Keuntungan Investasi Bitcoin Diprediksi Kalahkan Saham dan Emas di 2026, Kok Bisa?
Setelah dua tahun berturut-turut mencetak imbal hasil di atas 100 persen, kinerja bitcoin justru mengecewakan pada 2025. Mata uang kripto terbesar di dunia itu diperkirakan menutup tahun dalam tren bearish, dengan penurunan sekitar 6 persen dibandingkan level awal tahun.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan ekspektasi sebagian investor yang sebelumnya optimistis, terutama setelah kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih dan sentimen positif terhadap aset kripto yang menguat di awal masa jabatan keduanya.
Namun, pelemahan tersebut dinilai bukan akhir dari cerita. Perusahaan riset dan pialang kripto K33 justru melihat 2026 sebagai momentum kebangkitan bitcoin. Dalam laporan terbarunya kepada klien, K33 menilai bahwa kinerja buruk bitcoin sepanjang 2025 lebih disebabkan oleh faktor sementara di pasar kripto, bukan pelemahan fundamental jangka panjang.
Adanya kombinasi kebijakan moneter, dukungan politik, hingga regulasi baru, K33 memproyeksikan bitcoin akan mengungguli saham dan emas pada 2026.
Dalam laporannya, K33 menyebut sebagian besar underperformance bitcoin tahun lalu berasal dari “gelembung yang terisolasi” dan “ketidakseimbangan leverage sementara” di pasar kripto. “Ketika harga dan fundamental bergerak berlawanan arah, peluang akan muncul. Dengan pemikiran ini, kami memasuki 2026 dengan pandangan bullish yang konstruktif,” tulis K33, sebagaimana dikutip dari Business Insider, Jumat, 2 Januari 2026.
“Bitcoin akan mengungguli indeks saham dan emas pada 2026,” tegasnya. Berikut enam katalis utama yang menurut K33 akan mendorong kenaikan harga bitcoin tahun ini.
Bitcoin dan aset kripto.
1. Harga Bitcoin Dinilai Masih Murah
K33 menilai harga bitcoin saat ini berada di level yang menarik karena kembali ke “level pra-Trump”. Bitcoin yang sempat masuk ke bear market teknikal pada November tercatat turun sekitar 44 persen dari puncaknya di kisaran US$126.000 atau setara Rp2,10 miliar. Dari level US$109.000 atau setara Rp1,82 miliar saat hari pelantikan Trump, harga bitcoin juga masih lebih rendah sekitar 24 persen. “K33 memandang BTC secara fundamental masih undervalued dibandingkan kelas aset lainnya,” tulis para periset.
2. Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Bank Sentral AS (The Fed) diperkirakan akan melanjutkan pemangkasan suku bunga pada 2026. Lingkungan kebijakan moneter yang lebih longgar ini dinilai akan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Pasar saat ini memperkirakan peluang 74 persen bahwa The Fed akan memangkas suku bunga setidaknya dua kali atau lebih hingga akhir tahun depan. “Lingkungan kebijakan moneter ini sangat kontras dengan 2018 dan 2022, sehingga mengurangi kemungkinan terulangnya pola pasar bearish sebelumnya,” kata K33.
3. Dukungan Pemerintahan Trump terhadap Kripto
K33 menilai pemerintahan Trump akan terus mendukung integrasi kripto ke dalam sistem keuangan. Trump selama ini memposisikan diri sebagai presiden yang pro-kripto, termasuk menunjuk figur ramah kripto ke jajaran pemerintahannya dan menandatangani sejumlah perintah eksekutif yang memperbaiki sentimen pasar.
“Bitcoin dan kripto mendapat dukungan dari pemerintahan,” tulis K33. “Harga bitcoin masih jauh dari mencerminkan perubahan ini, dan kami percaya 2026 menghadirkan setup yang menarik bagi bitcoin dan kripto lain di tengah integrasi yang semakin kuat dengan keuangan tradisional.”
4. Cadangan Bitcoin Strategis AS
K33 memperkirakan pemerintah AS saat ini memegang sekitar 233.736 bitcoin, dengan nilai sekitar US$20 miliar atau setara Rp334 triliun. Strategi menahan aset ini dinilai positif bagi pasar.
“Bahkan jika pemerintah AS tidak pernah membeli BTC, strategi menahan ini bersifat positif bagi pasar. Di masa lalu, koin sitaan dianggap sebagai tekanan jual yang tak terhindarkan; kini koin tersebut secara efektif dikeluarkan dari pasar,” tulis K33.
5. Akses Bitcoin ke Dana Pensiun
Trump menandatangani perintah eksekutif pada Agustus untuk meninjau aturan dana pensiun 401(k), yang berpotensi membuka jalan bagi aset alternatif seperti kripto. Jika hanya 1 persen dana 401(k) dialokasikan ke bitcoin, nilainya bisa mencapai US$87 miliar atau setara Rp1.453 triliun, menurut estimasi K33.
“Dikombinasikan dengan panduan positif dari penasihat keuangan Morgan Stanley dan Bank of America, ini membentuk fondasi kuat bagi penyerapan BTC yang signifikan pada 2026 dan masih sangat diremehkan oleh pasar,” tulis K33.
6. Hadirnya CLARITY Act
CLARITY Act, rancangan undang-undang kripto yang akan mengatur kerangka penggunaan dan perdagangan aset digital oleh bank dan perusahaan kripto, telah lolos di DPR AS. Senat diperkirakan akan melakukan pemungutan suara pada kuartal pertama tahun depan.
Regulasi ini dinilai akan mempercepat keterlibatan lembaga keuangan tradisional dalam ekosistem kripto. “Bank-bank telah hadir, dan kehadiran mereka akan semakin meningkat,” tulis periset K33.
Kombinasi valuasi yang dinilai murah, kebijakan moneter longgar, dukungan politik, serta kepastian regulasi, K33 melihat 2026 sebagai tahun krusial bagi bitcoin. Jika proyeksi ini terealisasi, aset kripto terbesar dunia itu berpeluang kembali mencetak rekor baru dan mengungguli instrumen investasi tradisional seperti saham dan emas.