Kronologi Kiper Asal Bandung Dijebak TPPO ke Kamboja, Berawal dari Iming-iming Seleksi PSMS Medan dan Bonus iPhone
Nasib nahas menimpa seorang kiper muda asal Bandung, Rizki Nurfadilah. Remaja yang bercita-cita menjadi pesepakbola profesional itu justru terjerumus dalam kasus dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja setelah menerima tawaran mencurigakan yang mengatasnamakan seleksi pemain PSMS Medan.
Kasus ini mencuat setelah video sang nenek, Imas Siti Rohanah, viral di media sosial. Dalam video tersebut, ia memohon bantuan pemerintah untuk menyelamatkan cucunya yang kini terlantar dan mengaku mengalami kekerasan di Kamboja. Imas menuturkan bahwa orang tua Rizki awalnya diberi kabar bahwa anaknya akan menjalani seleksi pemain sepak bola untuk PSMS Medan.
“Orang tuanya bilang kalau anaknya mau ikut seleksi, seleksi pemain bola untuk klub di Medan, PSMS, katanya mau seleksi ke Jakarta dulu lalu ke Medan,” ujar Imas, Selasa 18 November 2025, dikutip dari tvOne.
Namun kecurigaan mulai muncul setelah keluarga mengetahui bahwa seluruh komunikasi antara Rizki dan pihak yang menawarkan kesempatan tersebut dilakukan melalui Facebook. Kakeknya sempat meminta nomor manajer atau pelatih SSB, tetapi Rizki tidak bisa memberikannya.
Ia hanya menyebut akan dibawa oleh temannya, tapi nomor sang teman pun tidak ada. Keluarga mengaku sudah berusaha mencegah keberangkatannya, namun Rizki tetap memilih berangkat demi mengejar mimpinya.
Rizki berangkat dari kediamannya di Kampung Palasari, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung pada 26 Oktober. Keesokan harinya, pihak keluarga menerima kabar bahwa ia terbang menuju Medan. Padahal selama ini Rizki hanya bermain di liga amatir meski pernah bergabung dengan beberapa SSB di Bandung.
Namun mimpi itu berubah menjadi mimpi buruk. Pada 4 November, Rizki mengabarkan bahwa dirinya ternyata berada di Kamboja, bukan Medan. Lebih mengejutkan lagi, akun Facebook pihak yang memberangkatkannya mendadak tidak aktif.
Dalam komunikasi selanjutnya, keluarga mengaku menerima pesan yang menunjukkan kondisi Rizki sangat mengkhawatirkan. Imas menyebut cucunya mengaku sering mendapat perlakuan kasar. Ia dihukum dengan push-up ratusan kali, diminta mengangkat galon ke lantai 10, serta dijanjikan iPhone jika mau bekerja tiga hari.
Pekerjaan yang dimaksud adalah menipu warga negara Cina menggunakan komputer, sesuatu yang bahkan tidak ia kuasai. Kesalahan yang ia lakukan kemudian kembali berujung hukuman.
Keluarga kini berjuang keras memulangkan Rizki. Mereka sudah melapor ke berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah hingga KBRI. Namun sejauh ini perkembangan kasus disebut belum signifikan.
“Alhamdulillah pemerintah setempat, termasuk Pak Lurah dan Dinas Sosial, merespons dengan baik, tapi sampai sekarang belum ada perkembangan lebih lanjut. Dari KBRI diminta mengisi data, tapi setelah itu belum ada kabar,” ujar Imas.
Polda Jabar Turun Tangan
Terpisah, Kepolisian Daerah Jawa Barat menegaskan sedang mendalami dugaan TPPO yang menimpa Rizki. Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan mengatakan pihaknya membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk melaporkan dugaan perdagangan orang.
“Kami siap tindak lanjuti,” kata Rudi di Bandung dikutip Antara.
Ia menjelaskan bahwa sejauh ini belum ada laporan resmi dari keluarga. Meski begitu, polisi memastikan akan merespons setiap dugaan TPPO. Menurutnya, kepolisian akan berkoordinasi dengan imigrasi hingga Kementerian Luar Negeri untuk menelusuri kasus tersebut. Rudi menegaskan bahwa laporan bahkan bisa disampaikan secara lisan.
“Polda Jawa Barat membuka diri. Kalau ada dugaan atau peristiwa yang merupakan tindak pidana perdagangan orang, silakan mengadu ke kami. Tidak usah formal-formal, lisan saja pun cukup. Ini pasti kami respons,” ucapnya.