Kapan Waktu Terbaik Beli Emas? Ini Kata Analis agar Cuan Maksimal

Ilustrasi Logam Mulia (Emas)
Ilustrasi Logam Mulia (Emas)

Setelah sempat menembus rekor harga tertinggi pada bulan Oktober 2025, namun emas mengalami koreksi 0,88 persen selama 30 hari terakhir. Apakah ini momen yang tepat untuk membeli emas agar invetasi cuan maksimal?

Harga emas sempat menyentuh level tertinggi intraday di US$4.381,5 per ounce pada 20 Oktober 2025, atau 33,3 persen di atas rata-rata pergerakan 200 harinya (200-DMA). Setelah itu, aksi ambil untung (profit taking) membuat harga emas terkoreksi.

Mengutip data Gold Price, harga emas dunia turun tipis 0,04 persen ke level US$4.112,29 per ons hingga pukul 10.56 WIB pada Rabu, 12 November 2025. Sementara itu harga emas Antam naik Rp 7.000 menjadi Rp 2.367.000 per gram.

“Dengan harga rata-rata di sekitar US$3.371 per ons atau sekitar 23,1 persen di bawah level puncak, posisi ini bisa menjadi kesempatan bagus untuk menambah kepemilikan emas,” ungkap Kepala Strategi Ekuitas Global Jefferies, Christopher Wood, dalam catatannya yang dikutip dari Business Standard pada Rabu, 12 November 2025.

Ilustrasi harga emas dunia.

Senada dengan Wood, Chief Investment Officer Julius Baer, Yves Bonzon, juga menilai harga emas saat ini adalah waktu terbaik untuk membeli emas. Namun, Bonzon memprediksi harga emas akan bergerak dalam kisaran sempit untuk sementara waktu meskipun prospek jangka panjangnya tetap positif.

"Saya menduga emas memasuki fase konsolidasi beberapa bulan, dengan potensi koreksi hingga level US$3.500 per ons. Namun, kami justru melihat ini sebagai peluang beli," imbuh Bonzon.

Menurut Bonzon, permintaan terhadap emas sebagai lindung nilai (hedge) terhadap ketidakpastian ekonomi akan terus naik. Hal ini seiring melemahnya nilai mata uang negara-negara G7 akibat tekanan fiskal yang tinggi akan terus mendorong

Aksi beli oleh bank sentral turut menopang harga logam mulia ini dalam beberapa bulan terakhir. Bank Sentral Polandia tercatat sebagai pembeli terbesar dengan 67 ton, diikuti Kazakhstan sebanyak 40 ton dan Azerbaijan sebanyak 38 ton. 

Dalam setahun terakhir, emas tercatat sebagai salah satu aset dengan kinerja terbaik. Harga emas naik sekitar 53,3 persen didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) yang ketat.

Secara teknikal, World Gold Council (WGC) memprediksi area support emas berada di sekitar US$3.800 per ounce, di mana pembeli jangka panjang biasanya mulai masuk. Sementara level dukungan yang lebih kuat berada di kisaran US$3.500 per ounce, setara dengan pola koreksi besar pada tahun 2020 dan 2022.

“Jika harga emas kembali naik, level resistensi selanjutnya ada di US$4.420 hingga US$4.520 per ounce, dan kemudian di US$4.675 per ounce,” tulis analis WGC dalam laporan terbarunya.

Dengan volatilitas yang masih tinggi, analis sepakat bahwa disiplin dan kesabaran adalah kunci bagi investor. Momentum koreksi saat ini bisa menjadi titik masuk yang menguntungkan asal dilakukan dengan strategi jangka panjang dan pandangan realistis terhadap pasar.