Kenapa Barongsai Selalu Ada Saat Imlek? Ini Asal-usul dan Makna di Baliknya

Dunia akan segera menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2026 yang jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026. Sebagai perayaan terpenting dalam kalender lunar (bulan), Imlek bukan sekadar pergantian tanggal, melainkan simbol harapan baru, keberuntungan, dan kemakmuran.
Di Indonesia, suasana Imlek selalu identik dengan dominasi warna merah, berbagi angpao, dan yang paling dinantikan masyarakat: pertunjukan Barongsai.
Kesenian tradisional Tiongkok ini bukan hanya hiburan visual, tetapi memiliki akar sejarah dan makna filosofis yang mendalam.
Apa Itu Barongsai?
Barongsai adalah seni pertunjukan tradisional Tiongkok yang menampilkan tarian menyerupai singa. Mengutip dari China Highlights, kostum barongsai yang berwarna cerah biasanya dimainkan oleh dua orang pemain yang terlatih.
Pemain pertama bertugas mengendalikan bagian kepala dan kaki depan, sementara pemain kedua mengatur bagian badan serta kaki belakang.
Keduanya harus bergerak selaras agar "singa" tersebut tampak hidup, mulai dari gerakan meloncat, menunduk, hingga menunjukkan ekspresi yang gagah maupun lucu.
Pertunjukan ini tidak lengkap tanpa iringan musik yang dinamis. Bunyi gendang menjadi penentu ritme gerakan, sedangkan simbal dan gong memperkuat efek dramatis.
Kombinasi gerak lincah dan suara keras ini dipercaya dapat membangkitkan energi positif sekaligus mengusir pengaruh buruk.
Sejarah dan Asal-usul Barongsai
Ilustrasi barongsai
Secara historis, singa bukanlah hewan asli Tiongkok. Dalam kebudayaan Tionghoa, singa dianggap sebagai makhluk mitologis, serupa dengan naga.Sebelum Dinasti Han (202 SM–220 M), masyarakat Tiongkok hanya mengenal singa melalui jalur perdagangan Sutra.
Gerakan hewan ini kemudian ditiru dan berkembang menjadi tari singa pada Periode Tiga Kerajaan (220–280). Kesenian ini semakin populer seiring masuknya ajaran Buddhisme pada Dinasti Utara dan Selatan.
Pada masa Dinasti Tang (618–907), barongsai telah menjadi bagian dari pertunjukan resmi di istana. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini menyebar ke rakyat jelata dan rutin dipentaskan dalam berbagai festival, pembukaan usaha, hingga ritual keagamaan.
Di Indonesia sendiri, barongsai dibawa oleh para imigran Tionghoa sejak era Hindia-Belanda.
Meski sempat mengalami pembatasan aktivitas budaya pada periode 1960-an hingga 1990-an, pasca-reformasi, barongsai kembali bangkit. Kini, barongsai tidak hanya hadir di klenteng atau mal, tetapi juga telah berkembang menjadi cabang olahraga prestasi.
Barongsai, Lebih dari Sekadar Tarian
Mengutip dari laman liondance.sg, setiap elemen dalam Barongsai mengandung simbol kebaikan bagi mereka yang menyaksikannya:
- Perlindungan: Dipercaya menolak kesialan dan energi negatif.
- Kemakmuran: Menarik rezeki dan keberhasilan di masa depan.
- Kebahagiaan: Menghadirkan keceriaan dan semangat baru bagi keluarga.
- Keberanian: Melambangkan kekuatan dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan.
Salah satu momen ikonik dalam pertunjukan ini adalah tradisi "memetik hijau" atau mengambil sayuran yang digantung.
Aksi ini merupakan simbol mengambil rezeki yang kemudian dibagikan kembali sebagai tanda keberuntungan bagi lingkungan sekitar.
Warna kostum juga memegang peranan penting. Warna merah melambangkan sukacita, emas melambangkan kemakmuran, dan hijau melambangkan harmoni serta pertumbuhan.
Mengapa Barongsai Identik dengan Imlek?
Atraksi barongsai tersaji dalam memeriahkan perayaan Tahun Baru Imlek 2576 di pusat perbelanjaan Matos, Kota Malang, Jawa Timur pada Rabu (29/1/2025).
Kehadiran barongsai saat Tahun Baru Imlek berkaitan erat dengan kepercayaan bahwa suara keras dan warna cerah dapat menghalau pengaruh jahat (Nian). Tahun baru dianggap sebagai titik awal yang suci, sehingga perlu "dibersihkan" dari sisa energi buruk tahun sebelumnya.Secara garis besar, barongsai dipentaskan saat Imlek untuk:
- Menyambut awal tahun dengan energi positif.
- Mengusir nasib buruk dan gangguan simbolik.
- Mengundang keberuntungan dan kemakmuran.
- Menghidupkan suasana perayaan agar lebih semarak.
Dalam perkembangannya, terdapat dua aliran atau gaya besar dalam pementasan barongsai:
1. Gaya Selatan (Nan Shi)
Berasal dari wilayah Tiongkok Selatan, gaya ini lebih menekankan sisi ekspresif dan teatrikal. Pemain akan meniru perilaku alami singa seperti menggaruk badan, bermain, atau menggoyangkan kepala. Interaksi lucu dengan penonton sering menjadi bumbu dalam gaya ini.
2. Gaya Utara (Bei Shi)
Berbeda dengan selatan, gaya utara sangat kental dengan unsur seni bela diri. Gerakannya cenderung akrobatik, atletis, dan penuh dengan lompatan berbahaya serta formasi bertingkat. Kostum yang digunakan biasanya lebih sederhana untuk memudahkan ruang gerak teknis pemainnya.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kenapa Barongsai Identik dengan Imlek? Ini Sejarah dan Maknanya
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang