Pep Guardiola Cabut, Manchester City Bersiap Hadapi Masa Tersulit dalam Satu Dekade

Manajer Manchester City, Pep Guardiola
Manajer Manchester City, Pep Guardiola

 Era Pep Guardiola di Manchester City resmi berakhir. Laga kontra Aston Villa akhir pekan ini akan menjadi pertandingan terakhir sang manajer bersama The Citizens. Guardiola menutup rentang waktu satu dekade penuh trofi, dominasi, dan transformasi besar di kompetisi tertinggi Inggris.

Rumor soal kepergian Guardiola memang sudah lama beredar. Namun, saat kepastian itu akhirnya tiba, rasa tak percaya tetap mendera. Wajar saja, selama satu dekade terakhir, pelatih asal Catalan ini bukan cuma membangun dinasti juara, melainkan merombak wajah Premier League secara keseluruhan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jejak kepergian pria berusia 55 tahun itu sebenarnya sudah terendus beberapa bulan lalu. Salah satunya saat Guardiola mendadak menyambangi Edgeley Park, stadion berkapasitas kecil yang mempertemukan Stockport County vs Port Vale di kasta ketiga Inggris.

Awalnya, kedatangan itu dianggap sekadar memenuhi janji pada pemilik Stockport, Mark Stott. Namun, sumber dekat Guardiola mengungkap alasan yang lebih emosional. Guardiola sengaja ingin menikmati atmosfer sepak bola Inggris dari sudut pandang yang berbeda sebelum benar-benar hengkang. Ia memilih menjadi penonton biasa di stadion kecil bernuansa tradisional, sesuatu yang sangat ia cintai dari sepak bola Inggris.

Manchester City juara Piala FA 2025/26

Guardiola memang dikenal menggemari stadion-stadion lawas seperti Selhurst Park atau Goodison Park. Ia menikmati ruang ganti yang sempit, tekanan suporter lawan, hingga teriakan lantang dari tribun. Pada satu kesempatan, Guardiola bahkan tertawa saat mengenang chant suporter tuan rumah yang meneriakkannya: “Kamu siapa? Kamu siapa?”

Namun, dampak Guardiola terhadap sepak bola Inggris jauh melampaui sekadar romantisme. Dalam acara penghargaan PFA 2024, legenda kasta bawah Inggris Dean Lewington menegaskan secara terang-terangan bahwa Guardiola adalah sosok yang mengubah cara bermain sepak bola di seluruh negeri.

“Kami selalu membicarakan ide-idenya dan cara bermainnya. Dia mungkin tidak menyadarinya, tapi pengaruhnya terhadap evolusi sepak bola Inggris sangat besar,” tegas Lewington dikutip laman resmi Man City.

Pernyataan itu beralasan. Sejak Guardiola mendarat di Manchester City pada 2016, hampir seluruh klub Inggris menyesuaikan pendekatan permainan mereka. Build-up dari belakang, pressing tinggi, penguasaan bola, hingga fleksibilitas posisi pemain kini menjadi tren, dengan Guardiola sebagai referensi utama para pelatih muda.

Meski dianggap telah merevolusi sepak bola Inggris, Guardiola enggan membahas warisan pribadinya. Baginya, pencapaian terbesar bukanlah 20 trofi yang telah disabet bersama City, melainkan konsistensi tim.

Sejak pertama kali melangkah ke Premier League, Manchester City tak pernah finis di luar tiga besar. Saat rival seperti Liverpool naik-turun di era Jurgen Klopp, City tetap stabil di puncak. Guardiola juga sangat bangga dengan rekor menembus semifinal Piala FA delapan musim beruntun dan rutin tampil di Wembley.

“Dalam turnamen, satu hari buruk bisa mengakhiri semuanya. Kami sangat jarang mengalami hari buruk,” ucap Guardiola

Ia pun menekankan soal mentalitas timnya yang selalu siap bersaing di semua kompetisi.

Momen yang disebut sebagai titik awal berakhirnya era Guardiola terjadi pada Desember 2023, usai City memenangi Piala Dunia Antarklub FIFA. Saat itu, Guardiola mengaku merasa telah “menutup satu babak.” Kalimat itu membuat orang-orang di internal klub sadar bahwa energi Guardiola perlahan menurun. Meski sempat memperpanjang kontrak hingga 2027, klausul khusus dalam perjanjian tersebut akhirnya membebaskannya untuk pergi pada musim panas ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Manchester City bergerak cepat mencari penerus. Nama mantan asistennya, Enzo Maresca, menjelma kandidat terkuat. Maresca dinilai menguasai filosofi klub dan sudah akrab dengan pemain inti seperti Erling Haaland, Rodri, hingga Ruben Dias.

Meski demikian, City sangat sadar tugas menggantikan Guardiola akan sangat berat. Mereka tak ingin mengulang nasib Manchester United yang ambruk setelah ditinggal Sir Alex Ferguson pada 2013. Untuk menghadapi masa transisi, City merasa lebih siap berkat regenerasi skuad yang dirintis Guardiola lewat tampilnya filial seperti Phil Foden, Rayan Cherki, dan Nico O'Reilly.