Makanan Kekinian Ternyata Punya 'Bahan Rahasia' yang Hampir Selalu Ada di Dapur Kita

Ilustrasi kopi dan croissant
Ilustrasi kopi dan croissant

Dalam beberapa tahun terakhir, makanan kekinian semakin mudah ditemukan di berbagai tempat, mulai dari kafe, toko roti, hingga produk siap saji di supermarket. Di balik tampilannya yang modern dan variasi rasanya yang beragam, ada satu hal yang sering tidak disadari: banyak dari produk tersebut ternyata menggunakan bahan baku yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Salah satu bahan yang diam-diam berperan besar dalam industri pangan adalah kelapa sawit. Scroll untuk info lebih lanjut...

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Komoditas tersebut tidak hanya digunakan untuk kebutuhan industri berat, tetapi juga sudah menjadi bagian dari berbagai produk makanan yang dikonsumsi sehari-hari, termasuk makanan kekinian yang populer saat ini.

Ketua Bidang Pertanian sekaligus Ketua Satuan Tugas Pangan Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), M Hadi Nainggolan, menyebut industri kelapa sawit memiliki posisi penting dalam sistem pangan nasional.

Ia menambahkan, peran sawit tidak hanya berada di satu tahap produksi, tetapi mencakup seluruh rantai pasok dari hulu hingga hilir.

Dalam konteks industri makanan, kelapa sawit digunakan karena memiliki sejumlah karakteristik yang mendukung produksi skala besar, seperti stabilitas pasokan dan fleksibilitas penggunaannya dalam berbagai produk olahan.

Tanaman ini juga memiliki keunggulan untuk menjadi bahan baku produk-produk pangan karena memiliki karakteristik harga kompetitif, produktivitas tinggi, pasokan stabil, dan aplikasi penggunaan sangat luas.

Menurut M Hadi Nainggolan, produk turunan sawit sudah sangat luas digunakan di sektor pangan, termasuk dalam berbagai makanan yang sering ditemui dalam keseharian masyarakat. “Dari kelapa sawit kita menghasilkan berbagai macam produk turunan di bidang pangan. Banyak sekali produk pangan yang dihasilkan dari kelapa sawit,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Senin, 27 April 2026.

Produk tersebut mencakup minyak goreng, margarin, roti, minuman kopi, coklat, biskuit, hingga mentega putih (shortening). Hal ini membuat kelapa sawit menjadi salah satu bahan yang secara tidak langsung hadir dalam banyak makanan modern, termasuk makanan kekinian yang berkembang di perkotaan.

Dari sisi industri, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang mencapai hampir 17 juta hektare juga dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi produksi pangan nasional.

Kelapa sawit.

Ia menegaskan, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang hampir mencapai 17 juta hektare perlu dipandang sebagai sumber kekuatan pangan nasional. Komoditas kelapa sawit diketahui tidak mengenal pola musiman dengan volume produksi yang relatif konsisten dari bulan ke bulan serta dari tahun ke tahun.

Kondisi ini dinilai memberikan kepastian bagi industri makanan yang membutuhkan bahan baku stabil untuk menjaga kualitas produk. “Saya sepakat bahwa kelapa sawit ini adalah tanaman unggulan yang harus dioptimalkan sebaik mungkin,” sambungnya.

Ia juga menyoroti perlunya penguatan hilirisasi agar kelapa sawit tidak hanya berhenti pada bahan mentah, tetapi berkembang menjadi produk pangan bernilai tambah yang lebih dekat dengan kebutuhan konsumen.

“Kita masih perlu mendorong agar para pengusaha terjun ke sektor hilirisasi,” ujarnya.

Ia menilai kolaborasi dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat ekosistem industri pangan berbasis sawit.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurutnya, pengembangan hilirisasi sawit di sektor pangan tidak hanya berdampak pada industri, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan pangan nasional dan penciptaan lapangan kerja.

“Harus ada pengusaha yang bisa mengolah kebun sawit menjadi produk-produk pangan seperti mentega hingga keju,” pungkasnya.