilumpuhkan," tulis Trump melalui platform Truth Social.