Terlalu Sering Berobat Belum Tentu Perlu, Ini Hal-hal yang Harus Diketahui Nasabah tentang Overutilisasi Medis
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan kesehatan, kepemilikan asuransi kini menjadi bagian wajib dari fondasi keuangan individu maupun keluaga. Kartu asuransi cashless bahkan sering dianggap sebagai “penyelamat” ketika harus menjalani pengobatan atau perawatan di rumah sakit. Namun, di balik rasa aman tersebut, muncul persoalan lain yang perlahan mulai menjadi perhatian, yakni overutilisasi medis.
Banyak masyarakat masih menganggap penggunaan asuransi kesehatan secara maksimal adalah hal yang menguntungkan. Tidak sedikit pula yang beranggapan semakin banyak pemeriksaan atau tindakan medis dilakukan, maka penanganan kesehatan dianggap semakin baik. Padahal, tindakan medis yang tidak diperlukan justru dapat meningkatkan risiko biaya kesehatan secara kolektif, memicu pemeriksaan berlebihan, hingga mendorong penggunaan layanan medis yang sebenarnya belum tentu dibutuhkan pasien.
Secara sederhana, overutilisasi adalah penggunaan layanan kesehatan yang berlebihan atau sebenarnya tidak diperlukan. Praktik ini bisa berupa pemeriksaan laboratorium yang terlalu sering, pemberian obat atau suplemen tanpa indikasi kuat, rekomendasi rawat inap untuk kondisi yang sebetulnya masih bisa ditangani secara rawat jalan ataupun pengobatan rawat jalan usai operasi seperti fisioterapi.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada meningkatnya tagihan rumah sakit, tetapi juga memicu efek domino terhadap industri asuransi kesehatan dan masyarakat luas. Ketika biaya klaim terus meningkat, perusahaan asuransi biasanya akan melakukan penyesuaian premi demi menjaga keberlanjutan layanan. Akibatnya, kenaikan biaya akhirnya dirasakan secara kolektif, termasuk oleh nasabah yang jarang menggunakan fasilitas kesehatan.
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH, menilai pemahaman masyarakat soal overutilisasi masih sering bercampur dengan asumsi yang kurang tepat.
“Overutilisasi ibarat kebanyakan makannya, kira-kira begitu. Yang ngga perlu dimakan, dimakan juga. Namun, hal ini juga karena banyak pasien yang bingung memilih perawatan yang tepat sesuai kebutuhan,” ujar Prof. Hasbullah saat dihubungi VIVA.
Ketika “Mumpung Ditanggung” Menjadi Masalah
Di banyak negara, termasuk Indonesia, terdapat fenomena yang dikenal sebagai moral hazard atau pola pikir “mumpung ditanggung asuransi”. Kondisi ini membuat sebagian pasien cenderung menggunakan layanan kesehatan lebih sering karena merasa tidak perlu mengeluarkan biaya pribadi.
Padahal, dalam jangka panjang, pola pikir tersebut dapat menciptakan efek domino yang berdampak pada seluruh pengguna asuransi. Semakin tinggi jumlah klaim dan tindakan medis yang tidak perlu, semakin besar pula tekanan biaya yang harus ditanggung perusahaan asuransi maupun sistem kesehatan secara keseluruhan.
“Ketika layanan kesehatan digunakan secara berlebihan tanpa indikasi medis yang jelas, dampaknya tidak hanya ke individu, tetapi bisa memengaruhi keberlanjutan sistem secara keseluruhan,” ujar Prof. Hasbullah.
Pada akhirnya, tekanan biaya tersebut dapat diteruskan melalui penyesuaian premi. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh pasien yang sering berobat, tetapi juga masyarakat yang sebenarnya menggunakan layanan kesehatan secara wajar atau bahkan jarang melakukan klaim. Kondisi ini membuat kenaikan biaya kesehatan menjadi dirasakan secara kolektif.
Tren Layanan Kesehatan Kini Semakin Canggih
Menurut Mercer Health Trends, peningkatan utilisasi layanan kesehatan menjadi tren utama di Asia, yang mencerminkan semakin aktifnya masyarakat dalam mengakses layanan medis. Tren ini turut terlihat dari meningkatnya minat terhadap pemeriksaan kesehatan, termasuk medical check-up dan skrining sebagai bagian dari upaya preventif. Di tengah meningkatnya kesadaran tersebut, layanan kesehatan pun mulai bergeser tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan, tetapi juga menjadi bagian dari lifestyle.
Kemudahan layanan cashless, promosi paket kesehatan dari rumah sakit, hingga maraknya konten kesehatan di media sosial turut membentuk perilaku baru dalam mengakses layanan kesehatan. Di satu sisi, kemudahan ini mendorong masyarakat untuk lebih proaktif menjaga kesehatan. Namun di sisi lain, kondisi ini juga dapat memicu perilaku yang kurang tepat, seperti kecenderungan melakukan pemeriksaan secara impulsif tanpa pertimbangan medis yang jelas.
Hal ini sejalan dengan studi oleh Prudential Indonesia bersama Economist Impact yang menunjukkan bahwa hampir 9 dari 10 responden di Indonesia (sekitar 93%) mengaku pernah menunda berobat atau mencari layanan kesehatan, dan hampir setengahnya (44%) bahkan melakukannya secara berulang—menunjukkan adanya kesenjangan antara kemudahan akses dan pemanfaatan layanan yang tepat. Tidak sedikit pula masyarakat yang melakukan self-diagnosis setelah terpapar informasi kesehatan di internet, lalu memutuskan menjalani berbagai tes meski belum tentu dibutuhkan secara medis.
Pasien Perlu Aktif Memastikan Perawatan yang Diterima Sesuai Kebutuhan
Selain mengikuti anjuran dokter, pasien juga perlu memahami bahwa mereka memiliki hak untuk mengetahui alasan di balik setiap pemeriksaan, pengobatan, maupun tindakan medis yang diberikan. Sikap aktif bertanya dapat membantu pasien memahami apakah perawatan yang dijalani memang sesuai dengan kondisi kesehatannya.
Hal ini menjadi penting terutama ketika pasien menjalani pemeriksaan berulang, kontrol berkala, atau menerima terapi lanjutan dalam jangka waktu tertentu. Pasien berhak meminta penjelasan mengenai tujuan tindakan medis yang dilakukan, manfaat pengobatan yang diberikan, serta indikator yang digunakan tenaga kesehatan untuk menentukan perlunya perawatan lanjutan.
“Pasien tidak boleh pasif, mereka perlu memahami perawatan apa yang dilakukan dan kenapa tindakan itu diperlukan,” ujar Prof. Hasbullah.
Menurut Prof. Hasbullah, kebutuhan akan pemeriksaan atau kontrol rutin seharusnya didasarkan pada kondisi medis pasien dan hasil evaluasi yang objektif. Karena itu, pasien tidak perlu ragu untuk menanyakan perkembangan kondisi kesehatannya kepada dokter.
“Kalau hasil laboratoriumnya memang belum normal, berarti pemeriksaan atau kontrol itu masih diperlukan,” jelas Prof. Hasbullah.
Prinsip yang sama juga berlaku pada pemberian obat maupun terapi lanjutan. Pasien dapat menanyakan alasan suatu obat masih perlu dikonsumsi, target pengobatan yang ingin dicapai, hingga kapan terapi tersebut perlu dijalankan. Dengan komunikasi yang terbuka, pasien dapat lebih memahami proses pengobatan yang sedang dijalani sekaligus memastikan setiap tindakan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan medisnya.
Melalui keterlibatan aktif dalam proses perawatan, pasien tidak hanya menjadi penerima layanan kesehatan, tetapi juga mitra dalam pengambilan keputusan terkait kesehatannya sendiri. Dengan demikian, setiap pemeriksaan, pengobatan, maupun tindak lanjut medis dapat dijalankan secara lebih tepat, transparan, dan sesuai kebutuhan.
Fenomena Ini Juga Terjadi di Negara-negara Tetangga
Fenomena overutilisasi layanan kesehatan dan inflasi medis ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia. Negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia juga sedang menghadapi persoalan serupa, terutama terkait lonjakan klaim asuransi kesehatan, biaya rumah sakit swasta, dan penggunaan layanan medis yang dianggap berlebihan.
Di Singapura, pemerintah bahkan secara terbuka menyoroti fenomena yang disebut “buffet syndrome”. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika pemegang asuransi dengan perlindungan sangat lengkap cenderung menggunakan layanan kesehatan secara berlebihan karena merasa seluruh biaya ditanggung asuransi.
Dilansir dari Kementerian Kesehatan Singapura, kenaikan klaim asuransi kesehatan swasta disebut menjadi salah satu penyebab utama lonjakan premi asuransi kesehatan. Pada 2026, Mercer Health Trends memperkirakan tren inflasi biaya medis di Indonesia mencapai 17,8 persen. Namun, pemerintah menegaskan angka tersebut bukan murni disebabkan kenaikan harga layanan kesehatan, melainkan juga dipengaruhi peningkatan klaim dan penggunaan layanan medis yang berlebihan.
Berbeda dengan persepsi bahwa semakin banyak tindakan medis berarti semakin baik, Singapura dan Malaysia justru mulai menekankan pentingnya medical necessity atau kebutuhan medis yang benar-benar relevan dengan kondisi pasien. Budaya second opinion juga cukup lazim dilakukan untuk memastikan pasien memperoleh tindakan yang memang diperlukan.
Peran Dokter Sangat Menentukan
Dalam praktiknya, pasien awam sering kesulitan membedakan mana tindakan yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang cenderung berlebihan. Dalam kondisi seperti ini, dokter memegang peran penting untuk memastikan layanan kesehatan tetap diberikan sesuai kebutuhan pasien.
Dalam penjelasannya, Prof. Hasbullah menyebut bahwa karakteristik penggunaan layanan kesehatan dapat berbeda pada setiap skema pembiayaan. Pada sebagian asuransi komersial, sistem pembayaran umumnya disesuaikan dengan jumlah layanan atau tindakan medis yang diberikan kepada peserta.
Dalam sistem tersebut, rumah sakit dapat mengajukan klaim berdasarkan banyaknya layanan yang diberikan. Situasi ini dinilai berpotensi mendorong munculnya tindakan medis yang sebenarnya tidak selalu mendesak.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dokter tetap memiliki tanggung jawab moral dan etika profesi untuk mengutamakan kepentingan pasien.
“Dokter harus berpegang teguh pada sumpah dokter, yaitu mendahulukan kesehatan pasien daripada kepentingan lainnya” ujarnya.
Inflasi Medis Tidak Hanya Dipicu Harga Obat
Selama ini, kenaikan biaya kesehatan sering dikaitkan dengan mahalnya harga obat, alat kesehatan, atau teknologi medis. Namun, para ahli menilai inflasi medis tidak semata-mata terjadi karena faktor tersebut.
Akumulasi klaim dan tindakan medis yang tidak diperlukan juga dinilai turut mendorong pembengkakan biaya layanan kesehatan. Ketika biaya klaim terus meningkat, perusahaan asuransi akan melakukan evaluasi premi atau memperketat kebijakan klaim.
Dampaknya, seluruh nasabah ikut merasakan kenaikan biaya perlindungan kesehatan, termasuk mereka yang menggunakan layanan secara wajar. Inilah yang disebut sebagai efek domino overutilisasi medis, ketika praktik yang tampak kecil di level individu dapat berujung menjadi tekanan biaya bagi sistem secara kolektif.
Menjadi Pasien yang Lebih Kritis dan Bijak
Di tengah meningkatnya biaya kesehatan, masyarakat didorong untuk menjadi pasien yang lebih kritis dan proaktif. Menjadi pasien kritis bukan berarti tidak percaya pada dokter, melainkan aktif memahami kondisi kesehatan sendiri dan terlibat dalam pengambilan keputusan medis.
“Pasien harus pilih dokter yang dia bisa percaya dan seorang dokter juga harus dapat membantu pasiennya memahami pilihan perawatan yang sesuai tanpa pemborosan agar sistem kesehatan tetap terjangkau untuk jangka yang panjang," kata Prof. Hasbullah.
Sikap kritis penting karena setiap tindakan medis tetap memiliki risiko, mulai dari efek samping obat, hasil pemeriksaan yang dapat memicu kecemasan berlebih, overdiagnosis, hingga penggunaan plafon asuransi yang terlalu cepat habis untuk kondisi yang sebenarnya ringan.
“Tidak semua tindakan atau pemeriksaan medis itu selalu diperlukan, ada risikonya dan perlu dipertimbangkan dengan baik,” jelas Prof. Hasbullah.
Pasien juga berhak bertanya mengenai tujuan pemeriksaan, manfaat tindakan medis, kemungkinan efek samping, hingga apakah tersedia alternatif penanganan lain yang lebih sederhana. Dalam kondisi tertentu, pasien juga dapat meminta opini kedua apabila masih merasa ragu terhadap tindakan yang disarankan.
“Bertanya dan mencari opini kedua adalah hak pasien untuk memastikan keputusan yang diambil sudah tepat,” tambahnya.
Selain itu, masyarakat juga sebaiknya tidak langsung menggunakan asuransi untuk setiap keluhan ringan.
Penggunaan layanan kesehatan yang lebih bijak dapat membantu menjaga keberlanjutan perlindungan asuransi dalam jangka panjang.
Cara Menjadi Pasien Kritis
Agar terhindar dari penggunaan layanan kesehatan yang berlebihan, masyarakat dapat menerapkan beberapa langkah berikut:
- Tanyakan tujuan dan urgensi pemeriksaan medis yang disarankan.
- Pahami manfaat serta risiko dari setiap tindakan medis.
- Jangan ragu meminta opini kedua jika masih merasa bingung.
- Gunakan asuransi sesuai kebutuhan medis, bukan sekadar karena fasilitas tersedia.
- Simpan riwayat kesehatan pribadi agar pemeriksaan tidak dilakukan berulang tanpa alasan jelas.
- Hindari self-diagnosis berlebihan dari media sosial atau internet.
Pada akhirnya, tujuan utama layanan kesehatan bukanlah memperbanyak tindakan medis, melainkan memastikan pasien memperoleh perawatan yang benar-benar memberikan manfaat bagi kesembuhan dan kualitas hidupnya. (LAN)