Kemenkes Beberkan Fakta tentang Campak: Gejala, Penularan, dan Faktor Risiko

campak, gejala campak, Kemenkes Beberkan Fakta tentang Campak: Gejala, Penularan, dan Faktor Risiko

Campak menyita perhatian publik, seiring laporan kasus yang meningkat di sejumlah daerah.

Banyak pihak pun mempertanyakan, apa saja gejala campak yang bisa diwaspadai. 

Dokter umum RS Sari Asih Cipondoh, dr. Putri Mutiara Sari mengatakan, gejala campak sering kali menyamar sebagai flu biasa di tahap awal, yang diikuti panas tinggi, dan biasanya baru muncul tujuh hingga 14 hari setelah anak terpapar virus.

Setelah flu menyerang anak, kemudian diikuti kombinasi gejala lainnya seperti demam drastis yang bisa melonjak tajam hingga menyentuh angka 40°C.

Kemudian muncul gejala pernapasan dan mata dengan kondisi batuk kering, hidung tersumbat, serta mata yang memerah dan berair.

Gejala lainnya adalah bintik koplik sebagai tanda khas di area dalam mulut yakni pipi bagian dalam. Jika ada bintik putih keabu-abuan dengan dasar merah, maka itu tanda kuat campak yang muncul 1-2 hari sebelum ruam luar terlihat.

"Sedangkan untuk ruam merah yang menyebar biasanya muncul pertama kali di area wajah dan belakang telinga, lalu turun menyebar ke seluruh tubuh hingga kaki dalam waktu sekitar satu minggu," kata dr. Putri Mutiara Sari di Tangerang Sabtu, dilansir dari Antara.

Apabila telah diketahui terdiagnosis campak, maka fokus utama adalah menjaga kenyamanan dan mempercepat pemulihan dengan istirahat total dan Isolasi untuk memutus rantai penularan.

Tetapi jika demam tinggi tak kunjung reda dalam tiga hari, maka segera bawa anak ke dokter.

Sebelumnya diberitakan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang telah mengeluarkan imbauan bagi anak-anak yang mengalami gejala campak untuk tidak berangkat ke sekolah guna mencegah penularan lebih luas karena adanya lonjakan kasus pada awal tahun 2026.

Kepala Dinkes Kota Tangerang Dini Anggraeni mengatakan, kasus campak di Kota Tangerang sejak akhir 2025 hingga awal 2026 alami tren peningkatan dan masih bersifat fluktuatif setiap minggunya dengan jumlah kasus mencapai ratusan setiap bulan.

Faktor risiko terkena campak

Konferensi pers Kementerian Kesehatan yang dilakukan secara daring pada Kamis (26/2/2026), menjelaskan gambaran penyakit campak secara jelas.

Dokter Andi Saguni, MA, Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes mengungkap, penularan campak adalah melalui droplet dan air borne transmission (percikan air liur atau ludah).

"Hal ini terutama terjadi saat batuk, bersin, atau jika bersentuhan dengan benda yang terkontaminasi," paparnya.

Sedangkan faktor risiko penularan adalah:

  • Mereka yang belum atau tidak lengkap imunisasi campak-rubella
  • Ada kontak erat dengan penderita campak
  • Status gizi yang kurang baik
  • Tidak menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Vaksinasi campak sendiri memiliki 3 tahapan, yaitu:

  • 9 bulan: imunisasi campak rubella (MR) dosis 1
  • 18 bulan: imunisasi campak rubella (MR) dosis 2
  • Kelas 1 SD: imunisasi campak rubella (MR) pada anak sekolah (BIAS).

Gejala dan pengobatan campak

Lebih lanjut, dr Andi juga menjelaskan, gejala campak yang bisa dideteksi oleh masyarakat yaitu:

  • Demam
  • Ruam makulopapular
  • Batuk/pilek
  • Konjungtivitis
  • Gatal-gatal
  • Terkadang diare.

Pengobatan campak sendiri mencakup:

  • Pemberian vitamin A
  • Pengobatan simtomatis kasus yang tidak komplikasi
  • Pengobatan kasus dengan komplikasi.

Masa inkubasi biasanya 7-18 hari, dengan rata-rata kejadian adalah 10 hari.

"Demam umumnya pada kurang lebih hari ke-15 setelah paparan. Sedangkan ruam biasanya muncul kurang lebih pada hari ke-18 setelah paparan," ucapnya.

Upaya yang perlu dilakukan masyarakat demi mencegah meningkatnya kasus campak adalah:

  • Periksa status imunisasi anak, pastikan anak sudah mendapatkan imunisasi MR lengkap.
  • Bagi yang berada di wilayah yang sedang dilaksanakan kampanye campak, diharapkan berpastisipasi agar anak mendapatkan perlindungan.
  • Segera bawa anak ke puskesmas atau rumah sakit  jika mengalami demam dan ruam (bercak merah) untuk mendapatkan penanganan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang