Jangan Dianggap Sepele! Separah Ini Dampak Bullying Terhadap Korban

Ilustrasi Bullying
Ilustrasi Bullying

 Kasus dugaan perundungan atau bullying kembali menimpa dunia pendidikan tanah air. Kali ini, menimpa mahasiswa jurusan Sosiologi Universitas Udayana, Timothy Anugerah. Timothy Anugrah meninggal dunia pada Rabu pekan lalu 15 Oktober 2025 setelah melompat dari lantai gedung FISIP Udayana. Timothy meninggal diduga bunuh diri lantaran diduga mendapat perundungan alias bullying yang dialaminya.

Bahkan, setelah meninggal dunia, Timothy juga masih menjadi korban perundungan oleh teman-temannya di grup chat WhatsApp. Terkait dengan kasus perundungan yang terus terjadi di dunia pendidikan, psikolog klinis sekaligus dosen psikolog, Meity Arianty angkat bicara.

Meity melihat bahwa memang kasus bullying merupakan masalah yang terus ada dan seakan tida pernah benar-benar selesai meskipun telah banyak upaya yang dilakukan untuk pencegahan dan penyelesaian masalah ini. Dirinya menjelaskan fenomen bullying yang sering terjadi terutama di kalangan peserta didik terjadi lantaran ketidakseimbangan kekuasaan.

”Fenomena ini dapat dijelaskan dengan teori perkembangan sosial dan emosi dari Erikson, yang menunjukkan pentingnya interaksi sosial yang sehat dalam pembentukan identitas diri. Bullying sering kali terjadi karena adanya ketidakseimbangan kekuasaan, di mana individu yang menjadi pelaku seringkali memiliki masalah dengan harga diri atau kebutuhan untuk merasa superior,” kata dia saat dikonfirmasi VIVA.co.id, Selasa 21 Oktober 2025.

Meity juga menyebut jika merujuk pada teori belajar social Bandura, perilaku agresif atau bullying dipelajari melalui observasi dan imitasi dari lingkungan sekitar seperti keluarga, teman atau media. Sebagai contoh kata Meity, respon dari masyarakat terhadap kasus penamparan yang dilakukan oleh guru kepada siswa yang ketahuan merokok. Dari kasus itu, Meity menyebut bahwa tidak boleh ada tindakan kekerasan di sekolah, sebab jika guru mengajar dengan kekerasan maka ditakutkan siswa tersebut akan mencontohnya.  

”Waktu saya menjadi narasumber saya mengatakan tidak boleh ada kekerasan di sekolah. Saya di bully netizen dan dianggap mendukung siswanya padahal saya tidak mengatakan siswa tersebut betul namun saya menyayangkan sikap reaktif gurunya. Sebab jika guru mengajar dengan kekerasan otomatis siswa akan belajar seperti itu,” kata dia.

Dia menambahkan terkait dengan alasan netizen yang sebagian mengatakan siswa tersebut pantas untuk mendapat tindakan kekerasan di sekolah sama saja kata Meity lingkungan menormalisasikan adanya kekerasan.

”Artinya kita menormalisasikan kekerasan, sebab ini bukan pantas atau tidak namun tepat atau tidak tindakan guru tersebut, terlepas siswanya melakukan kesalahan, tugas pendidik yaa mendidik. Jadi jangan heran kalau orang sekarang mudah melakukan bully ke orang lain, karena itu yangg mereka kerap saksikan di sosial media. Sehingga, meskipun kesadaran terhadap dampak bullying semakin meningkat, masalah ini memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan perubahan budaya, pendidikan, pola pikir dan dukungan sosial,” kata dia.

Dampak Bullying terhadap Kesehatan Mental Korban

Sementara itu terkait dengan dampak bullying terhadap kondisi kesehatan mental seseorang. Meity menyebut bahwa dampak bullying terhadap kesehatan mental seseorang bisa parah dan mendalam. Terutama jika seseorang merasa terisolasi dan tidak mendapat dukungan sosial yang cukup.

”Dalam kasus seperti Timothy, yang mengalami kesulitan untuk mencari teman dan merasa terjebak dalam kesendirian, dampak psikologis dari bullying bisa merusak. Bullying dapat menurunkan harga diri seseorang, menyebabkan perasaan malu, cemas, dan depresi yang berlarut-larut,” kata dia.

Meity menambahkan, proses isolasi sosial yang dialami korban dapat memperburuk perasaan di atas, sehingga korban jadi merasa putus asa. Alhasil korban bisa mengembangkan pola negatif yang kuat.

”Teori tekanan psikologis yang dikemukakan oleh Aaron Beck menjelaskan bahwa korban bullying dapat mengembangkan pola pikir negatif yang kuat, yang membuat korbannya merasa tidak berharga, tidak ada harapan, atau merasa terjebak dalam situasi yang gak bisa diubah. Dalam situasi seperti ini, jika tidak ada dukungan atau intervensi yang tepat, perasaan putus asa bisa memuncak menjadi keputusan ekstrem, salah satunya menyakiti diri atau seperti bunuh diri, yang diyakini korban sebagai cara untuk "pelarian" dari penderitaan yang ia rasakan,” jelas dia.

Itu sebabnya, kata Meity pentingnya peran dukungan sosial, baik dari teman, keluarga, maupun lingkungan, serta pentingnya edukasi tentang dampak bullying untuk mencegah kejadian seperti Timothy ini kembali terjadi.

”Mulai dari yang paling dekat dan paling sederhana, tahan diri untuk membully di social media dan belajar memaklumi orang lain yang berbeda pandangan dengan kita,” kata dia.