Di Tengah Lumpur Pascabanjir Sumatera, Tiga Lansia di Bireuen Bertahan dengan Obat Terbatas

Kehidupan warga Desa Meuse, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, Aceh masih jauh dari layak pascabanjir Sumatera yang menerjang pada 26 November 2025.
Banjir datang dari pagi pada hari itu, dari ketinggian beberapa sentimeter saja hingga mencapai 3 meter dan menenggelamkan hampir seluruh rumah di desa tersebut.
Tanpa rumah yang layak huni karena terpendam lumpur, mereka hingga kini masih bertahan di pos-pos pengungsian, termasuk 3 lansia yang mengidap penyakit kronis.
Kondisi 3 lansia yang mengungsi di mushala
Sekretaris desa Zahrul Fuadi mengatakan, total warga di Meuse ada 1.024 jiwa. Dan hingga Selasa (16/12/2025), masih sebanyak 750 warga yang bertahan di pengungsian karena rumah mereka rusak parah tertimbun lumpur.
Dari ratusan warga itu, ada tiga lansia yang kondisinya sudah sangat renta dan rapuh lantaran mengidap penyakit kronis.
Dalam video yang dikirimkan Fuad, tampak seorang kakek yang duduk di teras mushala, tengah mencoba untuk berdiri dengan dibantu oleh seorang lansia wanita.
"Itu adalah Pak Abdullah, usia 66 tahun yang menderita stroke. Dan yang membantu itu adalah Agustiana, usia 56 tahun yang menderita penyakit gula," papar Fuad kepada Kompas.com, Rabu (17/12/2025).
Kamera tampak berjalan memasuki ruangan, memperlihatkan seorang nenek tengah berbaring meringkuk di lantai, hanya beralaskan kasur tipis seadanya.
Nenek tua itu terlihat melongok sebentar melihat kamera, tanpa senyum, tanda daya,
"Itu adalah Ibu Aisyah, berusia 97 tahun yang sudah renta dan sudah tidak bisa bangun lagi," ujar Fuad.
Menurut Fuad, ketiga lansia itu sempat dievakuasi ketika air banjir mulai meninggi.
"Saat air sebatas leher orang dewasa, mereka didorong anak-anaknya di atas kasur untuk dibawa ke tempat aman," cerita Fuad,
Sejak bencana datang, mereka bertiga masih bertahan hidup di mushala, dengan stok obat sangat terbatas.
"Tim dokter berkunjung ke sini beberapa kali. Setiap berkunjung, mereka memberi stok obat untuk tiga hari saja," ujar Fuad menceritakan kondisi warga desanya.
Menu mi instan saat stok lauk menipis
Kondisi dapur umum Desa Meuse yang sederhana.
Dilansir dari , Selasa, sejak banjir Sumatera menerjang dan merendam hunian, sebagian besar warga desa bertahan di pengungsian hingga hari ini, hidup dengan pakaian dan menu makanan sehari-hari seadanya."Pakaian seadanya. Ada yang pakaiannya sudah tidak bisa diselamatkan, ada yang masih bisa dicuci dan dibersihkan dari lumpur. Untungnya banyak relawan yang datang dan memberikan bantuan berupa pakaian," ujarnya.
Di Desa Meuse, ada dua dapur umum yang tiap hari kompornya terus menyala demi menjaga perut pengungsi agar tidak kelaparan.
Empat orang bertugas di masing-masing dapur umum, mengolah beras dan lauk pauk yang dikirim oleh para relawan.
Stok beras cukup melimpah, kata Fuad. Namun sayang, stok lauk pauk sering menipis.
Saat stok habis, dengan sisa uang tunai di tangan, warga desa akan berbelanja lauk sederhana seperti ikan asin di pasar terdekat.
Tapi warga bersyukur, karena beberapa hari terakhir, mereka terbantu makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah.
Jadi selama sekolah belum aktif akibat bencana, MBG disalurkan ke desa-desa, termasuk ke Meuse.
Pada Senin (15/12/2025), bantuan MBG datang dengan lauk ayam, sedikit memberi jeda dari kebosanan rutinitas mengonsumsi "makanan wajib" pengungsi, yaitu mi instan.
"Jadi menu harian kami ya mi instan. Semalam agak istimewa, karena selain mi instan, juga ada ikan asin yang kami beli sendiri di pasar. Tapi menu ini tak setiap hari ada karena keterbatasan dana," ujar Fuad.
Dua pekan selepas banjir menerjang, banyak warga Meuse mulai terserang penyakit, terutama gatal-gatal dan demam.
"Untungnya, sampai hari ini, sudah tiga kali tim medis datang dan membekali kami stok obat-obatan. Kemarin, Senin, juga ada dokter yang datang. Mereka ada di sini 2 hingga 3 jam memeriksa warga yang sakit," papar Fuad.
Aliran listrik di Meuse sendiri sudah perlahan pulih, meski beberapa kali padam hingga 24 jam.
Sedangkan untuk kebutuhan air bersih, warga menggantungkan stok dari sebuah sumur yang masih bisa digunakan.
Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini