BMKG Beberkan Faktor Pemicu Tanah Longsor di Cilacap: Hujan Berhari-hari hingga Kondisi Atmosfer Basah

BMKG, tanah longsor, Cilacap, penyebab tanah longsor, tanah longsor di Cibeunying, operasi pencarian korban, faktor penyebab tanah longsor di Cilacap, BMKG Beberkan Faktor Pemicu Tanah Longsor di Cilacap: Hujan Berhari-hari hingga Kondisi Atmosfer Basah, Hujan berhari-hari jenuhkan tanah, Kondisi atmosfer mendukung pembentukan awan hujan tebal, Udara sangat basah di berbagai lapisan, Dukungan operasi modifikasi cuaca untuk penanganan darurat, BMKG kawal proses evakuasi di lapangan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan rangkaian faktor meteorologis yang menjadi penyebab tanah longsor di Cilacap, khususnya di wilayah Majenang.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, mengatakan hujan lebat yang berlangsung sejak awal pekan telah meningkatkan kadar air di dalam tanah, membuat lereng semakin jenuh dan rentan bergerak.

Hujan berhari-hari jenuhkan tanah

Pengamatan di Pos Hujan Majenang menunjukkan curah hujan yang signifikan pada 10-11 November 2025, masing-masing 98,4 mm/hari dan 68 mm/hari.

Setelah itu, wilayah tersebut masih mengalami hujan ringan yang mempertahankan kondisi tanah tetap basah hingga pergerakan tanah tak terhindarkan.

“Rangkaian hujan tersebut membuat kondisi tanah semakin basah dan lereng menjadi lebih rentan terhadap pergerakan,” ujar Guswanto dalam laman resmi BMKG, Sabtu (15/11/2025).

BMKG mencatat hujan dengan intensitas tinggi selama beberapa hari berturut-turut menjadi penyebab utama tanah longsor di Cilacap, memperburuk kestabilan struktur tanah terutama di wilayah perbukitan.

Kondisi atmosfer mendukung pembentukan awan hujan tebal

Selain faktor lokal, BMKG menyebut sejumlah fenomena atmosfer turut memperkuat potensi hujan lebat di Jawa Tengah, termasuk di Cilacap.

Guswanto menjelaskan, aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) dan gelombang atmosfer lain sedang melintas, sehingga mendukung terbentuknya awan hujan dalam jumlah besar.

Selain itu, terdapat pusaran angin di perairan barat Lampung dan selatan Bali, serta zona belokan angin (shearline) di sekitar Jawa, yang meningkatkan pertumbuhan awan konvektif.

“Kondisi atmosfer tersebut mendorong terbentuknya awan konvektif yang dapat menimbulkan hujan sedang hingga lebat, disertai kilat atau petir serta angin kencang,” ujarnya.

Udara sangat basah di berbagai lapisan

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menambahkan hasil pemantauan atmosfer menunjukkan kelembapan udara sangat tinggi pada beberapa lapisan atmosfer, mulai dari 850 mb, 700 mb, hingga 500 mb, dengan nilai mencapai 70-100 persen.

Kondisi udara basah di berbagai ketinggian ini membuat awan hujan dapat tumbuh lebih besar dan lebih intens.

BMKG sebelumnya telah mengeluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem untuk Cilacap pada periode 11-20 November 2025, termasuk prediksi hujan sedang hingga lebat kembali pada 19-22 November 2025.

"Pada rilis tersebut juga disampaikan bahwa hujan sedang hingga lebat diperkirakan dapat terjadi kembali pada 19-22 November 2025,” ujar Andri.

Dukungan operasi modifikasi cuaca untuk penanganan darurat

Melihat potensi lanjutan cuaca ekstrem, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menyatakan kesiapan mendukung upaya darurat pascabencana tanah longsor di Cilacap bersama BNPB melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

OMC diarahkan untuk mengurangi intensitas hujan sebelum mencapai kawasan terdampak.

"Skema penerapan OMC yang disiapkan berfokus pada pengamanan daerah bencana longsor, sehingga daerah Majenang terbebas dari hujan deras yang berpotensi memicu longsor susulan atau mengganggu proses evakuasi," terang Seto.

Bandar Udara Husein Sastranegara di Bandung diusulkan sebagai lokasi posko dan penempatan pesawat untuk efektivitas penyemaian awan.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menegaskan pelaksanaan teknis OMC akan dipertanggungjawabkan secara ilmiah oleh BMKG, sementara BNPB menyiapkan anggaran melalui Dana Siap Pakai.

BMKG kawal proses evakuasi di lapangan

Kepala Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Bagus Pramujo, menyampaikan bahwa BMKG terus memberikan informasi cuaca harian secara rinci kepada BASARNAS, BPBD, BNPB, dan instansi daerah yang menangani evakuasi.

“BMKG juga telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada hari ini (15/11/2025) dan terus memperbarui prakiraan cuaca harian,” ujar Bagus.

“Informasi meteorologis yang tepat waktu sangat dibutuhkan untuk mendukung mitigasi dan mengantisipasi kemungkinan longsor susulan,” jelas Bagus.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.