Dibuka Menguat, IHSG Bakal Rebound Seiring Anjloknya Bursa Asia dan Rally Wall Street
IHSG dibuka menguat 43 poin atau 0,52 persen di level 8.458 pada pembukaan perdagangan Senin, 24 November 2025.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman memprediksi, IHSG bakal rebound pada perdagangan hari ini.
"IHSG berpotensi rebound hari ini, seiring dengan penguatan bursa AS," kata Fanny dalam riset hariannya, Senin, 24 November 2025.
Ilustrasi papan saham IHSG.
Bursa saham Asia kompak turun pada perdagangan Jumat kemarin, seiring investor mengurangi eksposur risiko setelah data tenaga kerja AS gagal memberikan kejelasan arah kebijakan The Fed.
Indeks Nikkei 225 Jepang turun 2,40 persen, Indeks Hang Seng anjlok 2,38 persen, CSI 300 China turun 2,44 persen, dan Taiex Taiwan menurun 3,61 persen. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan anjlok 3,79 persen dan ASX 200 Australia melemah 1,59 persen. Di sisi lain, STI Singapura turun 0,96 persen, dan FTSE KLCI Malaysia melemah 0,15 persen.
Korea Selatan menjadi salah satu pasar yang paling terkoreksi. Saham Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing turun 6 persen dan 9 persen. Sementara di Taiwan, saham TSMC jatuh 13,3 persen. Sementara di sisi emiten, saham Advantest di Jepang turun 12,10 persen, Tokyo Electron turun 7,14 persen, Lasertec terkoreksi 5,15 persen, dan Renesas Electron turun 2,65 persen.
"Support IHSG berada di level 8.360-8.400 sementara resist IHSG di rentang 8.460-8.500," ujarnya.
Sebagai informasi, Wall Street rally pada Jumat pekan lalu, setelah para trader meningkatkan spekulasi tentang penurunan suku bunga The Fed pada bulan Desember 2025. Saham Nvidia sempat melonjak setelah sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan, pemerintahan Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk memberikan lampu hijau penjualan chip kecerdasan buatan H200 perusahaan tersebut ke Tiongkok.
Indeks S&P 500 naik 0,98 persen, Nasdaq Composite menguat 0,88 persen, dan Dow Jones Industrial Average meningkat 1,08 persen. Di sisi lain, Presiden The Fed New York, John Williams yang juga anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengatakan, The Fed masih dapat memangkas suku bunga "dalam waktu dekat" tanpa membahayakan target inflasinya.
Saham-saham telah melesat dalam dua sesi terakhir, mencerminkan peningkatan kecemasan investor atas valuasi yang sangat tinggi di sektor teknologi dan atas apa yang mungkin terjadi pada pertemuan The Fed pada bulan Desember. Presiden The Fed Boston, Susan Collins, mengatakan, kebijakan "berada di tempat yang tepat," menunjukkan skeptisisme tentang perlunya penurunan suku bunga lagi.