JPMorgan Ungkap Alasan Bitcoin Lebih Menarik dari Emas, Harganya Bisa Tembus US$266.000
Perusahaan investasi multinasional asal Amerika Serikat (AS), JPMorgan, memberikan pandangan yang cukup kontras dengan sentimen pasar saat ini. Di tengah tekanan hebat yang melanda pasar kripto, JPMorgan menilai Bitcoin memiliki daya tarik jangka panjang yang lebih kuat dibandingkan emas maupun perak sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Dalam laporan terbarunya, JPMorgan menyoroti pergeseran perilaku pasar di mana Bitcoin semakin terlepas dari pergerakan aset safe haven tradisional seperti emas dan perak. Sepanjang 2025, harga emas naik lebih dari 60 persen ditopang pembelian agresif bank sentral serta lonjakan permintaan.
Sebaliknya, Bitcoin mengalami koreksi hingga memasuki tahun 2026 bahkan mencatatkan penurunan tajam berulang. Kondisi ini mencerminkan menurunnya daya tarik Bitcoin sebagai instrumen lindung nilai jangka pendek, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar global dan tekanan pada aset berisiko.
“Aset digital kembali berada di bawah tekanan dalam sepekan terakhir seiring melemahnya aset berisiko, termasuk saham teknologi. Namun, emas dan perak yang dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap skenario bencana justru mengalami koreksi tajam,” jelas Analis JPMorgan, Nikolaos Panigirtzoglou, dikutip dari Coindesk pada Rabu, 11 Februari 2026.
Ilustrasi Emas
Panigirtzoglou menambahkan, tekanan meluas ke produk investasi berbasis kripto. JPMorgan mencatat adanya arus keluar dana (redemption) dari ETF Bitcoin dan Ether, yang mencerminkan sentimen negatif baik dari investor institusi maupun ritel.
Kondisi pasar yang melemah juga berdampak pada pasokan stablecoin yang tercatat mengalami kontraksi. Hal ini menjadi indikasi tambahan bahwa minat investor terhadap aset kripto tengah berada pada fase defensif.
Meski demikian, JPMorgan menegaskan tekanan jangka pendek tersebut tidak menghilangkan potensi Bitcoin dalam jangka panjang. Justru, JPMorgan menilai volatilitas Bitcoin lebih rendah dibandingkan emas dapat menjadi keunggulan.
Laporan JPMorgan mencatat, emas terus mengungguli Bitcoin sejak Oktober 2025. Lonjakan volatilitas emas membuat Bitcoin terlihat lebih menarik secara relatif dari sisi risiko.
Secara teoritis, jika Bitcoin memiliki tingkat volatilitas yang setara dengan emas maka harga Bitcoin harus berada di kisaran US$266.000 agar sebanding dengan nilai investasi yang mengalir ke emas. Meski demikian, JPMorgan menilai target tersebut tidak realistis untuk dicapai dalam waktu dekat.
“Ini menunjukkan potensi kenaikan jangka panjang ketika sentimen negatif berbalik dan Bitcoin kembali dipersepsikan setara dengan emas sebagai lindung nilai terhadap skenario bencana," tulis analis JPMorgan.
JPMorgan tidak menamapik narasi Bitcoin sebagai emas digital memang semakin memudar. Perbedaan karakteristik antara keduanya justru membuka ruang bagi Bitcoin untuk membentuk identitasnya sendiri sebagai aset lindung nilai alternatif di masa depan.
Menurut analis, volatilitas Bitcoin yang relatif lebih stabil dibandingkan emas saat ini menjadi sinyal bahwa pasar mulai menempatkan aset kripto tersebut pada fase maturitas baru. Jika persepsi investor terhadap Bitcoin kembali membaik, potensi aliran dana jangka panjang dinilai masih terbuka lebar.
Kendati demikian, JPMorgan mengingatkan bahwa dalam jangka pendek, pasar kripto masih akan dibayangi tekanan dari arus keluar ETF, likuidasi kontrak berjangka, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter global.
JPMorgan melihat Bitcoin sangat potensial menjadi alternatif lindung nilai yang lebih menarik dalam jangka panjang saat emas jadi primadona sebagai aset safe haven. Terlebih saat sentimen pasar pulih dan volatilitas emas tetap tinggi.