Mungkinkah Korban Bullying Bisa Bertindak Nekat? Ini Penjelasan Ahli
Perundungan atau bullying di sekolah tidak bisa dianggap sepele. Sebab dampak yang ditimbulkan begitu besar terutama untuk korban perundungan.
Baik perundungan langsung maupun tidak langsung dapat meninggalkan luka emosional dan psikologis. Jika tidak terlalu parah atau hanya berlangsung singkat, korban mungkin bisa pulih lebih cepat. Namun, banyak juga yang mengalami efek jangka panjang yang sulit dihapus.
Dulu, para ahli belum sepenuhnya memahami bahwa perundungan di masa kecil bisa menjadi penyebab gangguan mental di masa depan. Kini, kesadaran akan dampak psikologis perundungan semakin meningkat bukan hanya bagi korban, tetapi juga bagi pelaku. Efek terhadap kesehatan mental bisa muncul segera setelah kejadian maupun bertahun-tahun setelahnya.
Salah satu yang patut diwaspadai adalah masalah emosi dan amarah akibat menjadi korban perundungan. Melansir laman mental health, meski bukan gangguan mental resmi, masalah amarah sering muncul akibat perundungan pada korban. Korban mungkin menggunakan kemarahan sebagai bentuk perlindungan diri atau bahkan memendam keinginan untuk membalas.
Meski lebih jarang, ada juga korban bullying yang menyalurkan rasa sakit dan frustrasi mereka dengan cara agresif terhadap orang lain. Seperti dalam penelitian yang dipublikasikan di Journal of School Violence menunjukkan bahwa beberapa pelaku kekerasan di sekolah (school shooting) di Amerika Serikat dulunya pernah menjadi korban bullying berat. Namun, penting ditekankan bahwa tidak semua korban bullying menjadi pelaku kekerasan, hal ini biasanya terjadi jika korban sudah lama menumpuk kemarahan tanpa outlet yang sehat, dan tidak mendapatkan dukungan psikologis.
Tak hanya menyakiti orang lain, korban perundungan juga berisiko melakukan tindakan berbahaya lainnya terhadap dirinya seperti melukai diri sendiri atau self harm atau bahkan tindakan bunuh diri. Dalam studi yang dilakukan oleh Center for Disease Control and Prevention (CDC) di tahun 2023 lalu menunjukkan remaja yang mengalami perundungan baik di sekolah atau perundungan di media sosial memiliki kemungkinan dua kali lebih tinggi untuk mencoba bunuh diri dibanding mereka yang tidak pernah menjadi korban.
Cara Mengatasi Trauma Akibat Perundungan
Satu-satunya cara untuk benar-benar pulih dari trauma perundungan adalah dengan menemukan strategi pemulihan yang tepat. Setelah tidak lagi berhadapan langsung dengan pelaku, korban perlu fokus pada perawatan diri dan penyembuhan emosional.
Korban perlu merebut kembali kendali atas hidup mereka dengan cara mencari dukungan sosial yang positif. Berada di lingkungan aman dapat membantu mereka mengatasi rasa takut dan kecemasan sosial. Itulah sebabnya kelompok dukungan menjadi wadah penting untuk saling berbagi pengalaman dan bangkit bersama.
Selain itu, terapi juga sangat membantu dalam proses penyembuhan. Melalui terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy), terapis dapat membantu korban memahami sumber traumanya dan mengubah pola pikir negatif menjadi lebih sehat.
Beberapa teknik seperti menulis jurnal, bermain peran, meditasi, dan terapi paparan juga bisa digunakan untuk membantu korban memahami dan melepaskan emosi yang terpendam akibat perundungan.
Bangkit Setelah Menjadi Korban
Perundungan bisa meninggalkan luka emosional yang dalam dan bertahan lama. Korban berisiko tinggi mengalami depresi, kecemasan, dan PTSD. Meski kejadian sudah berlalu, dampak psikologisnya sering kali masih membekas. Karena itu, dukungan dari keluarga, teman, dan komunitas sangat penting sejak awal.
Banyak korban kesulitan menyesuaikan diri secara emosional dan kehilangan kepercayaan diri, yang berimbas pada prestasi akademik maupun karier. Dukungan dari sesama korban bisa membantu, namun pendampingan profesional sering kali tetap dibutuhkan untuk benar-benar pulih.
Pemulihan itu mungkin. Tidak ada yang perlu malu untuk mencari bantuan. Dengan dukungan yang tepat, para korban bisa membangun kembali hidupnya dan menemukan kekuatan dari pengalaman pahit tersebut. Mengakhiri siklus perundungan membutuhkan usaha bersama, karena membantu satu orang pulih bisa menciptakan budaya empati yang lebih luas di masyarakat.