Rupiah Anjlok ke Rp 18.000-an, BI Sebut Geopolitik Timur Tengah dan Harga Minyak Jadi Pemicunya
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memberikan penjelasan terkait dengan stabilitas nilai tukar rupiah yang hari ini telah menyentuh Rp 18.000-an per dolar AS.
Dimana hingga pukul 13.28 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 18.044 per dolar AS, melemah 77 poin atau 0,43 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.967 per dolar AS.
Destry mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah, yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai. Sehingga, hal itu mendorong harga minyak tetap tinggi, dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging.
"Selain itu, kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN," kata Destry dalam keterangannya, Kamis, 4 Juni 2026.
Rupiah melemah terhadap dolar AS.
Ia memastikan bahwa BI akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi, untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya.
"Selain itu, memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market, untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik," ujarnya.
Intervensi yang berkesinambungan menurutnya juga akan terus dilakukan secara konsisten. Antara lain melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder.
"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif," kata Destry.
Selain itu, BI juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT), sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar. Kerja sama tersebut telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di bulan April 2026, yang mencapai sekitar 22,7 miliar vs full year tahun lalu yang sekitar 25,7 miliar.
"Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dgn regional, secara year-to-date (ytd) melemah -7,44 persen. Cadangan devisa tetap terjaga di level USD$146,2 miliar pada akhir April 2026," ujarnya.