Geopolitik Global Memanas Awal 2026, Apakah Emas Masih Jadi Investasi Paling Aman?
Memanasnya tensi geopolitik global menyebabkan harga emas mengalami kenaikan cukup signifikan pada awal 2026.
Pergerakan tersebut tercermin pada harga emas global yang mampu menyentuh angka Rp 3.000.000 per gram pada awal 2026.
Berdasarkan data Antam per Selasa (2/2/2026), harga emas Antam menyentuh Rp 3.027.000 per gram.
Harga emas juga sempat mencapai Rp 3.120.000 per gram pada Jumat (30/1/2026).
Lalu, apakah emas masih cocok untuk investasi saat situasi geopolitik memanas?
Apakah Emas Masih Cocok untuk Investasi Saat Situasi Geopolitik Memanas?
Ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, Ph.D mengatakan, kenaikan harga sejalan dengan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven menyusul ketidakpastian arah ekonomi dan politik dunia.
Ia menyampaikan, lonjakan harga emas dipicu oleh sejumlah faktor yang saling berkaitan.
Di antaranya arah kebijakan moneter THE Fed dan pelemahan dollar AS.
“Pasar memperkirakan penurunan suku bunga AS, yang melemahkan dolar dan sekaligus meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven”, jelas Wisnu dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Selasa (3/2/2026).
Selain faktor moneter, Wisnu menegaskan bahwa dinamika geopolitik global ikut berperan besar dalam menopang harga emas.
Dorongan lainnya datang dari permintaan institusional. Bank sentral di berbagai negara berkembang tercatat terus menambah cadangan emasnya.
Di sisi lain, minat investor terhadap emas melalui instrumen Exchange Traded Fund (ETF) juga meningkat signifikan.
“Inflasi dan ketidakpastian pasar saham membuat emas menjadi pilihan utama sebagai pelindung nilai jangka panjang”, jelas Wisnu.
Ia menambahkan, eskalasi politik dan ekonomi global saat ini mendorong masyarakat untuk memperkuat portofolio pada aset yang lebih aman.
Fenomena ini sekaligus mencerminkan meningkatnya indikator ketidakpastian global.
“Banyak masyarakat yang membeli emas juga salah satu bentuk respon dari kebijakan moneter yang terjadi. Investor mencari aset yang aman dari volatilitas,” ucapnya.
Apakah Harga Emas Akan Terus Naik?
Wisnu memperkirakan tren penguatan harga emas masih berpeluang berlanjut selama kondisi ekonomi dan politik dunia belum menunjukkan stabilitas.
Meski demikian, ia mengingatkan adanya potensi tekanan terhadap harga emas jika dollar AS kembali menguat atau suku bunga acuan AS dinaikkan secara agresif.
Lebih jauh, ia memaparkan alasan mengapa emas tetap diminati sebagai instrumen investasi.
Selain stabil dan mampu melindungi nilai dari inflasi, emas memiliki likuiditas tinggi sehingga mudah diperjualbelikan.
Keunggulan lainnya, emas fisik tidak mengandung risiko pihak ketiga, berbeda dengan obligasi atau aset digital yang memiliki potensi gagal bayar.
Menjawab pertanyaan soal ketahanan emas sebagai investasi jangka panjang, Wisnu menyebut secara historis harga emas cenderung stabil dan terus meningkat.
Emas dinilai relatif tahan terhadap tekanan inflasi, deflasi, hingga krisis ekonomi.
"Namun, dalam jangka pendek, seperti instrumen investasi lainnya, maka akan ada perubahan yang biasanya merespons terhadap kebijakan suku bunga dan nilai mata uang asing lain seperti USD, EUR, GBP”, paparnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang