Jumlah Jemaah Haji 2026 Lampaui Tahun Lalu Meski Timur Tengah Dilanda Perang
Otoritas Arab Saudi mengatakan lebih dari 1,5 juta jemaah telah tiba di Arab Saudi dari luar negeri untuk menunaikan ibadah Haji tahun 2026, melebihi jumlah pengunjung internasional tahun lalu meskipun tahun ini dilanda perang di Timur Tengah.
Konflik yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari menyebabkan Teheran melancarkan gelombang serangan terhadap target di Arab Saudi dan di seluruh Teluk, yang menyebabkan gangguan lalu lintas udara meluas dan menyebabkan biaya perjalanan melonjak.
Maskapai penerbangan utama di Teluk, yaitu UEA, Qatar, dan Bahrain, tengah berupaya untuk segera memulihkan sebagian besar kapasitas operasional mereka setelah berminggu-minggu penutupan wilayah udara dan pembatalan penerbangan.
Terlepas dari krisis di Timur Tengah itu, jemaah haji terus berdatangan ke Arab Saudi untuk mengikuti ibadah Haji tahun ini. Tahun lalu, jumlah total jemaah Haji mencapai 1.673.320, termasuk 1.506.576 dari luar Arab Saudi.
"Jumlah total jemaah yang tiba dari luar negeri telah mencapai 1.518.153," kata Saleh Al-Murabba, komandan Pasukan Paspor Haji Arab Saudi, dalam konferensi pers Jumat malam dilansir ArabNews, Senin, 25 Mei 2026.
Jumlah ini diperkirakan akan meningkat lebih lanjut, karena sejak angka-angka ini dirilis pada Jumat, masih ada dua hari menjelang dimulainya ritual ibadah haji pada Senin, yang memungkinkan para jemaah terus berdatangan dari luar negeri maupun domestik.
"Tak Ada Keraguan"
Meskipun ibadah tahun ini di tengah konflik Timur Tengah, namun tak menyurutkan jemaah muslim dari seluruh dunia untuk datang ke Tanah Suci. Haji, salah satu dari lima rukun Islam, wajib dilakukan setidaknya sekali oleh semua Muslim yang mampu.
Gencatan senjata yang tidak stabil sebagian besar telah berlangsung sejak April, meskipun negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan. Di tengah ketidakpastian, kedutaan besar Amerika di Riyadh bulan lalu menyarankan warga AS untuk tidak berpartisipasi dalam ibadah Haji.
"Karena situasi keamanan yang sedang berlangsung dan gangguan perjalanan yang terjadi secara berkala, kami menyarankan untuk mempertimbangkan kembali partisipasi dalam ibadah Haji tahun ini,” demikian bunyi pernyataan yang dirilis oleh kedutaan.
Departemen Luar Negeri AS mengatakan kepada AFP bahwa misi diplomatiknya di Arab Saudi tetap terbuka dengan "penyesuaian jumlah staf" dan "siap mendukung warga Amerika yang membutuhkan bantuan."
Fadel, jemaah haji asal Amerika Serikat (AS), menyatakan tidak pernah ada keraguan dalam benaknya bahwa ia akan menghadiri ibadah Haji tahun ini di Arab Saudi meskipun ada perang dan peringatan perjalanan dari pemerintah AS.
"Bahkan jika perang masih berlangsung, saya tidak akan mundur," kata warga negara AS berusia 49 tahun itu, yang meminta agar hanya nama depannya yang digunakan, kepada AFP.
"Kita tidak diragukan lagi berada di tempat teraman di dunia," tambahnya, merujuk pada sebuah ayat dari Al-Qur'an.
Sentimen ini umum di kalangan banyak Muslim dari negara-negara Barat yang datang ke Arab Saudi untuk ibadah Haji mendatang setelah perang dahsyat di Timur Tengah. Namun bagi banyak orang, kesempatan untuk melaksanakan ibadah suci umat Islam telah lebih diutamakan daripada kekhawatiran akan ketidakstabilan yang disebabkan oleh perang.
Iman Mengalahkan Kecemasan
Sayed, seorang warga Australia berusia 47 tahun yang akan mengikuti ibadah haji untuk ketujuh kalinya, mengatakan tidak ada "keraguan untuk datang ke sini," bahkan ketika pemerintahnya sendiri mengeluarkan imbauan yang mendesak warga untuk mempertimbangkan kembali perjalanan ke wilayah tersebut.
"Ketika Anda berniat untuk datang, Anda datang dengan alasan dan tujuan. Dan itulah mengapa Anda di sini dan menaruh kepercayaan Anda kepada Tuhan bahwa semuanya akan baik-baik saja," katanya kepada AFP sambil berdiri di luar Masjidil Haram Mekkah dengan mengenakan pakaian putih.
Saat lebih dari satu juta jemaah haji membanjiri kota suci menjelang ibadah haji, luas dan beragamnya komunitas Islam global terlihat jelas, dengan banyak yang membawa perlengkapan seperti tas dan payung yang menunjukkan negara asal mereka.
"Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup dan saya memutuskan untuk tidak melewatkannya," kata Ibrahim Diab, seorang warga negara Jerman berusia 63 tahun, meskipun “situasi di Teluk sedang tidak menentu."
Namun, bahkan di tengah suasana euforia di Mekkah menjelang ibadah haji, beberapa jemaah mengatakan kekhawatiran tentang perang telah mengganggu mereka sebelum perjalanan. "Saya sangat cemas tentang hal itu," kata Imad Ahmad, seorang akuntan Inggris berusia 36 tahun, kepada AFP.
Ahmad mengatakan perjalanannya ke Arab Saudi sempat terhenti di Yordania pada hari Rabu setelah militer di sana mengatakan telah menembak jatuh sebuah drone tak dikenal di wilayah udara negara itu.
Namun, ia juga mengatakan tidak ada keraguan bahwa ia akan melanjutkan perjalanannya ke Mekah. "Saya akan datang, dengan cara apa pun yang memungkinkan, insya Allah," tambahnya.