Mengenal Fenomena Polyworking, Ketika Pekerja Cari Banyak Sampingan karena Gaji Mandek dan Biaya Hidup Tinggi

Ilustrasi Wawancara Kerja
Ilustrasi Wawancara Kerja

 Dalam beberapa tahun terakhir, pola bekerja masyarakat mengalami perubahan besar. Jika dulu satu pekerjaan penuh waktu dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kini makin banyak pekerja merasa pendapatan tunggal tak lagi memadai. 

Tekanan ekonomi, inflasi, hingga ketakutan akan pemutusan hubungan kerja membuat banyak orang mencari cara untuk menambah sekaligus mengamankan pendapatan mereka.

Di tengah kondisi tersebut, muncullah tren yang disebut polyworking atau bekerja di dua, tiga, bahkan empat pekerjaan sekaligus. Bagi sebagian orang, ini bukan sekadar strategi bertahan hidup, tetapi juga cara membangun keterampilan baru dan membuka peluang karier yang lebih fleksibel. 

Namun di balik peluangnya, polyworking juga membawa tantangan, mulai dari risiko kelelahan hingga potensi terjebak dalam pekerjaan gig yang tidak stabil. Salah satu contoh nyata adalah kisah Katelyn Cusick. 

Ia bekerja penuh waktu sebagai visual merchandiser untuk Patagonia. Di luar itu, ia menjalankan pekerjaan sampingan mengelola influencer media sosial untuk merek sepatu Jerman selama 10 hingga 15 jam per minggu. Tak berhenti di situ, ia juga memiliki toko Etsy tempat ia menjual lukisan, serta bekerja sebagai usher konser agar bisa menonton pertunjukan gratis.

Ilustrasi bekerja

“Setiap hari berbeda dan setiap hari terasa seperti hari baru,” kata Cusick, sebagaimana dikutip dari AP News, Kamis, 11 Desember 2025. “Itu sebabnya saya mulai melakukan semua pekerjaan sampingan ini, karena saya ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Saya tidak ingin melakukan hal yang sama setiap hari,” ungkapnya. 

Pendapatan tambahan tersebut membantunya membayar pinjaman mahasiswa dan menutupi biaya hidup yang tinggi. Apalagi gaji di pekerjaan utama tidak naik selama beberapa tahun terakhir.

Banyak pekerja lainnya mengambil pekerjaan sampingan karena ketidakstabilan di tempat kerja atau ketakutan kehilangan pendapatan. Sebagian lagi memilih gig work seperti Uber atau Grubhub sebagai cara menambah pemasukan dengan cepat.

Hal tersebut juga disampaikan Alexandrea Ravenelle, sosiolog dan peneliti ekonomi gig di University of North Carolina at Chapel Hill. "Kita melihat gaji stagnan, tetapi inflasi, dan biaya hidup meningkat secara keseluruhan, bahkan melebihi ukuran inflasi kita. Jadi orang mencari cara untuk menambah dan membangun sedikit jaring pengaman,” ungkapnya. 

Sebagian pekerja mulai membangun “portfolio career”, yaitu kombinasi beberapa pekerjaan berdasarkan keterampilan yang berbeda. Dalam kasus Cusick, pekerjaan sampingan membuat keterampilan pemasaran media sosialnya tetap relevan.

“Alih-alih memiliki satu pekerjaan selama bertahun-tahun dan melihat perkembangan karier secara linear, sebagian orang menggabungkan banyak pekerjaan sampingan berdasarkan keterampilan dan minat, lalu membuat uang bekerja dengan memiliki beberapa aliran pendapatan,” jelas Elaine Chen, Direktur Derby Entrepreneurship Center di Tufts University.

Jika ingin memulai pekerjaan sampingan, para ahli menyarankan memilih sesuatu yang benar-benar disukai. “Kamu harus mencintainya,” ujar Chen. “Biasanya itu sesuatu yang benar-benar membuat orang tersebut bersemangat.”

Namun Ravenelle memberi peringatan. Ia mengatakan gig work membawa stigma di mata sebagian perusahaan, sehingga pekerja sulit kembali ke pekerjaan penuh waktu. 

“Jika pekerja gig mendapatkan bayaran bagus, platform biasanya akan mengubah algoritma sehingga mereka mendapatkan lebih sedikit,” ujarnya. 

Selain itu, tren polyworking juga membuka celah bagi penipuan berkedok peluang bisnis. Banyak influencer menawarkan skema yang terdengar mudah dan menghasilkan banyak uang.

Ravenelle menemukan kasus orang yang percaya bisa menghasilkan ribuan dolar per bulan dari bisnis microgreens di dapur rumah. Kenyataannya, yang untung justru penyedia peralatan dan kelasnya.

Terlepas dari itu, tren polyworking kemungkinan masih akan terus berkembang, terutama selama tekanan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi belum mereda.