Rupiah Menguat Seiring Prediksi BI Soal Surplus Transaksi Berjalan RI Tahun 2025

Ilustrasi uang Rupiah.
Ilustrasi uang Rupiah.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.742 per Kamis, 20 November 2025. Posisi rupiah itu melemah 10 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.732 pada perdagangan per Rabu, 19 November 2025.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Jumat, 21 November 2025 hingga pukul 09.02 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.733 per dolar AS. Posisi itu menguat 3 poin atau 0,02 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.736 per dolar AS.

Ilustrasi uang rupiah

Bank Indonesia memperkirakan transaksi berjalan pada 2025 akan berada dalam kisaran surplus 0,1 persen hingga defisit atau current account deficit (CAD) 0,7 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Proyeksi tersebut mencerminkan fundamental eksternal Indonesia yang dinilai tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat, 21 November 2025.

BI mengatakan, neraca pembayaran Indonesia (NPI) sepanjang tahun ini diperkirakan berada dalam kondisi yang berdaya tahan, didukung oleh defisit transaksi berjalan yang rendah serta aliran modal yang berpotensi meningkat seiring membaiknya prospek ekonomi nasional.

Selain itu, ketahanan eksternal Indonesia hingga saat ini masih terjaga, yang terlihat dari kondisi NPI yang tetap positif dan mampu menopang stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian global.

Pada kuartal III-2025, transaksi berjalan diperkirakan mencatat surplus. Peningkatan itu didorong oleh kenaikan ekspor non-migas, termasuk penjualan minyak kelapa sawit (CPO) ke India, logam mulia dan perhiasan ke Swiss, serta batu bara ke Tiongkok.

Dari sisi transaksi modal dan finansial, investasi langsung diprediksi tetap kuat. Optimisme investor terhadap prospek ekonomi domestik menjadi salah satu faktor yang menopang aliran masuk penanaman modal asing.

Namun, BI mencatat bahwa investasi portofolio sempat mengalami net outflows. Kondisi itu dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global, yang memengaruhi preferensi investor terhadap aset negara berkembang.

Situasi tersebut mulai membaik pada kuartal IV-2025. Hingga 17 November 2025, investasi portofolio mencatat net inflow senilai US$1,8 miliar, terutama dari aliran modal ke pasar saham.

Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2025 meningkat menjadi US$149,9 miliar. Peningkatan ini memperkuat kemampuan Indonesia dalam menjaga stabilitas eksternal.

Sehingga Indonesia memiliki kecukupan untuk membiayai 6,2 bulan impor atau 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka itu jauh melampaui standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.730 - Rp 16.790," ujarnya.