Rupiah Menguat seiring Kinerja Ekspansif Sektor Manufaktur RI di Desember 2025

Ilustrasi mata uang Rupiah.
Ilustrasi mata uang Rupiah.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.725 per Jumat, 2 Januari 2026. Posisi rupiah itu melemah 5 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.720 pada perdagangan Rabu, 31 Desember 2025.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 5 Januari 2026 hingga pukul 09.00 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.722 per dolar AS. Posisi itu menguat 3 poin atau 0,02 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.725 per dolar AS.

Ilustrasi uang rupiah

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sektor manufaktur Indonesia kembali mencatatkan kinerja ekspansif pada Desember 2025, yang didukung oleh perbaikan permintaan baru.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur tetap tumbuh meskipun laju ekspansinya melambat," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Senin, 5 Januari 2025.

S&P Global mencatat Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia sebesar 51,2 pada Desember, atau turun dari 53,3 pada November. Meski mengalami penurunan, PMI manufaktur masih berada di atas ambang batas netral 50,0, yang menandakan perbaikan kesehatan sektor manufaktur telah berlangsung selama 5 bulan berturut-turut hingga akhir tahun. 

Perusahaan mencatat ekspansi tingkat sedang pada pesanan baru, ketenagakerjaan, dan aktivitas pembelian, meskipun produksi hanya meningkat marginal karena dampak kelangkaan bahan baku. Menatap tahun 2026, optimisme pelaku usaha semakin menguat dan mencapai level tertinggi sejak September.

Pendorong utama ekspansi tersebut berasal dari kenaikan pesanan baru yang terus berlanjut ke bulan kelima. Walaupun laju pertumbuhan permintaan melambat, perusahaan melaporkan bahwa peluncuran produk baru dan bertambahnya jumlah pelanggan menjadi faktor utama peningkatan penjualan.

Namun, perbaikan ini terutama didukung oleh pasar domestik, sementara pesanan ekspor baru kembali mengalami penurunan selama 4 bulan berturut-turut. 

Seiring dengan meningkatnya permintaan, aktivitas produksi juga terus bertumbuh selama dua bulan berturut-turut. Meski demikian, laju peningkatan output masih terbatas dan hanya meningkat secara marginal karena kelangkaan bahan baku yang dialami oleh sejumlah produsen.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.720 - Rp 16.750," ujarnya.

Sebagai informasi, Risalah Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Desember yang dirilis pada hari Selasa lalu menunjukkan, pejabat The Fed terpecah. Beberapa pejabat The Fed mengatakan, mungkin yang terbaik adalah membiarkan suku bunga tidak berubah untuk sementara waktu setelah komite melakukan tiga kali penurunan suku bunga tahun 2025.

Namun, beberapa pembuat kebijakan menilai bahwa kemungkinan akan tepat untuk mempertahankan penurunan suku bunga lebih lanjut, jika inflasi menurun dari waktu ke waktu.