Top 10+ Perilaku Gaslighting yang Harus Diwaspadai, Termasuk Memutarbalikkan Fakta
- 1. Sering meminimalkan atau mengabaikan perasaan
- 2. Suka berbohong dan memutarbalikkan fakta
- 3. Menghindari tanggung jawab
- 4. Mengubah cerita atau sejarah
- 5. Membuat korban terisolasi
- 6. Mengalihkan topik pembicaraan
- 7. Menyalahkan korban
- 8. Menggunakan kata-kata manis sebagai senjata
- 9. Menyebarkan gosip dan merusak reputasi
- 10. Membuat korban meragukan diri sendiri
Gaslighting adalah salah satu bentuk manipulasi psikologis yang berbahaya namun kerap tidak disadari. Dampaknya bisa membuat korban merasa bingung, ragu pada dirinya sendiri, bahkan mempertanyakan kewarasannya.
Menurut psikolog klinis Sari Chait, Ph.D., gaslighting kerap digunakan sebagai cara untuk mengendalikan orang lain.
“Gaslighting dimanfatakan sebagai cara untuk mendapatkan atau mempertahankan kendali atas orang lain,” kata Chait, seperti dikutip dari Prevention, Kamis (18/9/2025).
Artinya, pelaku sengaja menciptakan kebingungan agar korban merasa bersalah dan akhirnya mudah dikendalikan. Berikut perilaku gaslighting yang perlu diwaspadai dalam hubungan sehari-hari.
10 Perilaku gaslighting yang harus diwaspadai
1. Sering meminimalkan atau mengabaikan perasaan
Gaslighter biasanya membuat perasaan korban seolah tidak penting. Mereka akan merespons keluhan dengan kalimat seperti, “Kamu terlalu sensitif,” atau “Itu cuma bercanda, kamu lebay”.
Pendiri DML Psychological Services, Michele Leno, Ph.D. menjelaskan, perilaku ini akan membuat korban merasa tidak cukup, meski sudah berusaha keras.
“Gaslighter hampir selalu mengabaikan perasaan korban, hingga membuat mereka lelah secara emosional maupun fisik,” ujarnya.
Kondisi ini membuat korban enggan menyuarakan perasaan, karena takut dianggap berlebihan.
2. Suka berbohong dan memutarbalikkan fakta
Pelaku gaslighting umumnya pembohong ulung. Mereka bisa menyangkal sesuatu meski ada bukti nyata. Menurut laporan dari Verywell Mind, pelaku gaslightling atau gaslighter akan mengatakan, “Itu tidak pernah terjadi” atau “Kamu mengada-ada”.
Kebohongan berulang ini perlahan membuat korban mempertanyakan ingatannya sendiri. Pada akhirnya, korban mulai berpikir bahwa pelaku mungkin benar, meski jauh di dalam hati ia sadar ada yang salah.
3. Menghindari tanggung jawab
Alih-alih mengakui kesalahan, pelaku gaslighting justru menuduh orang lain sebagai penyebab masalah.
Erin Wiley, M.A., L.P.C.C., direktur eksekutif The Willow Center, menyebut strategi ini dilakukan untuk menimbulkan kebingungan.
“Korban akhirnya merasa seolah-olah merekalah penyebab utama masalah dalam hubungan,” tuturnya.
Hal ini menumbuhkan rasa bersalah yang tidak seharusnya ditanggung korban.
4. Mengubah cerita atau sejarah
Gaslighter sering mengubah detail kejadian sehingga tampak menguntungkan dirinya. Misalnya, saat mereka mendorong pasangan hingga terjatuh, pelaku bisa mengatakan, “Aku malah menahanmu supaya tidak jatuh”.
Cara ini sengaja dilakukan agar korban bingung dengan memorinya. Seiring waktu, korban mulai meragukan pengalamannya sendiri, bahkan merasa kehilangan kemampuan mengingat dengan benar.
5. Membuat korban terisolasi
Pelaku gaslighting juga bisa memutus akses korban dari orang-orang terdekat. Mereka meyakinkan korban bahwa teman atau keluarga tidak bisa dipercaya. Contohnya, “Mereka iri dengan kita, makanya ingin kita pisah”.
Wiley menjelaskan, tindakan ini membuat korban semakin bergantung pada pelaku. Tanpa dukungan sosial, korban sulit melihat realitas dan akhirnya semakin terjebak dalam hubungan toksik.
6. Mengalihkan topik pembicaraan
Saat dikonfrontasi, pelaku gaslighting cenderung tidak mau menjawab pertanyaan secara langsung. Mereka bisa tiba-tiba mengganti topik atau balik bertanya, sehingga korban merasa percuma melanjutkan diskusi.
Pengalihan ini membuat korban merasa bersalah karena menuntut penjelasan. Lama-kelamaan, korban berhenti menanyakan hal-hal penting karena takut dituduh cerewet atau menyusahkan.
Beberapa gangguan mental muncul sebagai efek buruk gaslighting.
7. Menyalahkan korban
Blame-shifting atau berbalik menyalahkan korban adalah salah satu taktik gaslighting yang umum.
Apa pun masalahnya, korban selalu dijadikan kambing hitam. Misalnya, pelaku berkata, “Kalau kamu tidak bikin aku marah, aku enggak akan bertindak begitu”.
Padahal, perilaku buruk tetap menjadi tanggung jawab pelaku. Namun, karena terus disalahkan, korban bisa meyakini bahwa merekalah penyebab perilaku toksik pasangan.
8. Menggunakan kata-kata manis sebagai senjata
Gaslighter terkadang menyelipkan kata-kata penuh kasih seperti, “Aku sayang kamu, aku enggak akan menyakitimu”.
Meski terdengar menenangkan, kalimat ini sering hanya dipakai untuk meredakan kemarahan korban.
Kata-kata manis ini bersifat tidak tulus karena perilaku menyakitkan selalu terulang. Akibatnya, korban terjebak dalam siklus manipulasi, yaitu marah, diberi janji manis, lalu memaafkan, meski masalah tidak pernah berubah.
9. Menyebarkan gosip dan merusak reputasi
Pelaku gaslighting tidak selalu menyerang secara langsung. Kadang, mereka menyebarkan gosip untuk membuat korban terlihat buruk di mata orang lain.
Mereka bisa berpura-pura peduli, tapi diam-diam menyebut korban tidak stabil atau bermasalah.
Taktik ini sangat efektif karena orang lain bisa salah menilai korban. Pelaku bahkan bisa mengatakan bahwa orang lain juga berpikir hal buruk tentangmu, padahal itu tidak benar.
10. Membuat korban meragukan diri sendiri
Efek paling berbahaya dari gaslighting adalah keraguan yang menggerogoti diri korban.
Chait menegaskan, seseorang bisa ragu dengan perasaan dan ingatannya sendiri apabila terus-terus mendapat perilaku gaslighting. Tak jarang hal ini membuat korban tidak mengetahui mana yang benar.
“Gaslighting terjadi berulang kali, sehingga korban biasanya mulai meragukan diri sendiri, mempercayai ‘kebenaran versi pelaku’, bahkan merasa kehilangan kewarasan,” ungkap dia.
Perasaan inilah yang membuat korban sulit keluar dari lingkaran manipulasi, karena mereka tidak lagi percaya pada insting dan pikirannya sendiri.
Gaslighting bukan sekadar perbedaan pendapat, tetapi bentuk manipulasi yang bisa menghancurkan kesehatan mental.
Mengenali tanda-tandanya membantu kita melindungi diri dan mencari dukungan yang tepat. Jika merasa mengalami hal ini, penting untuk berbicara dengan orang terpercaya atau mencari bantuan profesional.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.