Longsor Banjarnegara 2025. Warga Berlarian ke Tempat Aman Saat Tanah Retak dan Kondisi Gelap

Suasana mencekam menyelimuti Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, setelah longsor besar mengguncang wilayah itu pada Sabtu (15/11/2025) sore.
Dalam gelap, warga berlarian menyelamatkan diri di tengah suara tanah yang terus retak dan ancaman longsor susulan.
Hingga Senin (17/11/2025), sedikitnya 51 warga berhasil menyelamatkan diri dan kini berada di lokasi pengungsian, Kantor Kecamatan Pandanarum. Raut lelah dan duka tampak jelas di wajah para penyintas.
Berlari dalam Gelap, Tanah Retak di Belakang
Salah satu warga, Tusri, menggambarkan detik-detik mencekam saat tanah di pemukiman mereka mulai bergerak.
“Dalam kondisi gelap dan panik, kami berlari menuju kandang sapi dan kambing,” ujarnya, Senin (17/11/2025).
Kandang ternak itu merupakan titik aman yang telah disiapkan sekitar 300 meter dari lokasi longsor.
Meski demikian, perjalanan menuju lokasi tersebut sangat sulit. Di tengah kepanikan, suara tanah yang terus merekah membuat warga berlarian sambil menangis.
“Suara retakan tanah keras sekali. Ada ibu-ibu yang manggil-manggil anaknya karena belum ketemu kemarin malam,” kata Tusri.
Ia bercerita, momen itu mengingatkan pada kejadian longsor pada 2017.
“Dulu pernah ada kejadian serupa, tapi tidak separah ini. Waktu itu juga diarahkan mengungsi ke kandang sapi,” tuturnya.
Mengungsi di Kandang Sapi
Di dalam kandang sapi tempatnya berlindung, ada 13 warga yang bertahan. Warga lain menyebar di beberapa kandang lain.
“Total ada 51 orang yang bertahan. Kami ke situ karena sudah diberitahu kalau ada apa-apa, larinya ke kandang itu. Katanya lebih aman, jauh dari tebing longsoran,” jelasnya.
Selama berada di kandang ternak, warga tetap mendapatkan bantuan logistik.
“Tetap dapat, semua lengkap. Ada makanan dan minuman, tidak ada yang kekurangan,” ujarnya.
Warga mengungsi sejak Minggu (16/11/2025) pukul 16.00, dan baru berhasil dievakuasi pada Senin (17/11/2025) sekitar pukul 11.2i WIB.
Untuk mencapai titik jemput, mereka harus berjalan kaki selama dua jam melewati jalan yang retak, licin, dan rawan longsor susulan.
Rumah Retak, Jalan Ambles
Setibanya di lokasi pengungsian, Tusri dan warga lainnya tampak kelelahan. Relawan sigap memberikan makanan dan minuman.
Ia mengungkapkan, hampir seluruh rumah warga terdampak mengalami kerusakan.
“Rumah saya sudah retak, jalan juga pada retak, rumah-rumah sudah pada miring,” ucapnya.
Sebagian harta benda berhasil diselamatkan, namun banyak warga tak membawa pakaian ganti.
“Cuma bawa yang dipakai ini saja,” kata Tusri.
Meski begitu, ia berharap pemerintah dapat segera memberikan penanganan jangka panjang.
“Semoga cepat selesai. Nggak ada kejadian seperti ini lagi. Kalaupun rumah dipindahkan, tidak apa-apa. Yang penting aman.”
Dua Korban Meninggal, 27 Warga Belum Ditemukan
Sementara itu, proses pencarian korban terus dilakukan. Tim SAR gabungan menemukan satu jenazah pada Senin (17/11/2025) pagi.
Kalakhar BPBD Banjarnegara, Aji Piluroso, menyebut korban adalah Esiah (24), warga Dusun Situkung. “Setelah dilakukan pembersihan oleh tim medis, jenazah diserahkan kepada pihak desa dan keluarga,” ujarnya.
Sebelumnya, ibu Esiah, Klewih, ditemukan pada Minggu (16/11/2025) dan sempat dirawat di RSUD Banjarnegara, namun meninggal pada Senin pagi.
Suami Esiah, Misron, masih kehilangan putri mereka, Layana Al Husna (3), yang hingga kini belum ditemukan.
“Saya harap tim bisa segera menemukan anak saya dalam keadaan selamat, meskipun kondisi di lapangan sangat berat,” ujarnya.
Jumlah pengungsi kini meningkat menjadi 823 jiwa. Di sisi lain, 27 warga masih belum diketahui keberadaannya, apakah mengungsi di titik lain atau turut menjadi korban tertimbun longsor.
Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul Saat Tusri Lari Cepat ke Kandang Sapi, Panik Selamatkan Diri dari Kejaran Longsor di Banjarnegara
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.