Hal yang Perlu Diketahui Terkait Masalah Kesehatan Organ Intim
Kesehatan organ intim merupakan bagian penting dari kesehatan reproduksi dan kesehatan tubuh secara menyeluruh. Namun, pembahasan mengenai organ intim masih sering dianggap tabu, sehingga banyak orang kurang mendapatkan informasi yang benar mengenai cara perawatan, risiko penyakit, serta langkah pencegahannya.
Salah satu risiko utama yang berkaitan dengan kesehatan organ intim adalah Infeksi Menular Seksual (IMS). Kurangnya pemahaman mengenai jenis, gejala, dan cara penularan IMS membuat banyak kasus tidak terdeteksi sejak dini. Akibatnya, infeksi dapat berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius, seperti gangguan kesuburan, infeksi kronis, hingga peningkatan risiko penularan HIV. Oleh karena itu, itu, edukasi mengenai IMS dan upaya pencegahannya termasuk penggunaan kondom menjadi sangat penting untuk melindungi kesehatan individu maupun pasangan.
Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk memahami terlebih dahulu apa itu IMS. IMS adalah infeksi yang ditularkan melalui hubungan intim, baik vaginal, anal, maupun oral. Penyebabnya beragam, mulai dari bakteri, virus, jamur hingga parasit.
Terkait dengan gejala IMS, Clinical Training Manager DKT Indonesia, dr. Erika Indrajaya menyebut bahwa pada sebagian kasus, gejala lebih mudah dikenali pada perempuan, namun tidak tampak pada laki-laki. Sebaliknya, ada pula infeksi yang justru lebih cepat menunjukkan tanda pada laki-laki dibandingkan perempuan.
Sebagai contoh, pada infeksi Human papillomavirus (HPV), gejala pada perempuan dapat terlihat atau terasa, sementara pada laki-laki sering kali tidak menimbulkan keluhan. Berbeda dengan Gonore atau Sifilis, yang dalam beberapa kasus justru lebih dahulu menunjukkan gejala pada laki-laki.
“Beberapa beda jenis IMS itu gejalanya beda. Contoh HPV, HPV itu kalau di wanita itu berasa, kaya terlihat gejalanya, tapi kalau di cowok itu justru enggak. Sedangkan kalau misalnya yang lain, gonorrhea, sifilis, itu bahkan mungkin lebih jelas di cowok duluan dibandingkan dari wanita,” kata dia saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan baru-baru ini.
Dari sisi penyebab, IMS tidak hanya disebabkan oleh satu jenis kuman. Ada yang disebabkan oleh bakteri, virus, hingga mikroorganisme lainnya. Namun, semua IMS memiliki satu kesamaan utama, yaitu cara penularannya.
"Dan infeksi menular seksual ini banyak banget jenisnya, mulai dari bakteri, virus, bahkan sampai mikroorganisme. Maksudnya bener-bener dan semuanya itu cuma punya satu hal yang sama. Mereka itu menularan lewat hubungan intim, dan enggak lewat mode lain gitu ya. Enggak seperti batuk yang langsung gitu, enggak. Ini cuma menularan lewat hubungan intim,” sambung dia.
Artinya, IMS tidak menular melalui interaksi sehari-hari seperti bersalaman, berbagi makanan, atau percikan batuk. Penularan terjadi melalui hubungan seksual—baik vaginal, anal, maupun oral terutama saat terjadi pertukaran cairan tubuh atau kontak kulit ke kulit di area genital.
Oleh karena itu, penggunaan kondom menjadi sangat penting sebagai langkah pencegahan. Kondom bekerja sebagai penghalang fisik (barrier) yang mencegah pertukaran cairan tubuh, sehingga dapat menurunkan risiko penularan IMS, termasuk HIV/AIDS serta infeksi menular seksual lainnya.
“Dan inilah makanya kenapa kondom ini, fungsi kondom ini pun jarang dihighlight ataupun digaungkan. Karena mungkin yang selama ini masih lebih ditakutkan HIV, yang jauh lebih sering menjadi bahan pembicaraan publik dibandingkan dengan infeksi menular lain. Jadi kondom itu selain untuk mencegah kehamilan, juga untuk melindungi dari infeksi menular seksual, termasuk HIV, dan juga infeksi penular lain,” kata dia.
Terkait dengan isu penggunaan kondom dalam hubungan intim kembali disuarakan lewat kampanye Kondom Sutra bertajuk ‘Mau Kalo Pake Kondom’. Kampanye ini mendorong komunikasi yang lebih terbuka dan setara dalam hubungan. Head of Marketing DKT Indonesia, Cut Vellayati menjelaskan bahwa kondom seharusnya tidak menjadi pilihan terakhir.
“Pesan kami sederhana Nggak mau kalau nggak pakai kondom. Kondom seharusnya bukan pilihan terakhir. Lewat kampanye ini, kami ingin kondom menjadi bagian dari momen intim, sesuatu yang normal dibicarakan, dan tidak bisa ditawar,”kata dia.