Mitos atau Fakta, Benarkah Mencuci Beras Bisa Menghilangkan Nutrisi?
Hampir setiap orang Indonesia memiliki kebiasaan mencuci beras sampai airnya bening sebelum masuk ke magic com.
Tapi, pernahkah kamu mendengar selentingan bahwa mencuci beras justru membuang nutrisi pentingnya?
Atau sebaliknya, ada yang bilang kalau tidak dicuci, nasi jadi kotor dan penuh pati?
Debat soal cuci-mencuci beras ini memang nggak ada habisnya.
Mengutip penjelasan para ahli dari Real Simple, ternyata jawabannya bukan sekadar "perlu" atau "tidak perlu", melainkan tergantung pada hasil akhir nasi yang kamu inginkan.
Bukan sekadar tradisi, mencuci beras memiliki tujuan teknis dalam dunia kuliner.
Menurut laporan Real Simple, ada tiga alasan utama mengapa langkah ini sering disarankan:
1. Menghilangkan Kelebihan Pati (Starch)
Pernah memasak nasi tapi hasilnya justru menggumpal, lengket, dan terlihat "becek"? Itu karena pati permukaan pada butiran beras.
Mencuci beras membantu menghilangkan lapisan pati ini sehingga butiran nasi setelah matang akan terpisah-pisah, lembut, dan fluffy.
2. Kebersihan dan Keamanan
Beras menempuh perjalanan jauh dari sawah, pabrik penggilingan, hingga ke toko. Dalam prosesnya, debu, kotoran, atau bahkan sisa kulit ari mungkin menempel.
Mencuci beras memastikan kotoran-kotoran kecil ini ikut terbuang.
3. Mengurangi Resiko Arsenik
Secara ilmiah, beras cenderung menyerap lebih banyak arsenik dari tanah dibandingkan tanaman lain.
Mencuci beras di bawah air mengalir diketahui dapat membantu mengurangi sebagian kecil kadar arsenik tersebut, meski tidak menghilangkannya secara total.
Nah, inilah poin yang sering bikin orang ragu. Faktanya adalah, Ya, mencuci beras memang bisa mengurangi sebagian nutrisi.
Beras, terutama beras putih yang sudah dipoles, sering kali "diperkaya" (enriched) dengan lapisan bubuk vitamin dan mineral seperti zat besi, niasin, dan thiamin setelah proses penggilingan.
Karena nutrisi ini berupa lapisan luar, mencuci beras berkali-kali secara otomatis akan meluruhkan sebagian besar nutrisi tambahan tersebut.
Namun, bagi sebagian besar orang yang memiliki pola makan seimbang dengan lauk-pauk yang bergizi, kehilangan sedikit nutrisi dari beras ini biasanya dianggap tidak signifikan dibandingkan manfaat tekstur nasi yang lebih baik.
Kapan Kamu HARUS Mencuci Beras?
Ilustrasi orang sedang mencuci beras.
Tidak semua masakan butuh beras yang dicuci bersih. Berikut panduan praktisnya:
Wajib Cuci: Jika kamu ingin membuat nasi putih biasa, nasi goreng, atau masakan Asia yang butuh tekstur nasi yang tidak lengket.
Jangan Dicuci Terlalu Bersih: Jika kamu membuat hidangan seperti Risotto atau Paella. Hidangan ini justru membutuhkan pati alami dari beras untuk menciptakan tekstur yang creamy dan kental tanpa harus menambahkan banyak krim.
Tips Mencuci Beras yang Benar
Jika kamu memilih untuk mencuci beras, jangan menguceknya terlalu keras. Cukup masukkan beras ke dalam wadah, beri air, aduk perlahan dengan tangan, lalu buang airnya.
Ulangi satu sampai dua kali saja. Air yang sedikit keruh sebenarnya tidak masalah, kamu tidak perlu menunggu sampai airnya benar-benar bening seperti air mineral.
Jadi, apakah mencuci beras itu mitos atau fakta soal hilangnya nutrisi? Jawabannya adalah fakta, tapi bukan berarti kamu harus berhenti mencucinya.
Jika kamu mengejar tekstur nasi yang sempurna dan higienitas, mencuci beras tetaplah langkah yang bijak.
Selama kamu makan dengan lauk yang sehat, kebutuhan nutrisimu akan tetap terpenuhi!
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang