Langit Nigeria Terdampak Konflik Timur Tengah, Penerbangan Akan Dihentikan Sementara

Langit Nigeria Terdampak Konflik Timur Tengah, Penerbangan Akan Dihentikan Sementara

maskapai penerbangan di Nigeria menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur).

Kenaikan harga ini bahkan mendorong rencana penghentian sementara operasional penerbangan mulai 20 April 2026.

Mengutip laporan dari media lokal, lonjakan harga avtur dipicu oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung pada pasokan energi global.

Direktur Asosiasi Operator Penerbangan Nigeria (AON), Abdulmunaf Sarina, menyebutkan bahwa harga avtur melonjak hampir 300 persen.

Harga bahan bakar tersebut naik dari 900 naira per liter menjadi 3.300 naira, atau setara dengan kenaikan dari sekitar Rp 11.529 menjadi Rp 42.272 per liter.

Lonjakan ini dinilai sangat membebani biaya operasional maskapai, yang selama ini sangat bergantung pada stabilitas harga energi.

Kondisi tersebut berpotensi mengganggu layanan penerbangan domestik di Nigeria. Jika maskapai benar-benar menghentikan operasional, mobilitas masyarakat serta distribusi barang di dalam negeri akan ikut terdampak.

Konflik di Timur Tengah, Iran Vs AS-Israel

Krisis ini tidak lepas dari memanasnya konflik di Timur Tengah. Ketegangan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari 2026 yang kemudian dibalas oleh Iran dengan serangan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS.

Upaya diplomasi sempat dilakukan melalui perundingan antara Iran dan Amerika Serikat pada 11 April 2026 di Islamabad, Pakistan, menyusul gencatan senjata selama dua pekan. Namun, pembicaraan tersebut berakhir tanpa kesepakatan.

Langit Nigeria Terdampak Konflik Timur Tengah, Penerbangan Akan Dihentikan Sementara

Asap membubung dari Pelabuhan Zayed setelah serangan Iran di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 1 Maret 2026. Perang Iran berkecamuk setelah serangan Amerika Serikat-Israel menghantam Teheran, memicu respons Iran menyerang pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Situasi semakin memanas setelah Angkatan Laut AS memberlakukan blokade terhadap lalu lintas maritim dari dan menuju pelabuhan Iran di sekitar Selat Hormuz pada 13 April. Jalur ini merupakan salah satu titik vital perdagangan energi dunia.

Selat Hormuz diketahui menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak, produk turunan minyak, serta gas alam cair global. Gangguan di wilayah ini berdampak langsung pada kenaikan harga energi, termasuk avtur yang digunakan oleh maskapai penerbangan.

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa kapal non-Iran masih dapat melintasi Selat Hormuz selama tidak membayar pungutan kepada Teheran. Namun hingga kini, Iran belum mengumumkan kebijakan resmi terkait hal tersebut.

Ketidakpastian situasi geopolitik ini membuat industri penerbangan global, termasuk di Nigeria, berada dalam tekanan besar. Maskapai kini dihadapkan pada pilihan sulit antara tetap beroperasi dengan biaya tinggi atau menghentikan layanan demi menghindari kerugian lebih besar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang