Dalam 6 Bulan, Ada 7 Kasus Bunuh Diri di Tasikmalaya: Dari Jeratan Judol hingga Depresi

bunuh diri, jawa barat, tasikmalaya, kasus gantung diri, Dalam 6 Bulan, Ada 7 Kasus Bunuh Diri di Tasikmalaya: Dari Jeratan Judol hingga Depresi

Sejak Februari hingga September 2025, tercatat sedikitnya tujuh kasus bunuh diri dengan cara gantung diri di wilayah Tasikmalaya.

Kasus-kasus ini diduga dipicu oleh beragam faktor, mulai dari tekanan ekonomi, jeratan judi online, hingga depresi. Yang memprihatinkan, sebagian besar korban masih berusia muda.

Kasus terbaru terjadi di wilayah Mangkubumi, Kota Tasikmalaya. Seorang pelajar ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di sebuah pohon di kebun warga. Korban disebut tengah menjalani perawatan psikiater karena mengalami depresi.

Berikut rangkaian kasus bunuh diri yang dihimpun wartawan TribunPriangan.com sepanjang enam bulan terakhir:

  • Senin (10/3/2025): Seorang pria berinisial Y (65) ditemukan gantung diri di kusen pintu belakang rumahnya di Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya.
  • Kamis (13/3/2025): Pemuda berinisial YAS (20) meninggal dengan kondisi tergantung di pohon manggis setinggi 10 meter di Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya.
  • Kamis (13/3/2025): Seorang pria asal Garut, berinisial RM (26), ditemukan tak bernyawa di kamar mandi sebuah kos di Jalan Bantar, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari.
  • Jumat (21/3/2025): Pria asal Cisayong ditemukan gantung diri di sebuah rumah kosong di Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya.
  • Jumat (21/3/2025): Pemuda berinisial Y (25) ditemukan tewas tergantung di atap bangunan mes pegawai di Kampung Babakan Selakaso, Kelurahan Cilembang, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya.
  • Jumat (8/8/2025): Warga Kampung Cilembang, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya digegerkan dengan penemuan seorang pria yang gantung diri tanpa busana di belakang rumahnya.
  • Kamis (11/9/2025): Warga Kampung Panyarang, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya menemukan seorang pelajar tewas tergantung di pohon kebun sekitar pukul 17.30 WIB.

Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya Kota, AKP Herman Saputra, menegaskan rentetan kasus tersebut tidak bisa disebut sebagai sebuah fenomena tunggal. Menurutnya, banyak faktor yang berperan, termasuk penggunaan teknologi secara berlebihan.

"Kalau ini bukan fenomena, tapi lebih ke penggunaan teknologi berlebihan, contoh kasus di Tasik Utara yang terlilit judol hingga nekad bunuh diri," ujar Herman saat dikonfirmasi wartawan, Senin (15/9/2025).

Ia menambahkan, penggunaan teknologi yang tidak terkendali dapat memicu tekanan psikis dan halusinasi.

"Untuk kasus terbaru pun di Mangkubumi, itu korban kerap halusinasi ketika melihat film, dan penggunaannya berlebihan sampai melakukan tindakan di luar kendali, dan ini didapat dari keterangan keluarganya," kata Herman.

Kontak bantuan

Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu.

Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.

Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling,

Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini: https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling

Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Fakta Miris 7 Kasus Gantung Diri di Tasikmalaya: Masih Muda, Terlilit Judi Online hingga Depresi

Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.