Daryono Ungkap Alasan Mundur dari Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG
Daryono mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Dalam grup bersama rekan-rekan media, Jumat (13/2/2026) malam, Daryono juga mengumumkan bahwa ia memutuskan pensiun dini dari BMKG.
Kabar tersebut terbilang mengejutkan lantaran Daryono selama ini menjadi sosok yang menginformasikan kejadian gempa dan tsunami di Indonesia.
Daryono juga kerap membagikan informasi seputar gempa dan tsunami di luar negeri dan hubungannya dengan aktivitas tektonik di Indonesia.
"Melalui pesan ini, saya ingin menyampaikan bahwa saya telah mengajukan pengunduran diri dari jabatan Direktur Gempabumi dan Tsunami, sekaligus mengajukan pensiun dini dari BMKG," kata Daryono.
"Namun demikian, komitmen saya terhadap edukasi publik di bidang kegempaan dan kebencanaan tidak akan berhenti," tambahnya.
Daryono Mundur karena Alasan Kesehatan
Daryono mengungkap alasannya mundur dari Direktur Gempa Bumi dan Tsunami sekaligus memutuskan pensiun dini dari BMKG.
Lulusan Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG) angkatan 1993 itu mundur karena alasan kesehatan.
Ia masih menjalani perawatan akibat kondisi tersebut sehingga cuti dinas dari pekerjaannya di BMKG. Setelah itu, Daryono mengajukan pengunduran diri.
Kepada awak media, Daryono menyampaikan bahwa dirinya telah menyiapkan rencana untuk masa mendatang setelah tidak lagi bertugas di BMKG.
Ia menegaskan akan tetap berkontribusi dalam memberikan edukasi kepada masyarakat terkait kebencanaan, khususnya gempa bumi dan tsunami.
Namun, Daryono belum berkenan apabila rencana tersebut dipublikasikan dalam pemberitaan.
Daryono menegaskan bahwa ia masih memiiki tanggung jawab keilmuan (scientific responsibility), tanggung jawab edukasi (educational responsibility) dan tanggung jawab moral (moral responsibility) di negeri yang rawan bencana ini.
"Demikian yang dapat saya sampaikan. Terima kasih atas kerja sama, kepercayaan, dan sinergi yang selama ini telah terjalin dengan sangat baik," ungkapnya.
Rekam Jejak Daryono
Daryono merupakan alumnus Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG) angkatan 1993.
Ia lahir di Semarang pada 21 Februari 1971. Selama menempuh studi di AMG, Daryono memperoleh pemahaman mendasar mengenai meteorologi dan geofisika, dua disiplin yang kemudian menjadi fondasi kiprahnya dalam bidang mitigasi bencana di Indonesia.
Dilansir dari laman resmi Ikamega, pendidikan Diploma III diselesaikannya di AMG Jakarta, sebelum melanjutkan studi sarjana di Universitas Indonesia.
Pada tahun 2000, ia meraih gelar S-1 dari Program Studi Meteorologi dan Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Komitmennya untuk memperdalam keilmuan membawanya menempuh pendidikan magister di Universitas Udayana, Bali.
Program tersebut dituntaskannya pada 2002 dengan konsentrasi manajemen lahan kering.
Ia kemudian melanjutkan studi doktoral pada bidang Ilmu Geografi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan berhasil menyelesaikannya pada 2006.
Sementara itu, perjalanan karier Daryono di BMKG dimulai di Bali saat ia bertugas sebagai staf teknis di Balai MKG Wilayah III Denpasar.
Pengalaman di lapangan tersebut memberikan pemahaman komprehensif mengenai tantangan operasional serta pentingnya penerapan ilmu secara nyata bagi masyarakat.
Sejak 2005, Daryono berperan sebagai peneliti geofisika di lingkungan BMKG.
Seiring berjalannya waktu, ia dipercaya menduduki sejumlah jabatan strategis, antara lain Kepala Subbagian Administrasi Akademik dan Ketarunaan di STMKG dan Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG.
Daryono juga pernah ditunjuk menjadi Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami.
Pada 2022, ia ditunjuk sebagai Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang