Bukan Hybrid Lagi, Microshifting Jadi Cara Kerja Paling Dicari Gen Z di 2026

Ilustrasi pekerja
Ilustrasi pekerja

 Dalam beberapa tahun terakhir, konsep fleksibilitas kerja terus berkembang dari sekadar hybrid working hingga munculnya pola kerja yang lebih cair dan mengikuti ritme hidup masing-masing. Salah satu tren terbaru yang kini ramai dibicarakan adalah “microshifting”.

Sesuai namanya, microshifting adalah bekerja dalam blok-blok waktu pendek yang bisa diatur sendiri sesuai produktivitas dan kebutuhan pribadi sepanjang hari. Tren ini muncul sebagai respons terhadap gaya hidup modern, meningkatnya tuntutan keseimbangan hidup, dan perubahan pola kerja setelah pandemi.

Fenomena ini kian populer karena banyak pekerja kini ingin bekerja tanpa harus “terkunci” dalam struktur 9-to-5. Di tengah tuntutan work-life balance, kesehatan mental, dan meningkatnya pekerjaan remote, microshifting menawarkan kebebasan baru, yang mana pekerjaan bisa tetap selesai meski jam kerja dipotong-potong mengikuti alur energi masing-masing. 

Mengapa Microshifting Jadi Tren Kerja 2026? 

Ilustrasi sedang bekerja.

Microshifting mengizinkan pekerja menyusun harinya dengan sangat fleksibel. Bekerja dua jam di pagi hari, antar anak ke sekolah, olahraga, kembali bekerja, lalu istirahat lama saat siang, dan melanjutkan pekerjaan di malam hari, semuanya dilakukan dalam blok pendek yang efisien.

Konsep ini disambut hangat terutama oleh generasi muda. Sebuah survei Owl Labs terhadap 2.000 pekerja Inggris menunjukkan dua pertiga responden menginginkan cara kerja seperti ini. Generasi lebih muda paling antusias, di mana 72 persen Gen Z dan milenial tertarik, dibandingkan hanya 45 persen Gen X dan 19 persen baby boomer.

Laporan Deputy, platform manajemen pekerja jam-jaman di AS, juga menemukan bahwa tren ini banyak didorong generasi muda yang menginginkan cara kerja yang lebih otonom dan berbasis hasil.

Sam Collier, head of marketing Talent Insight Group, mengatakan microshifting sudah mulai muncul dalam proses rekrutmen. “Kami melihat peningkatan klien yang berbicara kepada kandidat tentang fleksibilitas dalam setiap hari, serta pola kerja hybrid,” katanya, sebagaimana dikutip dari Independent, Selasa, 9 Desember 2025.

“Baik itu waktu mulai dan selesai atau kemampuan untuk menjemput anak sekolah, ini pendekatan yang menolak micromanaging dan menekankan output daripada duduk di meja dari jam sembilan sampai lima,” paparnya. 

Namun, meski permintaan meningkat, perusahaan belum banyak yang bisa mengikuti. “Permintaan untuk fleksibilitas kerja saat ini lebih tinggi daripada apa yang ditawarkan perusahaan,” ungkap Peter Duris, CEO Kickresume. 

Data Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD) menunjukkan 18 persen perusahaan melihat kenaikan permintaan fleksibilitas, 20 persen pekerja akan menggunakan flexitime jika ditawarkan, namun akses fleksibilitas masih tidak merata, hanya sebagian kecil pekerja yang mendapatkan kesempatan itu. 

Selain itu, di tengah naiknya burnout, dengan 34 persen pekerja mengalami stres tinggi menurut Mental Health UK, microshifting dianggap solusi yang membantu kesehatan mental. Namun, risikonya adalah terjebak budaya “always on”.

“Setiap fleksibilitas, detailnya sangat penting… Ini berpotensi mengorbankan kemampuan kita untuk memutus hubungan dari pekerjaan,” kata Penelope Jones, career coach, mengingatkan. 

Karena itu, batasan harus jelas. “Batasan harus eksplisit… dan ada kebijakan sederhana untuk apa yang terjadi jika sesuatu yang ‘mendesak’ muncul saat mereka sedang off shift,” kata Duris.