Garuda Indonesia dan 8 Maskapai Internasional Kompak Batalkan Penerbangan ke Timur Tengah

Garuda Indonesia Livery Pocari Sweat
Garuda Indonesia Livery Pocari Sweat

Maskapai nasional Tanah Air, Garuda Indonesia, bersama sejumlah maskapai global kompak membatalkan dan menangguhkan penerbangan ke kawasan Timur Tengah. Keputusan ini diambil menyusul eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. 

Sejak mencuatnya kabar serangan militer AS dan Israel pada Minggu, 1 Maret 2026, langit Iran tampak bersih dari lalu lalang pesawat. Penutupan wilayah udara dan meningkatnya risiko keamanan memaksa maskapai mengambil langkah antisipatif untuk menjaga keselamatan operasional.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Garuda Indonesia secara resmi menghentikan sementara layanan penerbangan ke Doha, Qatar, hingga batasa waktu yang belum ditentukan. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap situasi keamanan regional yang terus berkembang.

“Garuda Indonesia terus aktif berkoordinasi dengan otoritas penerbangan dan pemangku kepentingan terkait untuk memantau perkembangan situasi,” demikian pernyataan resmi perusahaan, dikutip Senin, 2 Maret 2026.

Langit Iran Bersih Usai Maskapai Global Batalkan Penerbangan

Maskapai pelat merah ini menegaskan, rute internasional lainnya tetap beroperasi normal. Manajemen Garuda Indonesia juga memastikan jalur penerbangannya tidak melintasi wilayah udara yang terdampak konflik.

Langkah Garuda Indonesia ini sejalan dengan keputusan sejumlah maskapai internasional yang juga menghentikan penerbangan ke wilayah Timur Tengah. Dikutip dari ChannelNewsAsia, berikut daftar maskapai juga melakukan pembatalan dan penangguhan  penerbangan ke beberapa negara Timur Tengah buntut konflik AS-Israel dan Iran.

1. Malaysia Airlines

Malaysia Airlines

Malaysia Airlines

Maskapai nasional Malaysia menghentikan seluruh penerbangan ke Doha, Qatar, serta ke Jeddah dan Madinah di Arab Saudi hingga setidaknya 4 Maret 2026. Kebijakan ini diambil menyusul penutupan wilayah udara di beberapa bagian Timur Tengah.

“Semua penerbangan lainnya tetap berjalan sesuai jadwal saat ini dan menggunakan rute alternatif yang aman, jauh dari zona konflik,” kata Malaysia Airlines dalam pernyataan resminya.

2. Air India

Air India menghentikan seluruh penerbangan ke berbagai destinasi di Timur Tengah sebagai langkah mitigasi risiko keamanan.

“Melihat situasi yang berkembang di beberapa bagian Timur Tengah, seluruh penerbangan Air India ke semua destinasi di kawasan tersebut telah ditangguhkan,” tulis maskapai tersebut dalam pernyataan resminya.

3. Turkish Airlines

Maskapai nasional Turki menghentikan penerbangan ke 10 negara di Timur Tengah. Penerbangan ke Lebanon, Suriah, Irak, Iran, dan Yordania dibatalkan hingga 2 Maret 2026. Sementara itu, rute ke Qatar, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Oman ditangguhkan sementara.

4. Air France

Pesawat Air France Boeing 707-300

Pesawat Air France Boeing 707-300

Air France membatalkan penerbangan menuju Tel Aviv, Israel, dan Beirut, Lebanon. Maskapai tersebut menyatakan akan memberikan pembaruan jadwal sesuai perkembangan situasi keamanan.

5. British Airways

British Airways menghentikan penerbangan ke Tel Aviv dan Bahrain hingga 4 Maret 2026. Maskapai ini juga membatalkan penerbangan ke Amman, ibu kota Yordania.

6. Lufthansa Group

Maskapai asal Jerman ini membatalkan penerbangan ke Tel Aviv, Beirut, Amman, Erbil, dan Teheran hingga 7 Maret 2026. Selain itu, Lufthansa juga menangguhkan penerbangan ke Dubai dan Abu Dhabi.

7. Maskapai Rusia (Rosaviatsia)

Otoritas transportasi udara Rusia memerintahkan pembatalan seluruh penerbangan komersial ke Israel dan Iran hingga waktu yang belum ditentukan.

8. Maskapai Internasional Norwegia

Sejumlah maskapai lain seperti Norwegian dan Air Algerie juga ikut melakukan pembatalan penerbangan secara luas sebagai respons terhadap meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut.

Konflik Picu Gangguan Besar Industri Penerbangan

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran memicu penutupan sebagian wilayah udara Timur Tengah, yang merupakan salah satu jalur penerbangan tersibuk di dunia. Kondisi ini memaksa maskapai mengalihkan rute, menunda, atau membatalkan penerbangan demi menghindari risiko keselamatan.

Situasi ini berpotensi menimbulkan gangguan besar pada industri penerbangan global, termasuk peningkatan biaya operasional akibat pengalihan rute dan lonjakan harga bahan bakar. Saat ini, maskapai-maskapai global,  termasuk Garuda Indonesia, terus memantau perkembangan geopolitik sebelum memutuskan untuk kembali membuka layanan penerbangan ke kawasan tersebut.