Top 5+ Mitos dan Fakta soal Kolagen yang Perlu Diketahui Menurut Dermatolog

kolagen, Wellness, 5 Mitos dan Fakta soal Kolagen yang Perlu Diketahui Menurut Dermatolog, 2. Semua jenis kolagen bisa diserap tubuh dengan baik, 3. Krim kolagen bekerja sama efektifnya dengan kolagen yang diminum, 4. Minum kolagen saja sudah cukup untuk menjaga kulit tetap sehat, 5. Kerutan hanya disebabkan oleh pertambahan usia

Ketenaran kolagen sebagai salah satu bahan yang bermanfaat untuk kesehatan kulit hadir dalam bentuk ragam produk kecantikan dan kesehatan seperti minuman kolagen, suplemen, sampai dengan produk perawatan kulit yang dijual di pasaran.

Namun, di tengah popularitasnya, tidak sedikit informasi seputar kolagen yang beredar tanpa didukung bukti ilmiah yang akurat.

BAMED Dermatologist dr. Annisa Anjani Ramadhan, Sp.D.V.E., menjelaskan bahwa kolagen memang memiliki peran penting dalam menjaga struktur kulit, tetapi manfaatnya perlu dipahami secara tepat agar tidak menimbulkan ekspektasi yang keliru.

Berikut sejumlah mitos dan fakta seputar kolagen yang perlu diketahui.

Mitos dan Fakta Kolagen yang Perlu Diketahui Menurut Dermatolog

Ilustrasi Kulit Plumpy1. Kolagen hanya penting untuk kecantikan

Faktanya, kolagen bukan hanya berperan pada penampilan kulit. Protein ini merupakan komponen utama yang menyusun kulit, tulang, tendon, ligamen, sampai tulang rawan.

Menurut dr. Annisa kolagen berperan menjaga struktur kulit agar tetap padat dan tidak mudah kendur.

"Salah satu yang paling banyak diteliti saat ini adalah kolagen. Kolagen itu memang berperan penting untuk menjaga struktur kulit. Kalau kita mau kulitnya glowing, struktur kulitnya harus bagus dulu. Tidak berkeriput, kemudian tidak beruntusan. Jadi memang tekstur kulitnya harus bagus dulu," ujar dr. Annisa dalam acara Wellness Day "Glow Up: Steal the Spotlight" yang digelar oleh Tropicana Slim di SANA Studio, Jakarta Selatan pada Sabtu (06/06).

2. Semua jenis kolagen bisa diserap tubuh dengan baik

Faktanya, tidak semua kolagen memiliki tingkat penyerapan yang sama.

Dr. Annisa menjelaskan bahwa jenis kolagen yang saat ini terbukti paling mudah diserap tubuh adalah kolagen terhidrolisis atau hydrolyzed collagen, yaitu kolagen yang telah dipecah menjadi molekul lebih kecil.

"Kolagen terhidrolisis itu adalah tipe kolagen atau jenis kolagen yang sudah diproses yang terbukti secara ilmiah bisa diserap oleh tubuh dan bisa dimanfaatkan oleh tubuh," jelas dr. Annisa.

Sebaliknya, kolagen dengan molekul yang masih besar cenderung lebih sulit diserap melalui saluran pencernaan.

"Kalau kolagen masih molekulnya besar, ketika kita minum atau makan, kemudian melalui saluran cerna kita, itu enggak masuk, enggak terserap ke dalam saluran cerna, jadi mubazir," jelas dr. Annisa.

3. Krim kolagen bekerja sama efektifnya dengan kolagen yang diminum

Faktanya, penelitian menunjukkan hasil yang berbeda.

Menurut dr. Annisa, sejumlah studi terbaru menemukan bahwa kolagen terhidrolisis yang dikonsumsi secara oral memberikan peningkatan densitas kolagen yang lebih baik dibandingkan kolagen topikal yang hanya diaplikasikan pada permukaan kulit.

"Ternyata yang diminum membawa efek kolagen yang lebih bagus, artinya bertambah densitas atau pertambahan kolagennya lebih bagus dibandingkan dengan yang dioles," papar dr. Annisa.

Hal ini disebabkan oleh molekul kolagen yang relatif sulit menembus lapisan kulit secara optimal.

4. Minum kolagen saja sudah cukup untuk menjaga kulit tetap sehat

Faktanya, kesehatan kulit tidak bergantung pada satu nutrisi saja.

Dr. Annisa menekankan bahwa perawatan kulit memerlukan pendekatan menyeluruh yang mencakup pola makan, tidur cukup, olahraga, manajemen stres, serta perawatan kulit dari luar.

"Kalau cuma melakukan skincare saja, tetapi tanpa memikirkan nutrisi, asupan, yang kita dapatkan, hasilnya tidak optimal," ujar dr. Annisa.

Menurutnya tubuh tetap membutuhkan protein, vitamin, antioksidan, dan berbagai nutrisi lain sebagai bahan baku untuk membentuk kolagen baru.

5. Kerutan hanya disebabkan oleh pertambahan usia

Faktanya, gaya hidup juga berpengaruh besar terhadap penurunan kolagen.

Salah satu faktor yang paling sering dikaitkan dengan kerusakan kolagen adalah konsumsi gula berlebih.

Dr. Annisa menjelaskan bahwa kelebihan gula dapat memicu proses yang disebut glikasi, yaitu kondisi ketika molekul gula menempel pada protein di dalam tubuh dan menghasilkan senyawa yang dapat merusak sel.

"Sebetulnya asupan gula itu sangat berpengaruh ke kulit, terutama gula yang sederhana.  Makin banyak peneliti yang menginvestigasi ternyata asupan gula berlebih di tubuh kita bisa mempercepat penuaan sel. Jadi, bukan cuma kulit, di seluruh badan itu bisa terjadi," tutur dr. Annisa.

Selain gula, paparan sinar ultraviolet, kurang tidur, stres berkepanjangan, dan kebiasaan merokok juga diketahui dapat mempercepat berkurangnya kolagen alami dalam tubuh.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang