PVMBG: Intensitas Hujan dan Tanah Bergerak Jadi Penyebab Longsor di Sibolga

Sibolga, tanah longsor, longsor di Sibolga, banjir dan tanah longsor, longsor di sibolga, Sumatera Utara, penyebab longsor di Sibolga, PVMBG: Intensitas Hujan dan Tanah Bergerak Jadi Penyebab Longsor di Sibolga, Penyebab longsor di Sibolga, Kondisi geologi dan potensi gerakan tanah, Korban jiwa dan kerusakan akibat banjir dan longsor di Sibolga, Lokasi terdampak dan pendataan pengungsi, Rekomendasi mitigasi dari PVMBG

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara resmi menjelaskan penyebab tanah longsor di sejumlah titik perbukitan Kota Sibolga, Sumatera Utara sejak Senin (24/11/2025).

Longsor di Sibolga dilaporkan terjadi di enam titik yang mengelilingi kawasan Bukit Tangga Seratus.

Lokasi terdampak tersebut antara lain kawasan Tangga Seratus, area sekitar Cafe Rumah Uci di Kelurahan Pasar Baru, Bukit Aido di Kelurahan Pancuran Gerobak, Kelurahan Aek Parombunan, serta beberapa titik lain di perbukitan sisi selatan hingga tenggara Sibolga.

Penyebab longsor di Sibolga

PVMBG menyebut hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung sejak malam hingga dini hari menjadi pemicu utama tanah longsor di Sibolga.

menerus menyebabkan lereng perbukitan jenuh air dan memicu runtuhan material lapuk di bagian atas lereng.

Selain itu, longsoran terjadi karena ada gerakan tanah.

Berdasarkan rekaman visual dan kondisi geomorfologi umum wilayah Sibolga, PVMBG mengidentifikasi beberapa tipe gerakan tanah, antara lain longsoran dangkal pada lereng curam dan longsoran translasi pada bidang lemah batuan intrusi.

Selain itu, PVMBG juga mencatat adanya aliran bahan rombakan, terutama di kawasan Pasar Baru–Aek Parombunan.

Lalu, longsoran tebing jalan pada lokasi yang mengalami pemotongan lereng untuk permukiman dan jaringan jalan kota.

Secara geomorfologi, wilayah bencana berada pada morfologi perbukitan curam hingga sangat curam dengan kemiringan lereng sekitar 25-60 persen.

Permukiman di kaki lereng umumnya berdiri di atas tanah lapukan tebal dan koluvium dengan kemiringan 15-30 persen.

Lokasi seperti Tangga Seratus, Bukit Aido, dan Aek Parombunan berada pada zona transisi antara tubuh dan kaki lereng, yang dikenal sebagai area paling rentan mengalami tanah longsor.

Daerah ini juga memiliki banyak alur drainase pendek dan curam yang mempercepat aliran permukaan saat hujan lebat, sehingga meningkatkan tekanan air pori dan risiko longsor.

Kondisi geologi dan potensi gerakan tanah

PVMBG menjelaskan, keenam titik longsor di Sibolga berada pada Komplek Perbukitan Tangga Seratus yang merupakan bagian dari Granit Sibolga.

Struktur batuan di wilayah tersebut memiliki patahan berarah utara–selatan di sisi timur lokasi bencana dan rekahan batuan berorientasi barat laut–tenggara.

Kombinasi patahan dan rekahan menciptakan bidang gelincir alami, terutama pada zona batuan yang sudah mengalami pelapukan intensif.

PVMBG menegaskan bahwa Kota Sibolga secara umum berada pada zona potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi.

Artinya, wilayah ini kerap mengalami gerakan tanah lama maupun baru yang dapat aktif kembali ketika menerima curah hujan tinggi atau getaran.

Sejumlah faktor yang turut memperburuk stabilitas lereng di antaranya adalah:

  • Tanah lapukan tebal yang mudah jenuh air,
  • Keberadaan bidang foliasi dan kekar pada batuan intrusi,
  • Pemotongan lereng tanpa penguatan memadai,
  • Sistem drainase lereng yang kurang baik,
  • Beban bangunan di kaki lereng.

Permukiman yang berada dekat pertemuan aliran permukaan juga memiliki risiko lebih besar mengalami longsor translasi maupun aliran bahan rombakan saat terjadi hujan ekstrem.

PVMBG mengingatkan, potensi gerakan tanah lanjutan masih tinggi karena kondisi tanah sudah sangat jenuh air.

Sementara, hujan diperkirakan masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Korban jiwa dan kerusakan akibat banjir dan longsor di Sibolga

PVMBG dalam analisis awal menyebut bencana banjir dan tanah longsor di Sibolga menimbulkan enam korban meninggal dunia, beberapa warga masih dinyatakan hilang, serta puluhan lainnya mengungsi.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Ferry Walintukan menyampaikan data sementara mengenai dampak longsor di Sibolga berdasarkan laporan kepolisian.

“Bencana paling besar terjadi dengan enam titik longsor yang menyebabkan lima korban meninggal dan merusak sedikitnya 17 rumah dan empat warga masih dalam pencarian,” ujar Ferry Walintukan seperti dikutip Kompas.com, Rabu (26/11/2025).

Ferry belum merinci identitas maupun kronologi rinci korban, karena proses penanganan masih berlangsung di lapangan.

Ia menjelaskan, penanganan bencana bukan hanya dilakukan di Kota Sibolga, tetapi juga di wilayah lain yang terdampak cuaca ekstrem, yaitu:

  • Tapanuli Selatan,
  • Mandailing Natal,
  • Tapanuli Tengah,
  • Tapanuli Utara,
  • Nias Selatan,
  • Padangsidimpuan.

“Setiap laporan yang masuk langsung ditindaklanjuti. Tim di lapangan bekerja siang dan malam. Fokus kami adalah memastikan seluruh warga selamat serta memastikan akses vital segera dibuka kembali,” ujar Ferry.

Lokasi terdampak dan pendataan pengungsi

Kabid Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni, menjelaskan bahwa banjir dan longsor di Sibolga berdampak pada sejumlah kecamatan, meliputi Sibolga Utara, Selatan, Sambas, dan Kota.

Peristiwa banjir dan tanah longsor di Sibolga itu tercatat mulai terjadi sejak Senin (24/11/2025) sekitar pukul 21.30 WIB, ketika hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama beberapa jam.

Sri Wahyuni menyatakan, saat ini BPBD masih melakukan pendataan jumlah pengungsi, warga luka-luka, maupun korban meninggal akibat banjir dan tanah longsor di Sibolga.

“Kami masih melakukan koordinasi dengan BPBD Sibolga dalam hal penanganan bencana di lokasi terdampak,” kata Sri Wahyuni.

Rekomendasi mitigasi dari PVMBG

Untuk mengurangi risiko korban jiwa dan kerusakan lanjutan, PVMBG merekomendasikan evakuasi sementara bagi warga yang tinggal dalam radius sekitar 20-50 meter dari kaki lereng di kawasan perbukitan Sibolga.

Pemerintah daerah diimbau memasang rambu peringatan rawan longsor di titik-titik kritis, memeriksa retakan di lereng maupun bangunan, serta melakukan perbaikan pada sistem drainase lereng dan saluran aliran air permukaan.

Dalam jangka menengah, PVMBG menyarankan upaya stabilisasi lereng melalui pemasangan bronjong, pembangunan dinding penahan tanah (retaining wall), serta penanaman vegetasi berakar dalam untuk memperkuat struktur lereng.

Sedangkan dalam jangka panjang, relokasi permukiman dari zona sangat rawan dan pengendalian tata ruang di kawasan perbukitan, yang dinilai penting untuk menekan risiko bencana tanah longsor berulang di Kota Sibolga.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.tv dengan judul “PVMBG Ungkap Penyebab Longsor di Sibolga: Lereng Curam dan Hujan Ekstrem” dan di Kompas.com dengan judul “Update Banjir dan Longsor Sibolga: 5 Orang Tewas, 4 Hilang, dan 17 Rumah Rusak”.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang