Top 5+ Mitos dan Fakta soal Angin Duduk yang Harus Diketahui, Bukan Masuk Angin

Daewoong Pharmaceutical Indonesia, PERKI, mitos dan fakta, angina pektoris, 5 Mitos dan Fakta soal Angin Duduk yang Harus Diketahui, Bukan Masuk Angin, 2. Kerokan bisa mengatasi angin duduk, 3. Angin duduk hanya menyerang lansia, 4. Semua penderita angin duduk merasakan nyeri dada yang sama, 5. Jika keluhannya mirip sakit maag otomatis bukan gangguan jantung, 2. Angin duduk merupakan sinyal bahwa jantung sedang kekurangan oksigen, 3. Gejalanya sering muncul saat aktivitas atau stres, 4. Merokok meningkatkan risiko penyakit jantung, 5. Angin duduk bisa ditangani jika terdeteksi sejak dini

Istilah angin duduk sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia dan tidak sedikit pula yang menganggap kondisi ini sama dengan masuk angin biasa.

Melalui sesi edukasi media yang digelar Daewoong Pharmaceutical Indonesia dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) di Noble House, Jakarta pada Selasa (09/06), dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FAsCC meluruskan mitos dan fakta seputar angin duduk.

Simak penjelasannya berikut ini.

Mitos Angin Duduk

Ilustrasi Mengalami Angin Duduk1. Angin duduk sama dengan masuk angin

Salah satu anggapan yang paling sering beredar adalah angin duduk terjadi karena terlambat makan, kebanyakan makan, atau masuk angin biasa.

Menurut dr. Febtusia, pemahaman tersebut tidak tepat karena angin duduk berkaitan dengan gangguan aliran darah ke jantung.

"Ini adalah suatu mitos," tutur dr. Febtusia.

2. Kerokan bisa mengatasi angin duduk

Banyak orang memilih kerokan ketika mengalami keluhan yang dianggap sebagai angin duduk.

Padahal, menurut dr. Febtusia, rasa nyaman yang muncul lebih banyak berasal dari efek hangat balsam yang hanya bersifat sementara.

"Yang membuat nyaman itu adalah balsamnya, efek hangatnya. Pada saat pembuluh darah melebar, memang terasa lebih nyaman. Tapi itu short effect, tidak long-term effect," ujarnya.

3. Angin duduk hanya menyerang lansia

Penyakit jantung memang lebih sering ditemukan pada usia lanjut. Namun, angina pektoris juga dapat terjadi pada usia muda, terutama jika memiliki faktor risiko tertentu.

"Ada pasien saya umur 28 tahun," kata dr. Febtusia ketika menceritakan salah satu kasus yang pernah ditanganinya.

4. Semua penderita angin duduk merasakan nyeri dada yang sama

Banyak orang mengira gejala angina pektoris selalu berupa nyeri dada yang khas. Padahal, menurut dr. Febtusia, keluhan pada setiap orang bisa berbeda, terutama pada perempuan.

Ia menjelaskan bahwa gejala khas berupa nyeri dada justru tidak selalu muncul pada seluruh pasien perempuan, sehingga kondisi ini kerap terlambat dikenali.

"Pada perempuan itu, yang nyeri dada khas hanya sekitar 23%," ujar dr. Febtusia.

Oleh karena itu, masyarakat tidak boleh hanya berpatokan pada nyeri dada. Perubahan kemampuan fisik sehari-hari, seperti lebih mudah sesak saat naik tangga atau cepat lelah saat beraktivitas, juga perlu diwaspadai sebagai tanda gangguan jantung.

5. Jika keluhannya mirip sakit maag otomatis bukan gangguan jantung

Sebagian kasus angina dapat menimbulkan rasa tidak nyaman di ulu hati, sehingga sering disalahartikan sebagai gangguan lambung.

Akibatnya, tidak sedikit pasien yang terlambat memeriksakan diri karena mengira keluhan tersebut hanya sakit maag biasa.

Oleh karena itu, dr. Febtusia menganjurkan untuk melakukan medical check up (MCU) secara rutin.

“Jadi memang MCU penting. Jadi nanti, jangan lupa di-MCU, cari treadmill test. Itu untuk screening awal untuk penyakit jantung koroner,” pesan dr. Febtusia.

Fakta Angin Duduk

Ilustrasi Angina Pektoris1. Istilah angin duduk berasal dari kata "angina"

Menurut dr. Febtusia, istilah angina berasal dari bahasa Yunani kuno yang menggambarkan kondisi menyempit atau mencekik.

"Angina itu adalah suatu istilah dari bahasa Yunani kuno. Angina itu dari asal kata menyempit ataupun mencekik," jelasnya.

Ia menduga istilah "angin duduk" muncul karena penderita biasanya berusaha duduk untuk mencari posisi bernapas yang lebih nyaman ketika gejala muncul.

Sementara itu, kata pektoris merujuk pada dada. "Pektor, pektoris itu adalah dada. Jadi otot dada itu namanya otot pektoralis," tutur dr. Febtusia.

Karena itu, angina pektoris merupakan istilah medis untuk menggambarkan nyeri atau rasa tertekan di dada yang terjadi ketika otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup. Kondisi ini juga dapat menjadi sinyal peringatan penyakit jantung yang tidak boleh diabaikan.

2. Angin duduk merupakan sinyal bahwa jantung sedang kekurangan oksigen

Angina pektoris terjadi ketika pasokan darah dan oksigen ke otot jantung tidak mencukupi kebutuhan tubuh.

Dr. Febtusia mengibaratkan kondisi tersebut seperti selang air yang tersumbat sebagian. Darah masih mengalir, tetapi jumlahnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan jantung saat bekerja lebih keras.

3. Gejalanya sering muncul saat aktivitas atau stres

Menurut materi yang dipaparkan dr. Febtusia, gejala angina pektoris umumnya muncul ketika seseorang sedang beraktivitas atau mengalami stres emosional.

Keluhan dapat mereda setelah beberapa menit beristirahat, tetapi tetap perlu dievaluasi, karena bisa menjadi tanda adanya penyempitan pembuluh darah koroner.

4. Merokok meningkatkan risiko penyakit jantung

Merokok termasuk salah satu faktor risiko utama yang dapat merusak dinding arteri dan mempercepat pembentukan plak di pembuluh darah.

"Efek dari merokok ini enggak ada yang sehari, dua hari," seru dr. Febtusia.

Selain merokok, risiko juga meningkat pada orang dengan kolesterol tinggi, hipertensi, diabetes, obesitas, dan gaya hidup sedentari yang minim aktivitas fisik.

5. Angin duduk bisa ditangani jika terdeteksi sejak dini

Menurut dr. Febtusia, penanganan angina pektoris dapat dilakukan melalui perubahan gaya hidup, obat anti-nyeri dada, terapi penurun kolesterol, hingga tindakan medis seperti pemasangan stent atau operasi bypass jika diperlukan.

"Jika dibiarkan hingga pembuluh darah benar-benar tersumbat, kondisi ini dapat berujung langsung pada infark miokard akut atau kematian mendadak," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang