RI Siapkan Peralihan LPG ke CNG Tahun Ini, Warga Perlu Ganti Kompor?
Rencana pemerintah mengganti LPG dengan CNG mulai menjadi perhatian masyarakat. Tak sedikit yang mempertanyakan, apakah perpindahan dari LPG ke CNG nantinya mengharuskan pengguna mengganti kompor gas di rumah?
Isu ini mencuat setelah pemerintah mulai membahas konversi energi rumah tangga dari LPG 3 kilogram menuju compressed natural gas atau CNG.
Peralihan LPG ke CNG dinilai menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG yang selama ini terus membebani anggaran negara. Selain itu, penggunaan CNG disebut lebih mengandalkan pasokan gas alam domestik yang tersedia melimpah di Indonesia.
Sebab itu, pemerintah mulai menyiapkan roadmap pengembangan CNG untuk kebutuhan rumah tangga secara bertahap. Terkait hal tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan masyarakat tidak perlu khawatir soal penggantian kompor apabila nantinya program konversi LPG ke CNG benar-benar diterapkan.
Pemerintah menyebut, kompor LPG yang digunakan masyarakat saat ini tetap bisa dipakai untuk CNG tanpa perlu membeli perangkat baru. “Kompor tidak perlu diganti, tinggal plug, sudah mengalir. Tadinya pakai LPG, sekarang pakai CNG,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Laode menjelaskan, pemerintah saat ini juga tengah mengembangkan tabung untuk menampung 3 kg CNG atau tabung tipe 4. Dalam pengembangannya, pemerintah turut memperhatikan valve tabung gas atau katup silinder yang berfungsi mengatur aliran gas sekaligus menjadi sistem pengaman utama.
Menurut dia, hasil pengujian awal menunjukkan CNG dapat langsung digunakan pada kompor rumah tangga tanpa perlu modifikasi tambahan.
“Saya sudah menyaksikan langsung penggunaan (tabung) tipe 1, itu valve-nya langsung bisa, bahkan tidak ada lagi modifikasi di kompor. Langsung plug and play, nyala kompor itu dengan CNG. Dan apinya lebih biru malah kalau saya perhatikan,” jelas Laode.
Pemerintah menilai langkah tersebut penting agar masyarakat tidak terbebani biaya tambahan ketika nantinya dilakukan peralihan energi dari LPG ke CNG. Selain itu, kemudahan penggunaan diharapkan membuat proses transisi dapat berjalan lebih cepat dan diterima masyarakat luas.
Laode juga mengungkapkan bahwa pemerintah sebenarnya telah memiliki roadmap atau peta jalan pengembangan CNG. Namun, detail kebijakan tersebut masih menunggu pengumuman resmi dari Menteri ESDM.
“Roadmap CNG sudah ada, tetapi belum diumumkan oleh Pak Menteri (ESDM Bahlil Lahadalia). Intinya, ke depan, kami akan mereduksi LPG. Kita gantikan dengan CNG,” ujar Laode.
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa penggunaan CNG sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Selama ini, teknologi tersebut sudah digunakan di berbagai sektor, mulai dari hotel, restoran, hingga program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Namun, penggunaan CNG masih terbatas pada tabung berukuran besar dengan kapasitas di atas 10 kilogram hingga 20 kilogram. Karena itu, pemerintah kini sedang menyiapkan tabung CNG berukuran kecil yang dapat digunakan rumah tangga seperti LPG 3 kilogram.
Menurut Bahlil, proses pengembangan tabung tidak bisa dilakukan sembarangan karena karakteristik tekanan gas CNG berbeda jauh dibandingkan LPG. CNG memiliki tekanan sekitar 250 bar, sedangkan LPG berada di kisaran 5 hingga 10 bar.
Perbedaan tekanan tersebut membuat desain tabung harus disesuaikan demi menjaga faktor keselamatan pengguna. Saat ini, pemerintah masih melakukan uji coba terhadap tabung CNG ukuran kecil dan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan.
Apabila hasil pengujian dinyatakan aman dan layak digunakan, pemerintah membuka peluang untuk melakukan konversi bertahap dari LPG ke CNG bagi rumah tangga.
Selain dianggap lebih efisien, pemerintah juga menilai CNG memiliki keuntungan dari sisi pasokan bahan baku. Menurut Bahlil, seluruh sumber gas alam untuk CNG tersedia di dalam negeri dan jumlahnya cukup melimpah.
Pemerintah bahkan mengklaim telah menemukan cadangan gas baru di Kalimantan Timur yang berpotensi digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi domestik. Kondisi ini dinilai dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG yang selama ini membebani anggaran negara.
Meski begitu, pemerintah masih mengkaji skema subsidi untuk CNG rumah tangga. Opsi subsidi disebut masih terbuka, tetapi mekanisme hingga volume subsidi masih dibahas lebih lanjut oleh pemerintah. (Ant)