Keluarga Santri Al Khoziny Desak Percepatan Evakuasi, Proses Pencarian Masih Berlanjut

Jawa Timur, santri, sidoarjo, evakuasi, proses evakuasi, Al Khoziny, Keluarga Santri Al Khoziny Desak Percepatan Evakuasi, Proses Pencarian Masih Berlanjut, Keluarga Korban Geruduk TKP, Tuntutan Keluarga Korban ke Pemerintah dan Gubernur, Proses Evakuasi Dilakukan Hati-Hati, Ambruknya Mushala Al Khoziny, Penyebab dan Jumlah Korban, Kementerian PU Kirim Alat Berat

Keluarga santri yang menjadi korban runtuhnya mushala Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, terus mendesak pihak berwenang untuk mempercepat proses evakuasi.

Meski tim SAR dan petugas lainnya bekerja keras, keluarga korban merasa cemas dengan lambannya evakuasi yang dilakukan di lokasi kejadian.

Keluarga Korban Geruduk TKP

Para keluarga ini kemudian bergerak menuju lokasi kejadian untuk melihat langsung proses pencarian. 

Namun, sesampainya di batas aman yang sudah ditandai dengan garis polisi, mereka dihentikan oleh petugas yang mencegah mereka masuk ke area reruntuhan.

“Ini masalah kemanusiaan. Tolonglah, adik saya ada di sana, coba bayangin kalau kamu yang punya adik. Saya cuma mau nolong dia,” ujar salah satu keluarga korban, menyatakan keputusasaannya dalam membantu mempercepat proses evakuasi.

Tuntutan Keluarga Korban ke Pemerintah dan Gubernur

Beberapa keluarga korban juga melontarkan tuntutan agar Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, turut bertanggung jawab atas insiden yang menewaskan puluhan santri ini.

"Yang kerja cuma dua, alatnya cuma satu. Ini tanggung jawab Khofifah sebagai Gubernur Jawa Timur. Khofifah mendatangkan pekerja ahli yang profesional," ungkap salah satu keluarga dengan tegas.

Proses Evakuasi Dilakukan Hati-Hati

Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, Nanang Sigit, menanggapi kekhawatiran tersebut dengan menjelaskan bahwa proses evakuasi memiliki tahapannya sendiri dan harus dilakukan secara hati-hati.

“Karena reruntuhan ini menyambung dengan bangunan di sekitarnya, ada teknik tersendiri yang diterapkan. Tim kami memiliki pertimbangan yang matang dalam penanganan evakuasi ini,” katanya.

Ambruknya Mushala Al Khoziny, Penyebab dan Jumlah Korban

Bangunan mushala tiga lantai yang terletak di asrama putra Ponpes Al Khoziny Sidoarjo ambruk pada Senin (29/9/2025), saat para santri sedang melaksanakan shalat Ashar. 

Hasil analisis tim SAR gabungan menyebutkan bahwa ambruknya bangunan disebabkan oleh kegagalan konstruksi yang tidak mampu menahan beban yang seharusnya dapat ditanggung oleh struktur gedung.

Hingga kini, jumlah korban dalam tragedi ini mencapai 113 orang. Dari jumlah tersebut, 23 orang berhasil dievakuasi petugas, sementara sebagian lainnya melakukan evakuasi mandiri. Dari 113 korban, 10 orang dinyatakan meninggal dunia, dan puluhan lainnya masih dalam proses pencarian.

Kementerian PU Kirim Alat Berat

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah mengirimkan alat berat untuk membantu proses evakuasi reruntuhan gedung Ponpes Al Khoziny.

Dody, perwakilan dari Kementerian PU, mengonfirmasi bahwa pengiriman alat berat dimulai pada 29 September 2025. 

Namun, alat berat baru dapat masuk ke lokasi kejadian pada Kamis (2/10/2025), setelah izin dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) dan Komando Distrik Militer (Kodim).

“Alat berat mulai diperbolehkan masuk setelah dilakukan tes hening dan pengaturan akses pada Kamis siang atau sore,” kata Dody.

Proses evakuasi ini terus dilakukan dengan harapan seluruh korban bisa ditemukan dan diselamatkan.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul dan Kementerian PU Kirim Alat Berat, Angkat Reruntuhan Ponpes Al Khoziny