Curah Hujan Ekstrem Picu Banjir di Sumbar: Genangi Padang Pariaman, Agam, Pasaman Barat, dan Solok

BNPB, banjir solok, banjir sumbar, banjir padang, banjir padang pariaman, banjir Agam, Curah Hujan Ekstrem Picu Banjir di Sumbar: Genangi Padang Pariaman, Agam, Pasaman Barat, dan Solok

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa sejak Januari hingga 24 November 2025 Indonesia telah mengalami 2.919 kejadian bencana.

Hampir seluruh kejadian tersebut merupakan bencana hidrometeorologi yang mendominasi hingga mencapai 98,97 persen.

"Dari 2.919 kejadian bencana itu, bencana hidrometeorologi mendominasi dengan persentase 98,97 persen," kata Deputi Bidang Logistik dan Peralatan BNPB, Andi Eviana, melalui video konferensi di Kota Padang, Selasa.

Selain bencana hidrometeorologi, BNPB mencatat adanya bencana geologi sebanyak 1,23 persen.

Banjir menjadi bencana yang paling sering terjadi, disusul cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, serta tanah longsor.

Dua kejadian longsor terbaru dilaporkan terjadi di Lumajang dan Banjarnegara, yang mengakibatkan korban jiwa.

Bagaimana Kondisi Bencana di Sumatera Barat?

Khusus di Sumatera Barat, Andi Eviana menyoroti banjir yang melanda sejumlah wilayah seperti Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Agam, Kota Padang, dan Kabupaten Solok.

Deretan daerah itu menunjukkan tingginya kerentanan wilayah Sumbar terhadap dampak cuaca ekstrem.

Menghadapi kondisi tersebut, BNPB meminta pemerintah daerah dan BPBD meningkatkan langkah penanganan bencana.

Langkah tersebut meliputi penyampaian informasi secara cepat, pemantauan debit air sungai, evakuasi warga di titik rawan, hingga penyediaan posko bantuan saat kondisi darurat.

Ia juga menekankan perlunya pemeriksaan drainase, penguatan tanggul, serta respons cepat dalam penyampaian peringatan dini. Menurutnya, pola banjir kini tidak lagi dapat diprediksi hanya terjadi di akhir tahun.

"Saat ini banjir sulit diprediksi karena terjadi di awal, pertengahan dan akhir tahun," ujar Andi.

Bagaimana Respons Pemerintah Daerah?

Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat, Arry Yuswandi, memastikan pemerintah daerah bergerak cepat dalam menangani dampak bencana hidrometeorologi.

"Seluruh perangkat daerah terkait telah dikerahkan sejak awal kejadian untuk memastikan keselamatan warga dan mempercepat proses penanganan darurat," katanya.

Banjir, angin kencang, dan tanah longsor dilaporkan terjadi di beberapa daerah seperti Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Agam, dan Kota Solok.

Ribuan warga terdampak, sementara sejumlah infrastruktur dasar dan fasilitas umum mengalami kerusakan.

Seberapa Parah Dampak di Kabupaten Pasaman Barat?

Di Pasaman Barat, BPBD mencatat tujuh dari 11 kecamatan terdampak bencana sejak Senin (24/11/2025) akibat tingginya curah hujan.

"Tim gabungan telah diturunkan dan memberikan bantuan sejak bencana terjadi," kata Kepala BPBD Pasaman Barat Jhon Edwar.

Selain itu, dampak signifikan juga terjadi pada sektor pertanian. Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat melaporkan bahwa banjir menyebabkan kerusakan sekitar 121 hektare lahan persawahan dengan estimasi kerugian mencapai Rp363 juta.

"Kerusakan dan kerugian lahan pertanian terus kita data. Untuk sementara masih di angka 121 hektare lahan sawah yang terdampak," kata Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Pasaman Barat, Afdal.

Sektor pendidikan juga terdampak. Dinas Pendidikan Pasaman Barat mencatat 23 sekolah mengalami banjir akibat meluapnya sejumlah sungai.

"Untuk data sementara ada 23 sekolah terdampak banjir. Kita terus melakukan pendataan di lapangan," kata Plt Kepala Dinas Pendidikan Pasaman Barat, Imter Pedri.

Ia menambahkan bahwa keputusan sekolah untuk libur atau tetap masuk menyesuaikan kondisi lapangan, terutama karena semester akan segera memasuki masa ujian.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih. Berikan apresiasi sekarang