Chromebook Lebih Hemat dibanding Laptop Windows? Ini Penjelasan Ahli
Asosiasi Pengusaha Teknologi dan Informasi Nasional (Aptiknas) bersama Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) memberikan sudut pandang baru terkait perdebatan pengadaan Chromebook.
Mereka menilai bahwa dari sisi biaya awal, perangkat berbasis Chrome OS menawarkan efisiensi lebih tinggi karena sistem operasi dan aplikasinya tidak berbayar.
Ketua Umum Aptiknas dan Apkomindo, Soegiharto Santoso, menekankan bahwa penggunaan laptop dengan sistem operasi tertentu harus menyesuaikan kebutuhan setiap pengguna. Menurutnya, Chromebook memang unggul dalam efisiensi biaya awal, sementara perangkat Windows memiliki nilai lebih dalam jangka panjang berkat fleksibilitas aplikasinya.
Dalam konteks pendidikan yang memiliki kondisi infrastruktur beragam, Soegiharto menjelaskan bahwa Chromebook cocok digunakan sekolah-sekolah dengan kebutuhan standar dan berbasis cloud. Sebaliknya, Windows lebih relevan bagi sekolah kejuruan yang membutuhkan dukungan perangkat lunak multimedia maupun engineering.
ASUS Chromebook C424MA
“Pemilihan platform harus disesuaikan kebutuhan dan kondisi masing-masing sekolah,” kata Soegiharto dalam keterangan resminya Rabu, 10 Desember 2025.
Pandangan tersebut menjadi penting di tengah polemik pengadaan Chromebook pada periode 2020–2022 yang tengah disidik Kejaksaan Agung. Sebab, sejumlah data justru menunjukkan bahwa penggunaan Chromebook berpotensi menghemat anggaran negara.
Perhitungan efisiensi tersebut muncul dari fakta bahwa sistem operasi Chromebook gratis, sementara OS Windows dibanderol antara US$ 50–100 per pengguna. Dengan total 1,2 juta unit Chromebook yang diadakan Kemendikbudristek dalam periode tersebut, penghematan diperkirakan mencapai lebih dari Rp 1,2 triliun bila dibandingkan pengadaan laptop berbasis Windows.
Selain biaya sistem operasi, aplikasi bawaan Windows seperti Microsoft Office juga memerlukan biaya perpanjangan tahunan. Adapun aplikasi dasar seperti Google Docs, Google Sheet, dan Google Slides tidak dikenakan biaya tambahan, kecuali jika sekolah membutuhkan integrasi dengan Google Workspace untuk kapasitas penyimpanan lebih besar.
Untuk pengelolaan terpusat, Chromebook membutuhkan Chrome Device Management (CDM) atau Chrome Education Upgrade dengan biaya satu kali sebesar US$ 30 per perangkat. Di sisi lain, perangkat Windows memerlukan Microsoft Intune for Education yang berbasis langganan dan biayanya mulai dari US$ 8 per bulan per pengguna.
Soegiharto menyebut Chrome Education Upgrade lebih efisien karena cukup dibayar sekali, sementara Intune memiliki biaya berulang. Meski begitu, efektivitasnya kembali pada tingkat kebutuhan sekolah. Chromebook sesuai untuk pengelolaan sederhana, sedangkan Intune unggul untuk lingkungan yang memakai berbagai layanan Microsoft.
Ia menambahkan bahwa kesesuaian aplikasi, biaya adaptasi teknologi, dan kebutuhan pelatihan guru maupun siswa adalah faktor penting yang sering terlewat dalam diskusi publik. Chromebook memang unggul di biaya awal, sementara Windows memberi fleksibilitas lebih luas dalam pemakaian jangka panjang.
Dalam konteks pengadaan di Kemendikbudristek, beberapa langkah antisipatif sudah dilakukan. Chromebook hanya disalurkan ke sekolah dengan akses internet, bukan wilayah 3T, dan laporan menunjukkan bahwa 97% perangkat telah digunakan. Soal kompatibilitas aplikasi, Kementerian menyederhanakan 1.261 aplikasi internal yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri. Google juga mengalokasikan 30% biaya lisensi CDM untuk pelatihan guru melalui mitra resmi.