Waspada, Ini 4 Kebiasaan yang Sering Dilakukan Pelaku Gaslighting
Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis ketika seseorang membuat orang lain meragukan ingatan, perasaan, dan kewarasannya. Waspadalah agar tidak terjebak kebiasaan pelaku gaslighting.
Ada tipe yang disebut sebagai high-level gaslighter atau gaslighter handal. Pelaku gaslighter tipe ini biasanya lebih halus, cerdas, dan sulit dikenali. Dari luar, mereka bisa terlihat ramah, penuh empati, dan peduli, tapi di baliknya ada pola perilaku manipulatif yang merugikan.
Psikolog Dr. Harry Cohen, PhD menjelaskan, gaslighter handal biasanya menggunakan bahasa yang masuk akal dan sikap yang meyakinkan untuk membuat kebohongan mereka terlihat benar.
“Mereka tampak menyenangkan, tetapi di balik itu, mereka memanfaatkan kepandaian dan pesona untuk mengendalikan orang lain,” ujar Cohen, dilansir dari Parade, Jumat (19/9/2025)
Lantas, kebiasaan apa saja yang sering dilakukan pelaku gaslighter tingkat tinggi? Berikut ulasannya.
4 Kebiasaan yang sering dilakukan pelaku gaslighting
1. Memanfaatkan empati sebagai senjata
Pelaku gaslighting sering tampak ramah dan meyakinkan, tapi di baliknya menyimpan pola manipulasi berbahaya. Ini kebiasaan yang harus diwaspadai.
Salah satu ciri yang membuat gaslighter handal berbahaya adalah kemampuan mereka berpura-pura peduli.
Mereka sering terlihat peka dan memahami perasaan orang lain, padahal informasi itu justru digunakan untuk kepentingan pribadi.
“Mereka akan memvalidasi perasaanmu secukupnya agar kamu percaya, lalu kemudian hari menggunakan kata-kata atau kerentananmu untuk membalikkan keadaan,” jelas Dr. Amelia Kelley, PhD, terapis trauma sekaligus penulis "Gaslighting Recovery for Women".
Cohen menambahkan, gaslighter kerap memanfaatkan nilai-nilai seperti kesetiaan atau belas kasih sebagai senjata. Akibatnya, korban merasa bersalah atas emosi yang wajar, dan semakin meragukan diri sendiri.
“Mereka bisa berkata, ‘Kamu harusnya lebih pengertian, bukan menuduh,’ saat kamu mencoba menetapkan batasan,” katanya.
2. Mengaku “lupa” saat dihadapkan fakta
Pelaku gaslighting sering tampak ramah dan meyakinkan, tapi di baliknya menyimpan pola manipulasi berbahaya. Ini kebiasaan yang harus diwaspadai.
Kebiasaan lain yang sering muncul adalah selective amnesia atau pura-pura lupa. Misalnya, ketika kamu menyinggung ucapan menyakitkan yang pernah mereka lontarkan, mereka dengan mudah menyangkalnya.
“Mereka dengan sengaja ‘lupa’ pada peristiwa penting, terutama yang bisa membuktikan kebenaran versimu,” kata Cohen.
“Lama-kelamaan, kamu mulai meragukan ingatanmu sendiri dan lebih bergantung pada mereka sebagai sumber ‘kebenaran’,” lanjut dia.
Berbeda dengan lupa biasa, sikap ini bertujuan meruntuhkan kepercayaan diri korban. Seiring waktu, korban jadi sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang manipulasi.
3. Mengubah cerita sedikit demi sedikit
Pelaku gaslighting sering tampak ramah dan meyakinkan, tapi di baliknya menyimpan pola manipulasi berbahaya. Ini kebiasaan yang harus diwaspadai.
Gaslighter jarang berbohong secara total. Alih-alih, mereka lebih sering memelintir fakta secara halus sehingga sulit dipastikan kebenarannya. Taktik ini disebut sebagai strategic misdirection.
“Mereka bisa menggunakan kalimat seperti, ‘Itu bukan yang saya maksud’ atau, ‘Kamu salah paham.’ Kalimat-kalimat ini membuat korban terus berada dalam kebingungan,” ujar Kelly.
Karena tidak sepenuhnya bohong, manipulasi ini sulit dilawan. Korban akhirnya terus mencoba memecahkan teka-teki, alih-alih menyadari bahwa dirinya sedang dipermainkan.
4. Membangun citra lewat orang lain
Pelaku gaslighting sering tampak ramah dan meyakinkan, tapi di baliknya menyimpan pola manipulasi berbahaya. Ini kebiasaan yang harus diwaspadai.
Gaslighter handal juga sering memakai strategi triangulasi yaitu melibatkan pihak ketiga untuk mempertahankan kendali.
Mereka sengaja menampilkan citra positif di hadapan orang lain sehingga ketika korban mencoba berbicara, justru terkesan berlebihan atau tidak masuk akal.
“Mereka membangun kesan yang baik di depan teman, atasan, atau bahkan terapis sehingga korban terlihat tidak stabil,” tutur Cohen.
Kelley menambahkan, gaslighter bisa memberi komentar kecil kepada orang lain yang membuat korban tampak emosional atau bermasalah.
“Seiring waktu, korban merasa terisolasi dan ragu siapa yang bisa dipercaya. Isolasi inilah yang memberi gaslighter lebih banyak kekuasaan,” katanya.
Pelaku gaslighting semakin sulit dikenali
Bahaya gaslighter handal terletak pada kepandaian mereka menutupi manipulasi dengan citra positif. Dari luar, mereka bisa terlihat menawan dan suportif, tapi di balik itu, korban dibuat ragu, bingung, dan bahkan kehilangan rasa percaya diri.
“Ketika kita tidak bisa menamai apa yang terjadi, kita cenderung menyalahkan diri sendiri,” tutur Kelley.
Hal inilah yang membuat hubungan dengan gaslighter begitu merusak sekaligus sulit diputuskan.
Mengenali tanda-tandanya di atas bisa jadi langkah awal agar tidak terjebak lebih jauh dalam hubungan manipulatif.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.