Mengenal Fenomena 'Disillusionomics', Cara Gen Z Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi

Ilustrasi Gen Z.
Ilustrasi Gen Z.

Perubahan lanskap ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya memengaruhi dunia usaha, tetapi juga cara generasi muda memandang masa depan finansial mereka. Generasi Z kini menghadapi realitas ekonomi yang penuh tekanan, mulai dari meningkatnya biaya hidup hingga ketidakpastian pasar kerja yang berkepanjangan.

Di tengah kondisi tersebut, muncul fenomena baru yang disebut “disillusionomics”, sebuah istilah yang menggambarkan cara Gen Z merespons sistem ekonomi yang dinilai tidak lagi sejalan dengan harapan lama. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Alih-alih mengikuti jalur konvensional seperti mencari pekerjaan tetap dan mempunyai perencanaan jangka panjang, banyak dari mereka memilih pendekatan yang lebih fleksibel dan adaptif. Konsep ini diperkenalkan oleh ekonom muda Alice Lassman yang melihat adanya pola perilaku baru di kalangan generasinya. 

Ia menilai bahwa Gen Z tumbuh dengan pengalaman krisis yang berulang, sehingga membentuk cara pandang yang berbeda terhadap stabilitas ekonomi. “Sistem ekonomi yang dibicarakan orang tua mereka sebenarnya tidak akan berjalan dengan cara yang sama bagi mereka,” ujar Lassman, sebagaimana dikutip dari Fortune, Sabtu, 2 Mei 2026.

Menurutnya, terdapat kesenjangan antara apa yang diajarkan mengenai ekonomi dengan realitas yang dihadapi generasi muda saat ini. “Saya pikir ada perasaan umum di kalangan anak-anak di sekolah dan dari konten yang mereka konsumsi, bahwa semuanya tidak berjalan sebagaimana mestinya,” lanjutnya.

Kondisi ini mendorong banyak Gen Z untuk mengubah strategi keuangan mereka. Kepemilikan rumah, pensiun, hingga membangun keluarga kini tidak lagi menjadi tujuan utama yang realistis bagi sebagian dari mereka. 

Sebagai gantinya, mereka mulai mengandalkan berbagai sumber penghasilan sekaligus. Fenomena ini terlihat dari meningkatnya tren memiliki lebih dari satu pekerjaan atau sumber pendapatan, mulai dari pekerjaan utama, pekerjaan sampingan, hingga aktivitas di ekonomi digital seperti menjadi kreator konten atau membuka usaha kecil, semuanya dimanfaatkan untuk meningkatkan pemasukan.

Pendekatan ini membuat kehidupan finansial Gen Z menyerupai portofolio, di mana setiap aktivitas memiliki potensi menghasilkan uang. Cara ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang memungkinkan monetisasi berbagai aspek kehidupan sehari-hari.

Selain itu, sikap skeptis terhadap institusi tradisional seperti pemerintah dan perusahaan juga semakin terlihat. Hal ini turut memengaruhi cara mereka mengambil keputusan finansial, termasuk dalam hal konsumsi dan investasi.

Pemikir ekonomi Kyla Scanlon menilai fenomena ini sebagai bagian dari perubahan besar dalam perilaku ekonomi generasi muda. “Ketika semua jalur konvensional semakin sempit, orang mulai mencari alternatif. Dalam praktiknya, itu berarti beralih ke beberapa peluang yang masih terlihat menjanjikan, meskipun risikonya tinggi,” jelasnya.

Di sisi lain, pola konsumsi Gen Z juga mengalami perubahan. Mereka cenderung lebih selektif dalam berbelanja dan mengutamakan nilai dibanding merek. Tren seperti mencari alternatif produk dengan harga lebih terjangkau menjadi semakin umum.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meskipun demikian, tekanan ekonomi tetap menjadi tantangan utama. Tingginya beban utang serta ketidakpastian masa depan membuat generasi ini harus terus beradaptasi dengan cepat.

Fenomena disillusionomics pada akhirnya mencerminkan upaya Gen Z untuk bertahan dalam sistem ekonomi yang mereka anggap tidak lagi memberikan jalur sukses yang jelas. Pendekatan ini bukan sekadar tren sementara, tetapi berpotensi membentuk arah baru dalam perilaku ekonomi global seiring meningkatnya peran generasi ini di dunia kerja dan pasar konsumsi.