Rupiah Menguat ke Rp 17.928 Meski OECD Proyeksi soal Potensi Pelebaran Defisit APBN RI 2026
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.981 pada Kamis, 11 Juni 2026. Posisi rupiah itu melemah 10 poin dari kurs sebelumnya di level 17.971 pada perdagangan Rabu, 10 Juni 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Jumat, 12 Juni 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.928 per dolar AS. Posisi itu menguat 60 poin atau 0,34 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.988 per dolar AS.
Mata uang Rupiah.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksi, defisit APBN 2026 Indonesia akan melebar hingga menyentuh batas aturan fiskal yaitu 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Estimasi defisit fiskal itu lebih tinggi dibandingkan dengan target awal pemerintah. Dalam asumsi APBN 2026, defisit dipatok di level 2,7 persen dari PDB.
Angka proyeksi defisit 3 persen pada 2026 ini juga tercatat meningkat dibandingkan dengan realisasi defisit pada 2025 yang berada di level 2,9 persen dari PDB. Pelebaran defisit ini utamanya dipicu oleh tekanan harga komoditas global.
Harga minyak yang lebih tinggi diperkirakan akan meningkatkan defisit anggaran sebesar 0,6 persen dari PDB melalui peningkatan belanja subsidi BBM, apabila penahanan harga BBM bersubsidi dipertahankan.
OECD mencatat bahwa pemerintah Indonesia telah memberi sinyal kuat untuk mempertahankan defisit tetap berada di bawah pagu aman 3 persen dari PDB. Untuk merealisasikan komitmen tersebut, pemerintah diyakini harus mengambil langkah kompensasi atau bauran kebijakan sebesar 0,3 persen dari PDB.
Langkah tersebut termasuk pemangkasan pengeluaran di sektor lain, serta potensi pengenaan pajak durian runtuh (windfall taxes) kepada eksportir komoditas unggulan Tanah Air.
Laju PDB Indonesia 2026 dari sisi makroekonomi, diproyeksikan pertumbuhan ekonomi (PDB) Indonesia akan melambat ke level 4,7 persen pada 2026, sebelum kembali pulih ke level 5,0 persen pada 2027.
Pelemahan laju pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya biaya energi dan tingginya ketidakpastian kebijakan, yang diperkirakan akan membebani konsumsi maupun investasi di tengah proyeksi pelemahan pasar tenaga kerja.
Sementara itu, laju inflasi diproyeksikan akan merangkak naik ke posisi 3,4 persen pada 2026. Kenaikan ini dipicu oleh transmisi bertahap dari tingginya harga energi global ke harga-harga domestik, meskipun pemerintah saat ini masih membekukan harga bahan bakar bersubsidi.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.980-Rp 18.030," ujarnya.
Sebagai informasi, komando militer gabungan tertinggi Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada hari Kamis, termasuk kapal tanker minyak dan kapal komersial. Mereka mengatakan bahwa setiap kapal yang mencoba melewatinya akan ditembak.
Blokade Iran selama berbulan-bulan terhadap selat tersebut, yang biasanya dilalui seperlima dari pengiriman minyak dan gas global, telah membuat harga minyak tetap tinggi.