Pencarian Korban Longsor Cibeunying Dihentikan karena Hujan, 20 Warga Masih Hilang

korban longsor, Cibeunying, longsor Cibeunying, Cibeunying longsor, Pencarian Korban Longsor Cibeunying Dihentikan karena Hujan, 20 Warga Masih Hilang

Operasi pencarian korban longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, kembali terhambat.

Pada hari kedua, Jumat (14/11/2025), tim SAR terpaksa menghentikan proses pencarian karena hujan deras yang membuat kondisi lokasi bencana semakin berbahaya.

Hingga sore hari, tiga korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Sementara itu, 20 warga lainnya—yang sebelumnya dilaporkan hilang—belum berhasil ditemukan dan diduga masih tertimbun material longsor.

Kepala Kantor SAR (Basarnas) Cilacap, M Abdullah, menjelaskan bahwa penghentian pencarian dilakukan demi keamanan personel yang bekerja di medan sangat labil.

“Operasi SAR di hari kedua pada hari ini pada pencarian korban longsor di Desa Cibeunying pada pukul 15.30 WIB kami hentikan dikarenakan cuaca hujan,” ujar Abdullah di lokasi.

Ia menegaskan bahwa operasi akan dilanjutkan kembali bila hujan mereda. Namun jika kondisi tidak memungkinkan, pencarian baru akan dilanjutkan esok hari.

“Kami tetap akan berupaya semaksimal mungkin… namun demikian, tetap kami akan selalu mempertimbangkan dan memprioritaskan keselamatan tim SAR,” katanya.

Belasan Rumah Rata Tanah dalam Hitungan Detik

Longsor besar menerjang Dusun Cibuyut dan Tarukahan, Desa Cibeunying, pada Kamis (13/11/2025) malam. Suara gemuruh keras terdengar sesaat sebelum tanah tebing ambrol dan menimbun permukiman di bawahnya. Belasan rumah roboh dalam sekejap.

Dua korban pertama ditemukan pada malam kejadian, disusul satu korban lainnya pada keesokan hari. Sementara itu, upaya pencarian 20 orang hilang terus dilakukan.

Kesaksian warga menggambarkan betapa cepat dan tiba-tibanya peristiwa tersebut. Yayung (62), salah satu korban selamat, menceritakan detik-detik ketika tanah bergerak.

"Saya baru pulang tahlilan, masih di teras cuci kaki. Tiba-tiba ada suara gemuruh keras banget, seperti suara pesawat," ungkapnya.

Dua anak Yayung selamat meski sempat tertimpa reruntuhan, sementara seluruh barang berharga miliknya tertimbun longsor.

Kisah serupa disampaikan Edi, warga lain yang menyaksikan langsung material tanah bergerak cepat dari arah bukit.

"Tiba-tiba ada bunyi gemuruh, keras sekali. Kayak suara truk nurunin muatan," ujarnya. Ia berlari menyelamatkan anaknya di tengah kondisi gelap dan angin kencang saat longsor menerjang.

Tidak Ada Target Waktu Pencarian

Abdullah menyebut operasi SAR tidak dibatasi target waktu tertentu. Proses pencarian akan terus dilakukan selama kondisi memungkinkan.

“Kami tidak akan menarget untuk berapa lamanya… kita akan melaksanakan operasi SAR secara maksimal,” tegasnya.

Sebelumnya, BPBD Cilacap menjelaskan bahwa longsor dipicu hujan dengan intensitas tinggi sejak Kamis sore serta kontur tanah yang labil. Material tebing dilaporkan ambrol sekitar pukul 20.00 WIB dan menimbun rumah-rumah warga di bawahnya.

Hingga kini, tim gabungan dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, relawan, serta masyarakat masih bersiaga di lokasi menunggu cuaca membaik untuk melanjutkan evakuasi.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.