Orangtua yang Mendengarkan Bisa Lindungi Anak Jadi Korban Bullying

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kasus perundungan di sekolah maupun lingkungan sosial, peran orangtua menjadi semakin krusial. Bukan hanya sebagai pelindung, tetapi juga sebagai pendengar yang peka.
Anak yang mengalami bullying sering kali tidak langsung bercerita; mereka mungkin menunjukkan tanda-tanda halus seperti perubahan perilaku, penurunan semangat, atau menarik diri dari kegiatan yang dulu disukai. Di sinilah kepekaan orangtua dibutuhkan.
“Di banyak kasus, kalau kita lihat, itu (perundungan) bisa dicegah menjadi lebih buruk jika kita (orangtua) mendengarkan,” ungkap Guru Besar PAUD dan Kesejahteraan Sosial di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Maila Dinia Husni Rahiem, saat ditemui di Jakarta, Minggu (12/10/2025).
Saat mengalami sesuatu yang menakutkan atau mengancam, secara alami anak akan bercerita kepada orangtua atau orang dewasa yang ia percaya.
Memberi ruang aman untuk anak berbagi dan mendengarkan tanpa menghakimi dapat menjadi langkah awal penting dalam mencegah atau menghentikan perundungan sebelum meninggalkan luka yang lebih dalam.
“Kalau kita bicara dengan orang yang ternyata kita sudah prediksi akan mengecilkan hati kita, bukannya malah membesarkan hati, dampaknya memang akan mungkin malah membuat kita semakin jatuh,” ucap Prof. Maila.
Saat anak mengungkapkan perasaannya, tidak jarang orangtua justru meremehkan, bahkan menyebut anak penakut karena menghadapi masalah "kecil" saja langsung mengadu.
“Ini yang harus kita advokasi ke masyarakat, orangtua, dan sekolah, bahwa penting untuk mendengarkan perasaan anak-anak, kemudian menguatkan mereka dan memberi mereka bantuan,” tegas Prof. Maila.
Ilustrasi berangkat sekolah.
Mendengarkan tanpa menghakimi
Langkah penting agar anak memiliki rasa percaya kepada orangtua dan mau terbuka adalah orangtua tidak menghakimi. Kemudian, beri mereka kesempatan untuk menenangkan diri. Sebab, mengungkapkan apa yang dirasakan tidaklah mudah.
“Memberikan kesempatan orang untuk berdiam, untuk menenangkan diri saja, itu sudah kesempatan untuk mengungkapkan emosi,” kata Prof. Maila.
Ia menambahkan, jika anak punya kesempatan untuk didengarkan, risikonya terhindari dari depresi sangat besar.
"Support itu menurunkan risiko-risiko yang berdampak pada kesehatan mental, seperti depresi, kecenderungan untuk bunuh diri, dan lain-lain,” sambung dia.
Ketika anak mengutarakan perasaannya, orangtua perlu mendengarkan agar lebih memahami anak. Lalu, validasi perasaan tersebut, dan bantu anak agar mereka menemukan cara untuk meluapkan emosi tersebut secara sehat.
Mendengarkan tanpa menghakimi bisa jadi salah satu cara untuk membangun resiliensi atau kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi sehingga bisa bangkit dari masalah.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.