Tampilnya Bintang Olimpiade Dalam Kejuaraan Tenis Meja ASEAN di Bandung
Menopang atlet yang butuh jam terbang menatap SEA Games 2027, kejuaraan tenis meja antar-klub ASEAN digelar di Bandung, Indonesia.
Bertajuk Table Tennis ASEAN Club Championship (TTACC) 2026–merupakan kejuaraan tenis meja internasional tahunan antar-klub di kawasan Asia Tenggara.
Sukses melangsungkan edisi perdana di Bangkok, Thailand pada 2025, tahun ini Indonesia resmi ditunjuk jadi tuan rumah di Graha Sanusi Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, 11-13 Juni 2026.
Kejuaraan ini mempertemukan 14 klub dari berbagai negara mulai dari Filipina, Vietnam, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Indonesia.
Pada musim pertamanya klub Indonesia Arwana Jaya sukses menyabet gelar juara.
Prestasi tersebut melecut atlet tenis meja Indonesia hingga mencatat pencapaian penting di SEA Games 2025 Thailand, yakni meraih medali perak dan perunggu.
“Tahun pertama di Thailand, Indonesia sukses jadi juaranya Arwana Jaya, prestasi tersebut sangat memotivasi sekali buat atlet-atletnya, terutama kepercayaan diri karena menuju SEA Games,” kata Ketua Pelaksana Yon Mardiyono.
“Beberapa bulan kemudian ada SEA Games, dan kami setelah 25 tahun tidak dapat medali, akhirnya kami dapat medali perak sama perunggu. Jadi ini ada memang satu langkah baik,” sebut Yon.
Sentilan untuk Dualisme Federasi Tenis Meja
Gelaran Table Tennis ASEAN Club Championship 2026 resmi digelar di Graha Sanusi Unpad, Bandung, 11-13 Juni 2026.
Federasi tenis meja Indonesia mengalami dualisme tak berujung selama satu dekade antara PP PTMSI dan PB PTMSI. Konflik ini dianggap menghambat pembinaan dan prestasi atlet nasional.
Kejuaraan Table Tennis ASEAN Club Championship ini jadi oase bagi atlet nasional Indonesia untuk mendapatkan atmosfer dan ritme bermain dalam sebuah pertandingan internasional.
Yon Mardiyono yang juga merupakan mantan atlet tenis meja Indonesia melayangkan kritik tajam terhadap hantaman konflik internal kepengurusan pusat yang masih kerap menyandera iklim olahraga prestasi di tanah air.
Menurut Yon, dualisme di tingkat elite sudah terlalu banyak memakan korban, mulai dari rusaknya rantai pembinaan usia dini hingga anjloknya capaian prestasi di panggung internasional.
"Kita ketahui bersama, hingga saat ini masih ada banyak masalah yang menyumbat urat nadi olahraga prestasi di negeri ini.”
“Sengketa kepengurusan di cabang olahraga seperti tenis meja, tinju, dan sepak takraw masih menjadi hambatan klasik yang tak kunjung usai.”
“Perlu kita sadari bersama secara jernih, setiap atlet membutuhkan arena bertanding yang merdeka tanpa hambatan sengketa pengurus. Organisasi olahraga itu dibentuk murni untuk kepentingan atlet. Organisasi itu ada karena ada atlet, bukan sebaliknya," ujar Yon.
Kehadiran Atlet Olimpiade Dunia
Bintang Olimpiade asal Thailand, Orawan Paranang juga akan ikut berpartisipasi dalam kejuaraan tersebut bergabung dengan klubnya Thonburi University.
Orawan Paranang adalah atlet yang kini menduduki peringkat 85 dunia versi ITTF, meraih medali perunggu beregu putri di Asian Games 2023, mengoleksi tujuh medali emas SEA Games.
Pada kategori utama Mix Open, persaingan dipastikan makin padat dengan total 14 tim yang bertarung habis-habisan.
Masuknya tim kejutan lokal, Bandung Indonesia, menambah panjang daftar penantang bagi klub raksasa luar negeri seperti UST Philippines (Filipina), VietED Team, Hai Duong Team, Mobi Team (Vietnam), Sukma Johor (Malaysia), dan Xiaobaiqiu (Singapura).
Sementara Indonesia menumpukan harapan pada gerbong Arwana Jaya, SIM Lampung, Sukun Kudus, SCM Lampung, PRG Bali, dan ONIC Sports.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang