Rupiah Menguat Seiring Optimisme Purbaya Soal Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2025
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.661 per Jumat, 28 November 2025. Posisi rupiah itu melemah 17 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.644 pada perdagangan Kamis, 27 November 2025.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 1 Desember 2025 hingga pukul 09.06 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.658 per dolar AS. Posisi itu menguat 17 poin atau 0,10 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.675 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim, kebijakan pemindahan dana pemerintah dari Bank Indonesia (BI) ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,2 persen pada kuartal IV-2025.
Dengan begitu, optimisme pertumbuhan ekonomi sepanjang Oktober, November, dan Desember tahun ini akan mampu mencapai dikisaran 5,6-5,7 persen, yang juga akan didorong paket stimulus pemerintah.
Sejumlah paket itu adalah pemberian diskon tarif tiket transportasi selama periode libur Natal dan Tahun Baru alias Nataru) 2025-2026, termasuk penambahan bantuan langsung tunai (BLT).
Pada awal September 2025 lalu, Purbaya menyalurkan anggaran negara yang disimpan di BI kepada lima bank milik negara senilai total Rp 200 triliun. Perinciannya, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI) masing-masing memperoleh likuiditas sebesar Rp 55 triliun. Kemudian, Bank Tabungan Negara (BTN) Rp 25 triliun, dan Bank Syariah Indonesia (BSI) Rp 10 triliun.
Teranyar, kemenkeu kembali menambahkan likuiditas senilai total Rp 7 triliun. Pemberian dilakukan Bank Mandiri, Bank BNI, dan BRI masing-masing Rp 25 triliun. Kemudian, Bankk DKI mendapat Rp 1 triliun. Jadi total, guyuran sudah mencapai Rp 276 triliun.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.670 - Rp 16.710," ujarnya.
Sebagai informasi, beberapa Data ekonomi AS yang tertunda dan telah dirilis, sejauh ini menunjukkan gambaran yang beragam akan kesehatan ekonomi Amerika Serikat. Dimana Non-farm Payroll (NFP) bulan September 2025 lebih kuat dari perkiraan, Indeks Harga Produsen (PPI) inti yang lebih lemah, dan Pesanan Barang Tahan Lama yang optimis, kontras dengan Penjualan Ritel yang lebih lemah dan peningkatan Tingkat Pengangguran.
Namun, meskipun sinyal ekonomi beragam, para pedagang tetap yakin The Fed akan melonggarkan kebijakan moneternya pada pertemuannya di bulan Desember 2025, dengan pasar memperkirakan probabilitas sekitar 85 persen untuk pengurangan suku bunga sebesar 25 basis poin, menurut CME FedWatch Tool.
Selain itu, Dorongan perdamaian Ukraina yang dipimpin AS menjadi fokus Washington, yang telah bekerja sama dengan Kyiv untuk merevisi kerangka kerja yang bertujuan mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir empat tahun melalui negosiasi. Proposal tersebut, yang dibahas di Jenewa dalam beberapa hari terakhir, dirancang untuk menetapkan jalur bagi jaminan keamanan bertahap dan pengaturan teritorial yang diharapkan para pejabat Barat pada akhirnya dapat menjadi dasar bagi perundingan yang lebih luas dengan Moskow.