Dedi Mulyadi Beri Subsidi Kesenian Lokal untuk Hajatan Warga Kurang Mampu, Anggaran hingga Rp 1,5 Miliar

bank emok, Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, kesenian sunda, hajatan masyarakat, Dedi Mulyadi Beri Subsidi Kesenian Lokal untuk Hajatan Warga Kurang Mampu, Anggaran hingga Rp 1,5 Miliar

 Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengumumkan rencana baru untuk memberikan subsidi hingga menanggung penuh biaya hiburan kesenian rakyat bagi warga berpenghasilan rendah yang menggelar hajatan.

Kebijakan ini disampaikan di Gedung Sate Bandung sebagai upaya pemerintah dalam melindungi ekonomi masyarakat dari jeratan pinjaman ilegal atau bank emok, yang kerap menjadi pilihan warga demi memenuhi standar sosial dalam acara pernikahan, khitanan, atau hajatan lainnya.

Dedi menegaskan bahwa fenomena warga yang terpaksa berutang demi membayar hiburan kesenian merupakan masalah nyata yang dapat memicu munculnya kemiskinan baru.

"Jadi orang yang hajatan dan kategorinya tidak mampu, agar mereka tidak pinjam bank emok untuk bayar seni, itu negara yang ambil alih. Kami siapkan anggarannya," ujar Dedi.

Mengapa Subsidi Hiburan Hajatan Dianggap Penting?

Menurut Dedi, beban biaya hiburan kesenian merupakan salah satu komponen terbesar dalam sebuah hajatan.

Banyak masyarakat kecil yang rela meminjam uang dengan bunga tinggi hanya demi mempertahankan gengsi atau memenuhi kebiasaan budaya.

Kondisi ini menjadi salah satu alasan utama pemerintah provinsi merancang program subsidi hiburan.

Selain melindungi warga dari jeratan utang, langkah ini juga dianggap efektif menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga.

Bagaimana Skema Subsidi Ini Akan Dijalankan?

Dedi menyebutkan bahwa pemerintah provinsi akan mengalokasikan anggaran antara Rp10 miliar hingga Rp15 miliar pada tahap awal.

Dengan estimasi biaya pertunjukan seni lokal antara Rp3 juta hingga Rp15 juta per acara, pemerintah dapat memfasilitasi hingga 100 hajatan hanya dengan anggaran Rp1,5 miliar.

Mekanisme pengajuan bantuan akan dilakukan melalui aplikasi digital yang kini sedang disiapkan.

Warga yang masuk kategori kurang mampu dapat mendaftar dan diverifikasi, kemudian pemerintah akan menunjuk kelompok seni lokal dari daerah masing-masing untuk tampil.

"Misalnya di Kabupaten Garut ada warga hajatan, kami tunjuk grup Calung Garut untuk tampil. Yang bayar Pemprov. Ini memangkas biaya sosial warga sekaligus menghidupi seniman lokal," ujar Dedi.

Apakah Program Ini Juga Mendukung Seniman Lokal?

Selain membantu warga, program ini juga bertujuan menggerakkan ekonomi seniman lokal. Dedi menilai selama ini anggaran kesenian seringkali hanya habis untuk acara seremonial pemerintah dengan penonton terbatas.

Dengan skema baru ini, kelompok seni lokal akan mendapatkan kesempatan tampil langsung di tengah masyarakat.

"Ini lebih hidup dibanding Pemprov buat kegiatan di alun-alun yang nontonnya pejabat. Kalau ini, seninya disubsidi negara, ditonton warga, biayanya murah, dan menimbulkan efek ekonomi kerakyatan," ucap Dedi.

Kebijakan tersebut juga bukan hal baru bagi Dedi. Saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta, ia telah menjalankan program Caravan Seni yang menghadirkan berbagai kesenian tradisional seperti Domyak, Ibing Pencak Silat, hingga Tari Maranggi.

Pemprov Jabar kini tengah mendata kelompok seni di seluruh wilayah serta menghitung kemampuan anggaran untuk memastikan program berjalan optimal dan tepat sasaran.

"Walaupun kami belum bisa mengalokasikan anggaran sebanyak mungkin, tetapi minimal bisa untuk beberapa kalangan itu," kata Dedi.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "".

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.