Ekonomi Sulit, Status Pengangguran Dianggap 'Red Flag' dan Jadi Pertimbangan saat Cari Pasangan
Ketidakpastian ekonomi dalam beberapa tahun terakhir tak hanya memengaruhi kondisi keuangan rumah tangga, tetapi juga mulai merembes ke ranah yang lebih personal, yakni dunia percintaan. Tekanan biaya hidup, kekhawatiran soal pekerjaan, hingga rasa cemas akan masa depan membuat banyak orang kini lebih berhati-hati dalam memilih pasangan.
Di tengah meningkatnya gelombang PHK, perlambatan ekonomi, dan pasar kerja yang tak lagi stabil, status pekerjaan seseorang semakin sering dipertanyakan sejak awal perkenalan. Hal yang dulu mungkin dianggap sensitif atau terlalu pribadi, kini justru muncul sebagai salah satu pertimbangan penting saat kencan, terutama di kalangan lajang yang ingin hubungan jangka panjang.
Survei terbaru menunjukkan perubahan sikap tersebut cukup signifikan. Sebanyak 29 persen orang dewasa di Amerika Serikat mengaku menganggap pengangguran sebagai red flag dalam dunia kencan.
Temuan ini berasal dari survei terhadap lebih dari 1.000 responden yang dilakukan oleh perusahaan matchmaking Tawkify. Angka tersebut menempatkan status pengangguran sejajar dengan red flag lain seperti memiliki utang berlebihan, ketidakstabilan finansial, dan ketidakmampuan menghormati batasan pribadi.
ilustrasi perencanaan finansial dengan pasangan
Masalah keuangan memang menjadi faktor yang semakin berat dalam hubungan romantis. Justin Lehmiller, senior research fellow di Kinsey Institute untuk riset seks dan hubungan serta penulis buku “Tell Me What You Want”, mengatakan tekanan ekonomi saat ini membuat banyak orang lebih defensif dalam memilih pasangan.
Menurutnya, kondisi finansial sering kali menjadi cerminan rasa aman dalam sebuah hubungan. Tekanan ini diperparah oleh realitas ekonomi yang sedang dirasakan banyak orang.
Survei Lending Tree baru-baru ini menunjukkan bahwa 72 persen warga Amerika mengatakan kondisi ekonomi saat ini membuat mereka lebih sulit membayar tagihan bulanan. Situasi ini secara alami memengaruhi cara seseorang menilai kesiapan pasangannya untuk menjalin hubungan serius.
“Ada begitu banyak stresor baru yang seolah muncul setiap hari,” kata Lehmiller, sebagaimana dikutip dari CNBC, Rabu, 17 Desember 2025. “Jika kamu sudah berjuang secara finansial, terlibat dengan seseorang yang kondisinya bahkan lebih sulit bisa menciptakan situasi yang sangat menantang.”
Namun, Lehmiller mengingatkan agar status pekerjaan tidak dijadikan satu-satunya tolok ukur dalam menilai seseorang. Menurutnya, kehilangan pekerjaan adalah sesuatu yang sangat manusiawi dan bisa terjadi pada siapa saja, terutama di tengah ekonomi global yang tidak stabil.
“Kehilangan pekerjaan, menjadi pengangguran, adalah sesuatu yang bisa terjadi pada siapa pun,” ujar Lehmiller. “Itu tidak serta-merta berarti mereka adalah orang yang buruk atau calon pasangan yang buruk.”
Menariknya, persepsi soal pengangguran sebagai red flag ternyata tidak merata di semua kelompok. Survei tersebut menemukan bahwa perempuan cenderung lebih sensitif terhadap isu ini dibandingkan laki-laki. Sekitar 20 persen perempuan mengatakan pengangguran adalah red flag, sementara pada laki-laki angkanya hanya sekitar 10 persen.
Lehmiller menjelaskan bahwa perbedaan ini bisa berkaitan dengan faktor keamanan jangka panjang. Perempuan, menurutnya, lebih mungkin memprioritaskan stabilitas, status, dan sumber daya karena faktor perlindungan diri maupun potensi tanggung jawab terhadap anak di masa depan.
Meski begitu, ia tetap menganjurkan pendekatan yang lebih terbuka dalam dunia kencan. “Saya akan berhati-hati untuk tidak menjadikan status pekerjaan sebagai red flag yang terlalu besar,” katanya. Ia menegaskan kembali bahwa pengangguran tidak selalu mencerminkan karakter, etos kerja, atau kualitas seseorang sebagai pasangan.
Dalam konteks ekonomi saat ini, batas antara pilihan pribadi dan kondisi struktural semakin kabur. Banyak orang kehilangan pekerjaan bukan karena kurang kompeten, melainkan akibat restrukturisasi perusahaan, otomatisasi, atau pemangkasan biaya. Dalam situasi seperti ini, menilai seseorang hanya dari status kerjanya bisa menjadi simplifikasi yang menyesatkan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya berdampak pada dompet, tetapi juga pada cara orang membangun dan menilai hubungan. Di satu sisi, kehati-hatian finansial adalah hal yang wajar. Namun di sisi lain, empati dan pemahaman terhadap konteks hidup pasangan juga menjadi kunci agar hubungan tidak semata didasarkan pada rasa takut akan ketidakpastian ekonomi.
Di tengah dunia kerja yang semakin rapuh, mungkin pertanyaan terpenting dalam kencan bukan lagi sekadar “Anda kerja apa atau di mana,” melainkan “bagaimana Anda menghadapi masa sulit.”