Mengenal Fenomena 'Jobless Boom' yang Bikin Pengangguran Putus Asa Cari Kerja

Ribuan Pencari Kerja Padati Job Fair
Ribuan Pencari Kerja Padati Job Fair

Di tengah ekonomi yang masih tumbuh dan tingkat pengangguran rendah, banyak orang di Amerika justru menghadapi kenyataan pahit, di mana mencari kerja kini jauh lebih sulit dibanding beberapa tahun lalu. Fenomena ini disebut para ekonom sebagai “jobless boom”.

Fenomena tersebut merupakan momen di mana perusahaan enggan merekrut tenaga baru meski tidak melakukan banyak pemutusan hubungan kerja (PHK).

Salah satu yang merasakan beratnya situasi ini adalah Carly Kaprive, perempuan berusia 32 tahun asal Kansas City yang pindah ke Chicago setahun lalu. Ia meninggalkan pekerjaannya sebagai project manager dengan keyakinan akan segera mendapatkan posisi baru dalam waktu tiga hingga enam bulan. 

Namun, realita berkata lain. Setelah mengirim lebih dari 700 lamaran, ia masih belum juga mendapat pekerjaan. Kaprive mengaku frustrasi karena beberapa perusahaan bahkan membatalkan proses rekrutmen saat wawancara masih berlangsung.

“Saya pernah mengalami situasi di mana posisi yang saya lamar dihapus di tengah proses wawancara. Mereka memutuskan untuk tidak merekrut siapa pun,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Fortune, Selasa, 11 November 2025.

Menurut Diane Swonk, kepala ekonom di KPMG, kondisi ini adalah anomali sejarah. “Tingkat pengangguran memang rendah dan ekonomi masih tumbuh, tetapi laju perekrutan saat ini adalah yang paling lambat dalam lebih dari satu dekade,” ujarnya.

Fenomena ini menimbulkan kesenjangan antara mereka yang masih bekerja dan yang kehilangan pekerjaan. “Ini seperti situasi ‘orang dalam vs orang luar’. Mereka yang sudah bekerja relatif aman, sementara pencari kerja kesulitan masuk,” jelas Guy Berger, kepala riset di Burning Glass Institute.

Di lain sisi, beberapa perusahaan besar seperti UPS, Target, dan IBM juga baru-baru ini mengumumkan pemangkasan puluhan ribu karyawan. Walau begitu, Berger menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah hal itu pertanda ekonomi memburuk.

Situasi makin rumit karena laporan ketenagakerjaan dari pemerintah Amerika Serikat tertunda akibat penutupan pemerintahan atau. overnment shutdown. Akibatnya, data resmi mengenai perekrutan dan pengangguran bulan September dan Oktober belum dirilis secara lengkap.

Ilustrasi Ekonomi Amerika Serikat

Sebelum shutdown, Departemen Tenaga Kerja AS mencatat tingkat perekrutan hanya 3,2 persen pada Agustus, angka terendah di luar masa pandemi sejak Maret 2013. Saat itu, tingkat pengangguran mencapai 7,5 persen, jauh lebih tinggi dibanding 4,3 persen pada Agustus 2025.

Tak hanya kaum muda, pekerja berpengalaman juga merasakan dampaknya. Suzanne Elder, 65 tahun, seorang eksekutif operasional di bidang kesehatan, mengaku dua tahun lalu ia bisa mendapatkan tiga tawaran pekerjaan hanya dalam tiga bulan. Kini, sudah tujuh bulan ia menganggur.

“Saya sempat mendapat pekerjaan di usia 63 tahun, jadi saya tidak melihat alasan untuk tidak mendapatkannya lagi di usia 65,” katanya.

Namun Elder juga terkejut dengan proses rekrutmen modern yang serba otomatis. “Saya pernah menerima email ucapan terima kasih karena sudah diwawancara, padahal saya sama sekali belum diwawancarai. Perusahaan lain bahkan meminta saya mengisi survei padahal mereka tidak pernah menanggapi lamaran saya,” ungkapnya.

Menurut data pemerintah, lebih dari 25 persen pengangguran telah menganggur selama lebih dari enam bulan, meningkat tajam sejak Juli–Agustus dan jauh lebih tinggi dibanding 21 persen setahun lalu.

Apa Penyebab Jobless Boom

Para ekonom menilai perlambatan perekrutan atau fenomena jobless boom ini disebabkan oleh ketidakpastian global. Mulai dari tarif perdagangan, kebijakan imigrasi, suku bunga tinggi, hingga dampak kecerdasan buatan (AI).

Meski investasi besar-besaran di pusat data untuk mendukung teknologi AI sedang berkembang pesat, sektor lain seperti manufaktur dan perumahan justru melemah. 

“Konsentrasi pertumbuhan ekonomi pada sektor AI membuat ekonomi terlihat kuat di atas kertas, padahal tidak dirasakan sebagian besar masyarakat,” kata Swonk.

Kisah Kaprive menggambarkan realitas baru dunia kerja di Amerika, di mana meski tingkat pengangguran mungkin rendah, tetapi peluang kerja tak lagi mudah didapat. Fenomena “low hire, low fire” juga telah menciptakan jurang baru antara mereka yang masih bekerja dan yang kehilangan pekerjaan.