Skill vs Ijazah, Mana yang Lebih Penting di Mata Perusahaan? Survei Terbaru Ungkap Jawabannya
Perubahan cara perusahaan merekrut karyawan sudah lama menjadi topik hangat, terutama di tengah disrupsi teknologi dan percepatan adopsi kecerdasan buatan. Konsep skills-based hiring atau perekrutan berbasis keterampilan sempat diprediksi akan menggantikan penilaian berbasis ijazah dan gelar akademik.
Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Banyak perusahaan masih berhati-hati dalam mengubah sistem yang sudah lama mereka gunakan.
Di satu sisi, perusahaan membutuhkan talenta yang benar-benar siap kerja dan mampu beradaptasi cepat. Di sisi lain, proses rekrutmen harus tetap efisien, terukur, dan minim risiko.
Ketegangan inilah yang membuat transformasi menuju skills-first hiring berjalan lebih lambat dari perkiraan. Temuan terbaru dari laporan global menunjukkan bahwa dunia kerja sedang berada di fase transisi, bukan revolusi total.
Menurut Workforce Decoded Report dari WGU yang melibatkan lebih dari 3.000 pemimpin rekrutmen, hanya 46 persen perusahaan yang berencana memperluas fokus pada skills-based hiring di 2026. Temuan ini menunjukkan adanya jarak antara janji perekrutan besar berbasis keterampilan dan realitas implementasinya di lapangan.
Perusahaan pada praktiknya masih menimbang berbagai faktor secara bersamaan. Gelar akademik, sertifikat, pengalaman kerja, dan keterampilan yang terukur masih digunakan sebagai paket penilaian yang saling melengkapi.
Ilustrasi pekerja
Banyak pemberi kerja mengakui bahwa mereka kesulitan menilai kemampuan riil kandidat secara konsisten, terutama karena sistem rekrutmen yang ada belum dirancang untuk mengukur keterampilan secara mendalam.
"Laporan tersebut juga mencatat bahwa 53 persen perusahaan menyebut validasi klaim keterampilan sebagai tantangan utama. Tanpa standar penilaian yang seragam, perusahaan cenderung kembali mengandalkan sinyal lama seperti lulusan universitas ternama, lamanya pengalaman kerja, atau nama besar perusahaan sebelumnya," demikian seperti dikutip dari Forbes, Rabu, 17 Desember 2025.
Indikator ini memang tidak sempurna, tetapi relatif mudah diverifikasi. Meski sertifikat non-gelar dipandang sebagai indikator kesiapan kerja, banyak perusahaan belum memiliki alat, platform, atau keahlian internal untuk menilai keterampilan secara konsisten. Infrastruktur penilaian keterampilan dinilai belum sejalan dengan besarnya ekspektasi terhadap skills-based hiring.
Narasi bahwa gelar sarjana akan ditinggalkan ternyata belum sepenuhnya terbukti. Sebanyak 68 persen perusahaan masih memandang gelar akademik sebagai faktor penting dalam rekrutmen. Perusahaan tidak memilih antara gelar atau keterampilan, melainkan mencari kombinasi keduanya.
Masalah utamanya bukan pada relevansi gelar, melainkan pada kepercayaan. "Hanya 37 persen perusahaan yang yakin bahwa pendidikan tinggi benar-benar membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. Kesenjangan kepercayaan inilah yang mendorong perusahaan mencari sinyal tambahan di luar ijazah."
Lebih lanjut, sebanyak 78 persen perusahaan menilai pengalaman kerja setara atau bahkan lebih bernilai dibandingkan gelar akademik. Pengalaman kerja dianggap sebagai bukti nyata kemampuan kandidat dalam situasi dunia nyata. Ke depan, 43 persen perusahaan berencana memberi penekanan lebih besar pada pengalaman kerja, magang, dan program apprenticeship dalam 12 bulan mendatang.
Tren ini menjelaskan mengapa skills-based hiring tidak tumbuh secepat prediksi. Bagi banyak perusahaan, riwayat kerja sudah menjadi proksi keterampilan yang cukup andal tanpa harus meninggalkan persyaratan gelar sepenuhnya.
Tak hanya itu, sebagian besar applicant tracking system masih menyaring kandidat berdasarkan pendidikan, jabatan, dan lama pengalaman, bukan keterampilan spesifik. Meski 43 persen perusahaan berencana meningkatkan penggunaan AI dalam proses penyaringan, penerapannya membutuhkan investasi besar dan pelatihan tambahan.
Perusahaan juga menyebut platform pengujian dan verifikasi keterampilan yang tidak memadai atau mahal sebagai kendala utama. Selain itu, asesmen keterampilan yang mendalam memakan waktu dan sumber daya lebih besar dibandingkan sekadar meninjau CV, sehingga menyulitkan perekrutan dalam skala besar.
Kemampuan AI menjadi contoh nyata tantangan skills-based hiring. Sebanyak 50 persen perusahaan menilai kemampuan AI melalui kenyamanan menggunakan alat AI, sertifikasi relevan, dan kemampuan mengintegrasikan AI ke pekerjaan harian. Namun, metodenya masih beragam dan belum baku.
Sebanyak 39 persen menilai pengalaman langsung dengan alat seperti ChatGPT, Copilot, atau pustaka machine learning Python, sementara 32 persen melihat sertifikat. Banyak perusahaan mengakui masih mencari cara efektif untuk mengevaluasi keterampilan AI.
Bagi pencari kerja, temuan ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja menghargai kombinasi antara pendidikan formal, sertifikasi, pengalaman, dan keterampilan yang terbukti. Gelar masih membuka pintu, tetapi pengalaman langsung dan kemampuan praktis semakin menentukan.
Keterampilan manusia seperti cara berpikir, berkolaborasi, dan beradaptasi juga tetap menjadi faktor penting. Secara keseluruhan, masa depan rekrutmen tidak akan memilih antara gelar atau keterampilan, dunia kerja bergerak menuju penggunaan keduanya secara lebih seimbang dan efektif, meski dengan laju yang lebih bertahap dari perkiraan awal.