3 Faktor Pemicu "Debris Flow" di Cisarua KBB, Ketebalan Tanah Capai 15 Meter

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan hasil investigasi terkait bencana tanah longsor yang menerjang kawasan Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi, Anjar Heri Waseso, menegaskan bahwa fenomena yang terjadi di Cisarua bukan merupakan longsoran biasa.
Bencana ini dikategorikan sebagai aliran bahan rombakan atau debris flow yang memiliki daya rusak sangat tinggi.
Berdasarkan investigasi lapangan, terdapat tiga faktor utama yang saling berkaitan sehingga memperbesar skala kerusakan di lokasi kejadian.
1. Kondisi Morfologi yang Ekstrem
Faktor pertama yang menjadi sorotan adalah kemiringan lereng yang sangat curam di titik awal pergerakan tanah. Anjar menjelaskan adanya perbedaan ketinggian yang mencolok antara daerah sumber longsor dengan daerah landaan (wilayah yang diterjang).
“Morfologi adanya perbedaan-perbedaan tinggi morfologi antara daerah landaan dan daerah ancaman. Jadi, itu sangat tinggi sekali. Kemiringan mulai dari ekstrem sekitar 30 sampai 40 derajat, kemudian menuju ke kemiringan antara 20 sampai 30 derajat,” ujar Anjar, Selasa (27/1/2026).
Kecuraman ini menyebabkan material tanah memiliki energi potensial yang besar, sehingga saat bergerak ke bawah, kecepatannya meningkat drastis.
2. Ketebalan Tanah Vulkanik Mencapai 15 Meter
Faktor kedua berasal dari karakteristik geologi setempat. Di lokasi Pasirlangu, ditemukan lapisan tanah vulkanik hasil pelapukan yang sangat tebal, yakni lebih dari 15 meter.
Material vulkanik ini memiliki sifat gembur dan sangat mudah menyerap air. Ketika curah hujan tinggi, tanah tersebut mengalami penjenuhan.
“Tanah setebal itu mengalami penjenuhan akibat pemicu eksternal. Saat mencapai titik jenuh, material tersebut tertransportasi ke lereng bawah dalam volume yang besar,” jelas Anjar.
3. Curah Hujan Ekstrem dan Drainase Alami
Faktor ketiga adalah intensitas hujan yang melampaui batas normal. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan saat kejadian tercatat di atas 200 milimeter per hari.
Kondisi ini diperparah dengan sistem drainase alami yang menjadi titik akumulasi air. Air hujan terkonsentrasi pada satu jalur sempit sehingga menciptakan daya kikis (erosi) yang sangat kuat.
“Sehingga menciptakan suatu erosional yang sangat kuat. Pada saat sampai di titik landai, dia akan menyambar seperti mengikuti jalur sungai yang sudah ada,” imbuh Anjar.
Bagaimana dengan Alih Fungsi Lahan?
Lanskap lokasi longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Selasa (27/1/2026).
Terkait spekulasi mengenai alih fungsi lahan sebagai penyebab utama, Anjar tidak menampik hal tersebut turut memberi pengaruh. Namun, ia menekankan bahwa faktor geologi dan morfologi tetap menjadi penyebab dominan dalam kasus di Cisarua ini.“Faktor alih fungsi memang berpengaruh, tapi kita lihat sumbernya memang di morfologi yang sangat curam dan tanah yang gembur. Karena butiran tanahnya kecil, ia bisa mengalir sangat jauh,” ucapnya.
Badan Geologi menyatakan secara tegas bahwa area bekas longsoran di Pasirlangu sudah tidak layak untuk dihuni kembali. Risiko keselamatan warga menjadi pertimbangan utama mengapa relokasi harus segera dilakukan.
“Kita harus tinggalkan itu. Kita harus relokasi daerah yang sudah terlanda sekarang ini,” tegas Anjar.
Pihaknya juga memperingatkan adanya potensi longsor susulan.
Hal ini dikarenakan jalur aliran material sudah terbentuk sempurna dan masih terdapat sisa-sisa material tanah di bagian atas lereng yang sewaktu-waktu bisa turun jika dipicu hujan lebat.
Saat ini, Badan Geologi tengah melakukan pemetaan ulang untuk menentukan batas zona bahaya yang baru.
“Nanti daerah ancaman akan kita buat delineasi kembali yang menunjukkan daerah ancaman ke depan seperti apa kalau terjadi longsoran susulan,” pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Badan Geologi Ungkap Longsor Cisarua KBB Bukan Longsor Biasa Tapi 'Tsunami Tanah' Setebal 15 Meter
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang